Kontroversi Lagu ‘Polisi yang Baik Hati,’ Masihkah Bangga Menjadi Slankers?

- Jurnalis

Minggu, 16 Juli 2023 - 16:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jumpa pers konser tur perayaan 25 Tahun Album Tujuh Slank di kawasan Tomang, Jakarta, Rabu (3/5/2023) [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]

Jumpa pers konser tur perayaan 25 Tahun Album Tujuh Slank di kawasan Tomang, Jakarta, Rabu (3/5/2023) [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]

1TULAH.COM-Dalam beberapa tahun belakangan ini, pamor Grup Band Slank sebagai musisi yang selalu menyuarakan suara arus bahwah banyak banyak diragukan masyarakat.

Terlebih dengan masuknya Abdee sang gitaris menjadi salah satu komisaris di dalam pemerintahan Jokowi. Label sebagai grup band pelat merah pun tersematkan ke Kaka dkk.

Palabelan grup band pelat merah ini kembali mencuat. Menyusul dengan rilisnya lagu terbaru Slank yang berjudul ‘Polisi yang Baik Hati.’ Lagu yang didedikasikan Slank dalam rangka HUT Polri ini, karuan menuai kontroversi hingga saat ini. So, masihkah bangga menjadi Slankers?

Slank baru saja merilis lagu berjudul “Polisi yang Baik Hati”, yang bertepatan dengan hari ulang tahun Polri. Namun gara-gara lagu ini, Bimbim, Kaka, Abdee, Ridho, dan Ivanka menuai kecaman dari masyarakat.

Slank dianggap sebagai band penjilat murahan dan tak peka dengan kondisi saat ini. Bagi sejumlah masyarakat, polisi masih dianggap sebagai institusi yang belum mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Apalagi dalam lagunya Slank terang-terangan membuat pujian. Seperti penggalan lirik di bawah ini:

“Polisi yang baik hati/Sahabat yang dicintai/Teman yang menyemangati/Kehadiranmu selalu dinanti.”

Hal ini tentu saja berbanding terbalik dengan imej Slank, di mana selama ini mereka kereap mengkritik kebijakan pemerintah dan condong membela rakyat. Simak saja misalnya lagu Slank berjudul “Hei Bung”, “Birokrasi Complex”, “Naik-Naik Ke Puncak Gunung”, “Aktor Intelktual”, “Pak Tani”, “Siapa yang Salah?”, Ham Burger”, “Missing Person (Trend Orang Ilang)” dan lainnya. Di mana lagu tersebut menyarakan kegelisahan rakyat terhadap penguasa.

Salah satu yang mengkritik Slank dengan lagu “Polisi yang Baik Hati” adalah musisi Aris Setyawan lewat cuitannya di akun @arissetyawan.

Baca Juga :  Kukuhkan ABPEDNAS Mura, Heriyus Harapkan Desa Semakin Kuat dan Mandiri

“Saya syok mendengar lagu ini, sambil mikir keras ternyata mereka bisa serendah ini,” tulis Aris Setyawan, Sabtu (15/7/2023).

Menurut Aris Setyawan, ia mengenal Slank sebagai band yang kritis dan kerap mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tak membela rakyat kecil.

“Siapa yang bisa menafikan politisnya lagu ‘Aktor Intelektual’ atau Poppies Lane Memory yang mengawang-awang dan menceritakan suasana ketika seseorang sedang high?,” kata Aris Setiawan.

Namun beberapa tahun belakangan, Slank dianggap memang mulai kehilangan identitasnya. Aris Setyawan sebagai sesama musisi bahkan sampai melabeli Kaka dan kolega sebagai band pelat merah.

“Semenjak Slank bilang golput itu cemen dan Abdee Negara menjadi komisaris Telkom, saya sudah mikir bahwa band ini layak mendapatkan label sebagai band pelat merah,” tutur Aris Setyawan.

Namun yang membuat publik tak habis pikir, para personel Slank bisa memunculkan ide membuat lagu untuk memuji kinerja salah satu institusi yang oleh masyarakat kecil dianggap bermasalah.

“Kok bisa Slank benar-benar merendahkan nilai mereka sebagai musisi yang pernah memiliki keberpihakan terhadap yang terpinggirkan, lalu memuja institusi yang sudah sejak lama tidak lagi mendapatkan kepercayaan dari masyarakat? Masak iya sih personel Slank tidak mainan Twitter dan ngecek tagar #PercumaLaporPolisi?,” ujar Aris Setyawan.

“Aduh pak, orang-orang aja harus viralin kasusnya dulu baru polisi mau turun tangan beresin kasus. Selalu dinanti dari mananya coba?,” imbuhnya.

Aris Setyawan bahkan tegas meminta Slank untuk berhenti bermusik daripada merusak identitas mereka sendiri dengan karya seperti lagu Polisi Yang Baik Hati.

“Ini sebuah lagu (penjilat) murahan yang menglorifikasi salah satu institusi paling bermasalah di negeri ini. Sudahlah, mungkin lebih baik kalian bubar dan pensiun saja, dari pada maksain tetap nge-band tapi jadi bahan tertawaan begini,” pungkas Aris Setyawan.

Baca Juga :  Suket Ijazah Wapres Gibran Tak Sah, PDIP Mulai Jajaki Hak Angket Lintas Fraksi

Selain Aris Setyawan, influencer Mazzini GSP lewat akun Twitter-nya, @mazzini_gsp juga ikutan mengkritik Slank. Menurutnya, lagu Slank berjudul “Polisi Baik Hati” tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

“Udah. Saran kalau mau bikin lagu lihat kondisi real. Banyak laporan mandeg, keluhan masyarakat soal penanganan juga selalu ada, kalau sigap harusnya selesai ditangani polsek/polres, ngapain orang ngomel di medsos supaya dapat perhatian dari mabes/polda, ini kan akibat di tingkat bawah enggak jalan. ‘Polisi yang baik hati siap siaga melindungi paling sigap melayani’. Lirik enggak cocok sama realita, harus diakui masih banyak celah yang harus dikritik dan perlu pebaikan buat Polri,” kata Mazzini.

“Sok banget!.. Bro, Slank itu sudah puluhan tahun buat lagu berdasarkan kondisi real, enggak usah lo saranin deh, mereka lebih paham kondisi daripada elo. Gue juga sudah dengar lagunya, dan menurut gue, di lagu ini, Slank sedang menggambarkan polisi ideal itu seperti apa dan bagaimana,” kata @MR_Ari***.

“Mungkin karena memang ada permintaan dari Porli min, makanya mereka buat lagu ‘Polisi yang Baik Hati’ itu. Makanya lagunya jelek soalnya bikinnya terpaksa wkwk,” komentar @76_hana***.

“Baca deh baik-baik liriknya:

Polisi yang baik hati

Senyum ramah manusiawi

Pembela rakyat sejati

Suka rela mengayomi

Semua orang pasti suka dengan polisi yang baik hati.

Kalau yang sering dikomplen sama masyarakat pasti bukan seperti yang digambarkan pada lagu di atas,” imbuh akun @stenlyssimo. (Sumber:Suara.com)

 

 

Berita Terkait

Bantah Intervensi Kasus Narkoba Anggota DPRD Jatim, Gerindra Ungkap Dugaan Oknum Polisi Minta Rp50 Juta
Pendaftaran MagangHub 2026 Batch 3 Ditutup Rabu 4 November, Kemnaker Imbau Segera Daftar
Pemerintah Matangkan Wacana Penyesuaian PTKP untuk Dongkrak Daya Beli, Siap Diterapkan 2027?
Situasi Keamanan Arab Saudi Memanas, Jadwal Piala Asia 2027 Terancam Diundur
Komisi III DPRD Kalteng Soroti Pemulihan Ekonomi dan Lingkungan Pascakarhutla: Dorong Aktivitas Warga Kembali Normal!
Menteri HAM Natalius Pigai Dorong Restorative Justice untuk Film “Pesta Babi” Dandhy Laksono
Buntut Video Viral di Terminal Kedamin, Kapolres Kapuas Hulu Siap Jalankan Hukum Adat
Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 14:44 WIB

Bantah Intervensi Kasus Narkoba Anggota DPRD Jatim, Gerindra Ungkap Dugaan Oknum Polisi Minta Rp50 Juta

Selasa, 3 November 2026 - 13:04 WIB

Pendaftaran MagangHub 2026 Batch 3 Ditutup Rabu 4 November, Kemnaker Imbau Segera Daftar

Selasa, 3 November 2026 - 06:48 WIB

Pemerintah Matangkan Wacana Penyesuaian PTKP untuk Dongkrak Daya Beli, Siap Diterapkan 2027?

Senin, 2 November 2026 - 18:32 WIB

Komisi III DPRD Kalteng Soroti Pemulihan Ekonomi dan Lingkungan Pascakarhutla: Dorong Aktivitas Warga Kembali Normal!

Minggu, 1 November 2026 - 13:23 WIB

Menteri HAM Natalius Pigai Dorong Restorative Justice untuk Film “Pesta Babi” Dandhy Laksono

Minggu, 1 November 2026 - 10:47 WIB

Buntut Video Viral di Terminal Kedamin, Kapolres Kapuas Hulu Siap Jalankan Hukum Adat

Minggu, 1 November 2026 - 08:19 WIB

Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan

Minggu, 1 November 2026 - 07:28 WIB

Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis

Berita Terbaru