Pantas Panasnya Luar Biasa! Bulan April Ini Lonjakan Suhu di Indonesia, Meski Masih Sering Hujan

- Jurnalis

Senin, 24 April 2023 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi peningkatan suhu panas.di Indonesia Meningkat Tajam! (unsplash)

Ilustrasi peningkatan suhu panas.di Indonesia Meningkat Tajam! (unsplash)

1TULAH.COM-Cuaca panas dan gerah dalam sebulan belakangan ini, terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

BMKG menyebutkan, pada bulan April memang terjadi peningkatan atau lonjakan suhu di Indonesia. Meskipun di beberapa wilayah seperti di Provinsi Kalimantan Tengah masih sering terjadi hujan.

Penyebab ada beragam, dari dinamika atmosfer yang tidak biasa hingga intensitas radiasi karena kurangnya awan.

Peningkatan suhu udara di Indonesia akhir-akhir ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Tak hanya suhu udara, namun juga perubahan cuaca secara mendadak menandakan Indonesia sudah masuk musim pancaroba. Apa penyebab kenaikan suhu di Indonesia?

Hal ini pun diungkap oleh pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Melalui Instagram @infobmkg, beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan suhu udara adalah sebagai berikut :

  1. Dinamika atmosfer yang tidak biasa

Suhu tinggi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya dinamika atmosfer yang tidak biasa.

Hal ini menyebabkan perubahan suhu secara ekstrem dan anomali alam seperti kekeringan dan hujan panas yang sering terjadi terutama di daerah sekitar lautan.

  1. Gerak semu matahari
Baca Juga :  Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia

Faktor kedua yang menyebabkan peningkatan suhu adalah gerak semu matahari. Biasanya, gerak semu matahari yang satu garis dengan garis khatulistiwa terjadi di bulan September hingga Oktober.

Namun, pergerakan matahari yang seolah olah bergerak dari utara ke selatan dan sebaliknya terjadi lebih cepat. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu terjadi di berbagai daerah, terutama daerah yang dilewati garis khatulistiwa terasa lebih panas dibanding tahun tahun sebelumnya.

BMKG pun mengungkap lonjakan panas di bulan April ini menjadi lonjakan suhu tertinggi yang terjadi sepanjang 2023.

  1. Fenomena heatwave

Terjadinya gelombang panas atau heatwave di berbagai negara di Asia Selatan seperti India dan Nepal ternyata berefek hingga ke Indonesia. Fenomena heatwave yang kerap terjadi di negara Asia Selatan menyebabkan suhu udara meningkat dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Fenomena heatwave ini pun tidak hanya menyebabkan gangguan pada keseimbangan ekosistem di lingkungan, namun juga menyebabkan banyak orang jatuh pingsan karena suhu yang terlalu tinggi.

  1. Angin monsun Australia

Adanya angin monsun Australia yang mendominasi di Indonesia juga menyebabkan suhu udara semakin meningkat dan terasa lebih kering. Tak hanya udara kering, angin monsun Australia ini juga menyebabkan proses pembentukan awan secara ilmiah terhambat, sehingga langit cenderung cerah tanpa awan.

  1. Intensitas radiasi karena kurangnya awan

Efek lain dari angin monsun adalah peningkatan intensitas radiasi yang menyinari bumi akibat berkurangnya awan yang terbentuk. Sebagai salah satu pelindung dari sinar UV, jumlah awan di langit juga kini sangat diperlukan karena sengatan matahari secara langsung menyebabkan masyarakat merasa suhu semakin tinggi dan menyebabkan kulit terasa lebih cepat terbakar.

BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mengurangi penggunaan barang elektronik secara berlebihan untuk mengurangi pemanasan global. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Terjun Langsung ke Palangka Raya, Sherina Munaf Ikut Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng
Karhutla Meluas Hingga Lintas Negara, Komnas HAM Tuding Pembiaran dan Lemahnya Tata Kelola Gambut
Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia
Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara
Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek
Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif
Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 18:05 WIB

Terjun Langsung ke Palangka Raya, Sherina Munaf Ikut Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng

Jumat, 4 September 2026 - 10:30 WIB

Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia

Jumat, 4 September 2026 - 07:40 WIB

Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Kamis, 3 September 2026 - 14:48 WIB

Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif

Kamis, 3 September 2026 - 14:35 WIB

Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Berita Terbaru