Empat Anak di Buntok Terserang DBD, Orang Tua Keluhkan Lambannya Penanganan Pemerintah

- Jurnalis

Rabu, 22 Februari 2023 - 06:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi nyamuk Aedes Aegepti penyebab penyakit DBD.

Foto: Ilustrasi nyamuk Aedes Aegepti penyebab penyakit DBD.

1tulah.com, BUNTOK-Wabah Demam Berdara Dengue (DBD) mengancam warga di Buntok, Kabupaten Barsel. Setidaknya, sejak awal Januari tahun 2023, sudah ada empat orang anak-anak di daerah setempat yang terserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), namun hingga saat ini belum ada penanganan serius dari pemerintah daerah setempat.

Hal tersebut membuat Alamsyah orang tua, dari Celcia Chindy Febriani (12), salah satu anak yang terserang penyakit tersebut mengeluhkan, tindak lanjut dari pemerintah daerah setempat, melalui intansi terkait yang dinilai lamban dalam menangani kasus tersebut.

“Sebab, waktu anak saya dinyatakan terkena DBD sejak berperiksa di klinik kesehatan sampai menjalani rawat inap, di rumas sakit setempat sampai ke luar, saya sudah meminta tim medis untuk melakukan penyemprotan fogging di lingkungan tempat saya tinggal, namun hingga saat ini belum juga terlaksana,” ujarnya kepada 1tulah.com saat ditemui di rumahnya jalan Kaladan, Buntok, Selasa (21/2/2023).

Ia mengungkapkan, kejadian bermula pada Senin 30 Januari 2023, anaknya mengeluhkan sakit kepala, hingga membuatnya tidak bisa berangkat ke sekolah. Awalnya dikira sakit kepala biasa lalu, pihaknya berinisiatif memberikan obat untuk meredakan sakit kepalanya.

Ia melanjutkan, sampai pukul 11.00 WIB, sakit kepalanya tak juga mereda, lalu pihaknya membawa ke rumah sakit setempat untuk diperiksa, setelah diperiksa, dokter menyatakan radang amandel atau tonsillitis, karena saat diperiksa tenggorokannya mengalami inflamasi atau peradangan.

“Selanjutnya anak saya diberi obat, lalu dokternya bilang kepada kami lihat perkembangannya selama tiga hari,” ungkapnya.

Alamsyah menambahkan, setelah tiga hari ternyata masih belum ada perkembangan tanda-tanda membaik, pihaknya kembali membawa anaknya ke Puskesmas setempat, untuk mendapatkan perawatan instentif, di puskesmas.

Karena dinyatakan radang amandel diperiksalah, dibagian umun Telinga Hidung Tenggorokan (THT).  “Setelah diperiksa ternyata kami disuruh rujuk ke rumah sakit setempat, setelah diperiksa, dokter minta sampel darah, setelah dapat sampel ternyata ada temuan gejala DBD,” katanya.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Tegaskan Penertiban Hutan Harus Transparan, Satgas PKH Soroti Tambang Ilegal

Ia menuturkan, ternyata setelah dokter melihat hasil laporan dari THT, trombositnya hanya 23.000 dibawah standard trombosit yakni 150.000-400.000, setelah dijelaskan ternyata itu artinya gejala DBD, selanjutnya bagian THT minta dipindahkan ke dokter anak.

“Setalah dokter anak membaca hasilnya dan memriksa anak saya, mereka meminta saya untuk rawat inap dirumah sakit beberapa hari untuk ditangani secara instensif,” tutur Alamsyah.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, kemungkinan dokter anak juga terkejut setelah melihat hasilnya, karena ini mungkin kasus DBD pertama bagi rumah sakit dan juga untuk Kabupaten Barsel.

“Allhamdulillah saat ini kondisi anak saya mulai membaik dan bisa kembali bersekolah, tapi tetap rutin check up setiap minggunya untuk memastikan virus tersebut hilang,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, seharusnya pemerintah daerah setempat melalui instansi yang membidangi kesehatan harus gerak cepat apabila ada ditemukan kasus DBD.

Karena berdasarkan informasi dari pihak Puskesmas setempat bahwa di lingkungan jalan Kaladan, Kelurahan Buntok Kota selain Celcia Chindy Febriani sudah ada tiga anak lainnya yang terkena DBD.

Alamsyah meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barsel agar tidak menganggap remeh kasus DBD yang menjangkiti anaknya, dengan harapan pemerintah daerah segera gerak cepat jika ada ditemukannya kasus DBD terhadap anak-anak lainnya.

“Sekali lagi kami mohon kepada Pemerintah agar segera menindaklanjuti kasus DBD ini, jangan sampai menunggu penderita DBD lainnya yang terjangkit baru dilakukan pencegahan atau penanggulangan,” kata Alamsyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Barsel drg. Daryomo Sukiastomo saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membenarkan bahwa saat ini memang ada beberapa kasus DBD di daerah setempat, dan saat ini para pasien dalam proses penyembuhan.

“Maka dari itu penting bagi kita semua untuk senantiasa menjaga kebersihan terutama kebersihan lingkungan apalagi saat ini musim penghujan,” pintanya.

Baca Juga :  Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan

Ia mengatakan, jaga jangan sampai ada air yang tergenang di kaleng-kaleng, botol kosong, ban-ban bekas dan benda-benda yang dapat menampung air, disitulah biasanya tempat berkembang biak nyamuk.

Ia menjelaskan, kasus DBD mengalami peningkatan karena terjadi peralihan antara musim panas dengan musim penghujan atau pancaroba, musim peralihan inilah biasanya populasi nyamuk mulai bertambah, sehingga membuat kasus tersbut mengalami peningkatan.

Sebab, lanjutnya, di musim pancaroba tidak hanya DBD saja tapi juga berbagai penyakit lainnya yang dapat menyerang siapa pun tanpa pandang bulu, tapi saat ini yang paling sering terjangkit penyakit adalah anak-anak.

Ia menerangkan, DBD adalah penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegepti yang membawa virus dengue dan terdapat 4 jenis virus dengue, yakni virus DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

“Ketika nyamuk pembawa virus DBD menggigit anak-anak, kemungkinan ia akan mulai mengalami gejala DBD dalam 4-7 hari setelahnya, kemunculan gejala ini dikategorikan dalam tiga fase perkembangan penyakit yang disebut “Siklus Pelana Kuda” fase demam tinggi, fase kritis (demam turun), dan fase penyembuhan (demam naik lagi),” terangnya.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa dr. Yomi ini menejelaskan, apabila anak yang terkena DBD perlu minum banyak air putih untuk menurunkan demamnya, meredakan nyeri otot, juga sekaligus mencegah risiko dehidrasi dan syok, maka dari itu pastikan anak-anak mendapatkan asupan cairan setiap beberapa menit, jangan tunggu sampai anak haus.

“Maka dari itu kita harus mengenali ciri-ciri gejala DBD pada anak sejak dini, yaitu demam tinggi secara tiba-tiba, mual, muntah, sakit kepala, badan lemas, muncul bintik-bintik kemerahan, nyeri sendi dan otot, dan bagian belakang bola mata terasa nyeri,” kata drg. Daryomo Sukiastomo. (Alifansyah)

 

Berita Terkait

Bahaya Kabut Asap, DPRD Kalteng Minta Pemda Batasi Kegiatan di Ruang Terbuka
Indeks Perkembangan Harga di Seruyan Berstatus Naik
Wabup Ajak ASN Semakin Aktif Ikuti Pembinaan Rohani
Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar
Diskominfosandi Seruyan Optimalkan Starlink, Perkuat Layanan Publik di Wilayah Blank Spot
Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sekolah PJJ, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara
Gunung Ile Lewotolok di NTT Dua Kali Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 600 Meter di Atas Puncak
Realisasi Anggaran Pemprov Kalteng Baru 38 Persen, DPRD Desak Percepatan Lelang Proyek

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 16:01 WIB

Bahaya Kabut Asap, DPRD Kalteng Minta Pemda Batasi Kegiatan di Ruang Terbuka

Senin, 7 September 2026 - 15:58 WIB

Indeks Perkembangan Harga di Seruyan Berstatus Naik

Senin, 7 September 2026 - 15:35 WIB

Wabup Ajak ASN Semakin Aktif Ikuti Pembinaan Rohani

Senin, 7 September 2026 - 14:03 WIB

Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar

Senin, 7 September 2026 - 11:01 WIB

Diskominfosandi Seruyan Optimalkan Starlink, Perkuat Layanan Publik di Wilayah Blank Spot

Senin, 7 September 2026 - 09:02 WIB

Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sekolah PJJ, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara

Senin, 7 September 2026 - 08:51 WIB

Gunung Ile Lewotolok di NTT Dua Kali Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 600 Meter di Atas Puncak

Minggu, 6 September 2026 - 17:01 WIB

Realisasi Anggaran Pemprov Kalteng Baru 38 Persen, DPRD Desak Percepatan Lelang Proyek

Berita Terbaru

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Haykal Kamil Pilih Batalkan Pekerjaan Demi Keselamatan. Instagram @
haykalkamil

Entertainment

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Haykal Kamil Tingkatkan Kewaspadaan

Senin, 7 Sep 2026 - 16:14 WIB

Plt Sekda Seruyan, dr. Bacrun Abbas, bersama OPD terkait saat mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual di Ruang Rapat Asisten Sekretariat Daerah Kabupaten Seruyan, Senin (7/9).

Seruyan

Indeks Perkembangan Harga di Seruyan Berstatus Naik

Senin, 7 Sep 2026 - 15:58 WIB