Gema Alhamdulillah dari Kios Sembako: Kisah Pensiunan PNS Menjemput Berkah Bersama TASPEN

- Jurnalis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PRODUKTIF DI HARI TUA - Pensiunan PNS Dinas Sosial Seruyan, Pak Soeyamto (73), saat menata barang dagangan di kios sembakonya di Desa Persil Raya, Seruyan Hilir, Kalimantan Tengah, Jumat (30/10/2026). Jaminan masa tua dari TASPEN memberikan ketenangan finansial bagi beliau untuk tetap aktif dan mandiri di masa purnabakti.

PRODUKTIF DI HARI TUA - Pensiunan PNS Dinas Sosial Seruyan, Pak Soeyamto (73), saat menata barang dagangan di kios sembakonya di Desa Persil Raya, Seruyan Hilir, Kalimantan Tengah, Jumat (30/10/2026). Jaminan masa tua dari TASPEN memberikan ketenangan finansial bagi beliau untuk tetap aktif dan mandiri di masa purnabakti.

Penulis : Nordin

1TULAH.COM, SERUYAN – Bunyi koin yang dimasukkan ke dalam kaleng biskuit bekas, terdengar khas dari sebuah kios. Di balik etalase kaca yang memajang jajaran sabun dan pewangi pakaian di Jl. Letjen S. Parman, Desa Persil Raya, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, seorang pria lanjut usia tersenyum dengan sangat tulus. Tangan keriputnya menyerahkan sebungkus kerupuk seharga seribu rupiah kepada seorang anak kecil.

“Terima kasih ya, Nak. Alhamdulillah. Alhamdulillah ya Allah, alhamdulillah,” ucap pria itu berulang kali. Kalimat thayyibah itu meluncur ringan dari bibirnya, seolah telah menjadi bagian dari keseharian yang tak pernah kehilangan makna.

Bagi sebagian orang yang baru pertama kali singgah di kios sembako ini, reaksi tersebut mungkin terasa berlebihan. Menjual sebungkus kerupuk dengan keuntungan tidak seberapa, tetapi disambut dengan puluhan ucapan syukur yang mengalir deras. Namun, bagi warga sekitar, pemandangan itu adalah oase harian. Pria itu adalah Pak Soeyamto, seorang kakek berusia 73 tahun yang memilih menghabiskan masa tuanya dengan cara yang tidak biasa. Dia mengabdi pada rasa syukur melalui sebuah kios kecil berukuran 3×4 meter. Kios dengan tembok berwarna hijau muda itu dibangun persis di depan rumahnya.

Lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 1953, Pak Soeyamto muda memutuskan untuk merantau membelah lautan menuju Pulau Kalimantan pada 1979. Langkah pertamanya membawanya ke Barito Timur sebagai Tenaga Kerja Sukarela Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela (TKS Butsi). Siapa sangka, tanah Borneo inilah yang kemudian menjadi ladang pengabdian panjang hidupnya. Sebelum resmi diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia bahkan sempat mencicipi getir dan manisnya menjadi tenaga honorer selama delapan tahun.

Ketulusan dan kerja keras membawanya melangkah jauh. Pak Soeyamto tercatat mendedikasikan hidupnya sebagai PNS selama 31 tahun 6 bulan, dengan tempat pengabdian terakhir di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Seruyan. Di instansi yang mengurusi kesejahteraan sosial masyarakat itulah ia bergelut dengan urusan kemanusiaan hingga memasuki masa purnabakti pada 1 November 2011 dengan pangkat terakhir yakni Pembina Golongan IVa.

Kini, setelah puluhan tahun bergulat dengan meja birokrasi, hidup Pak Soeyamto telah memasuki fase purnabakti yang damai. Bersama sang istri tercinta yang setia menemani, hidupnya kini berfokus pada tiga hal utama: beribadah, menjaga kesehatan dengan berolahraga, dan mengelola kios sembakonya.

Kios kecil miliknya ini didirikan murni agar ia tetap memiliki aktivitas positif di hari tua. “Buka kios ini biar ada kegiatan saja di rumah, biar badan tetap bergerak dan tidak pikun. Kalau ingin liburan atau kangen anak-cucu, kios tinggal dikunci, bahkan bisa tutup sampai satu bulan,” ujarnya terkekeh.

Pak Soeyamto juga bercerita, ia memiliki tiga anak perempuan dan dua cucu. Semua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di kota yang berbeda dengan beliau dan sang istri. Pak Soeyamto membangun kios ini secara bertahap dari hasil menyisihkan kelebihan dana pensiun bulanannya. Awalnya barang yang dijual sangat terbatas, namun kini modal syukur itu telah mewujud menjadi warung yang lumayan lengkap, meski jumlah barangnya tetap dibatasi agar tidak merepotkan fisiknya yang mulai senja.

Baca Juga :  Bukan Agenda Sesaat, Pemkab Seruyan Ajak Warga Jadikan Gotong Royong Kebiasaan Berkelanjutan

Jejak Panjang Menuju Purnabakti: Perjalanan 12 Jam Mengurus SK Pensiun

Sebagai pensiunan senior yang memasuki masa purnabakti pada akhir 2011, Pak Soeyamto menyimpan memori mendalam tentang bagaimana rumitnya urusan birokrasi masa lalu. Ia mengenang kembali momen ketika harus mengurus berkas awal masa purnabaktinya 15 tahun silam. Jauh sebelum sistem administrasi kepegawaian bisa diakses secara terintegrasi dan digital seperti hari ini, pengurusan dokumen krusial mengharuskan adanya kehadiran fisik secara langsung.

Saat mengurus persyaratan pensiun, Pak Soeyamto harus menempuh perjalanan lintas provinsi menuju Kantor Regional (Kanreg) VIII Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Seruyan dan Banjarbaru dipisahkan oleh jarak sekitar 600 kilometer. Perjalanan darat bisa ditempuh dalam waktu sekitar 12 jam bahkan lebih tergantung kondisi jalan. Dengan menumpang mobil travel, Pak Soeyamto harus menempuh perjalanan panjang yang menguras tenaga dan biaya. Terlebih kala itu, jalan poros masih belum mulus seperti sekarang. Parahnya ketika musim hujan, banyak genangan air yang membuat kendaraan roda empat terjebak berjam-jam lamanya di satu titik dan membuat perjalanan jadi terhambat.

Perjalanan itu bukan hanya sekali dilakukannya. Ia harus bolak-balik ke Banjarbaru hingga dua kali untuk mengurus berkas persyaratan pensiun. Berkas yang telah dikumpulkan di Seruyan dibawa ke Kanreg VIII BKN, sebelum diteruskan ke Jakarta untuk proses penetapan Surat Keputusan (SK) pensiun.

“Badan rasanya sudah lelah duluan. Harus datang langsung, bawa berkas fisik, dan sedia tenaga ekstra menembus belasan jam perjalanan darat ke Kalimantan Selatan. Terlebih umur saya yang tidak muda lagi. Pokoknya capek,” kenang Pak Soeyamto.

Lantas, bagaimana dengan layanan proses administrasi bagi pegawai yang memasuki masa purnabakti saat ini? Penulis kemudian memperlihatkan informasi dari laman MyASN BKN kepada Pak Soeyamto mengenai perkembangan layanan kepegawaian berbasis digital. Ia mengangguk saat mendengar penjelasan tersebut. Meski telah memasuki masa purnabakti sejak 2011, ia mengaku memperoleh informasi tentang Penetapan Pensiun Otomatis (PPO) dari rekan-rekannya yang baru pensiun. “Iya, betul sekarang lebih mudah. Saya dapat info dari kawan-kawan yang baru pensiun,” ujar Pak Soeyamto.

Kenyamanan dan Pelayanan Sepenuh Hati

Terkait layanan TASPEN, satu hal yang membuat Pak Soeyamto merasa terbantu adalah kemudahan dalam menerima dana pensiun. Di tengah maraknya layanan digital berbasis smartphone, TASPEN tetap menyediakan pilihan pembayaran melalui mitra bayar, sehingga pensiunan seperti dirinya dapat memilih layanan yang sesuai dengan kebutuhan. Pak Soeyamto memilih menerima dana pensiun bulanannya melalui Kantor Pos Kuala Pembuang. Pilihan itu lahir dari alasan yang sederhana, tetapi penting baginya yang menginginkan kemudahan, kenyamanan, dan rasa aman dalam menjalani masa purnabakti.

Baca Juga :  Peminat Bantuan Bedah Rumah di Seruyan Diperkirakan Melebihi Kuota 248 Unit

” Dulu pertama kali dana pensiun saya ambil di Bank Kalteng. Karena padatnya antrean di awal bulan dan saya khawatir menggunakan kartu ATM, maka tempat pengambilan dipindahkan ke Kantor Pos Kuala Pembuang. Namanya orang tua, saya gaptek, takut salah pencet tombol di mesin atau HP,” akunya sembari tertawa lepas.

Pilihan ini justru menjadi berkah kenyamanan tersendiri baginya. Kantor Pos Kuala Pembuang terletak sangat dekat, hanya berjarak sekitar satu kilometer dari rumah beliau. Setiap bulan, beliau cukup berjalan kaki sekaligus berolahraga menuju kantor pos tersebut. Di sana proses verifikasi data dan pencairan dibantu oleh petugas dengan ramah dan cepat. Lebih dari itu, menurut beliau, pihak Kantor Pos memberikan keistimewaan berupa antrean prioritas bagi kelompok lanjut usia. Pak Soeyamto tidak perlu berdiri lama dan menguras tenaga, karena para lansia selalu didahulukan dalam pelayanan. “Sangat cepat prosesnya,” imbuhnya.

Kepastian adanya jaminan dana pensiun berkala yang dikelola secara profesional oleh TASPEN ini katanya, membawa ketenangan jiwa (peace of mind) yang luar biasa bagi Pak Soeyamto. Karena tidak memiliki utang operasional kios, ia tidak pernah pusing memikirkan omzet harian.

Ketenangan finansial itulah yang menjadi alasan mengapa ucapan “Alhamdulillah” bisa mengalir begitu lancar, ikhlas, dan berulang-ulang dari bibirnya, bahkan hanya untuk transaksi seribu rupiah. “Saya selalu menghargai sekecil apapun rezeki dari Allah,” tambahnya.

Puluhan tahun telah ia berikan untuk pengabdian. Kini, di sebuah kios kecil berukuran 3 x 4 meter, Pak Soeyamto menjalani babak kehidupan yang berbeda. Tak ada lagi seragam dinas yang dikenakannya, tak ada lagi tugas kantor yang menunggu diselesaikan. Yang tersisa adalah kenangan panjang tentang pengabdian, keluarga yang menjadi sandaran, dan rasa syukur yang tak pernah lelah ia ucapkan, bahkan dari hasil penjualan kerupuk seribu rupiah.

Selama suara Alhamdulillah masih terdengar dari kios kecil di Persil Raya itu, kisah Pak Soeyamto mengingatkan kita bahwa di balik setiap pengabdian yang telah ditunaikan, ada kehidupan yang tetap layak dijaga martabatnya. Sebab, negara tak hanya dikenang dari apa yang dimintanya selama seseorang mengabdi, tetapi juga dari bagaimana ia menghargai orang-orang yang telah selesai mengabdi.

“Alhamdulillah.”

 

 

 

Penulis : Nordin

Berita Terkait

Bukan Agenda Sesaat, Pemkab Seruyan Ajak Warga Jadikan Gotong Royong Kebiasaan Berkelanjutan
Peminat Bantuan Bedah Rumah di Seruyan Diperkirakan Melebihi Kuota 248 Unit
Bandara Kuala Pembuang Diusulkan Masuk PSN, Alternatif Penerbangan Saat Kabut Asap
Kantor Disnakertrans Seruyan Basah Pascakebakaran, Kondisi Berkas Belum Dipastikan
Kabar Baik! Korban Kebakaran di Seruyan Disiapkan Bantuan Rp50 Juta
Seruyan Dapat 248 Unit Rumah melalui Program Tiga Juta Rumah
Karhutla Mengancam TNTP, Bupati Seruyan dan TNI Turun Langsung ke Titik Api
Alumni Servant Leadership Batch 2 Diharapkan Jadi Motor Penggerak Perubahan di Seruyan

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:19 WIB

Gema Alhamdulillah dari Kios Sembako: Kisah Pensiunan PNS Menjemput Berkah Bersama TASPEN

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Bukan Agenda Sesaat, Pemkab Seruyan Ajak Warga Jadikan Gotong Royong Kebiasaan Berkelanjutan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Peminat Bantuan Bedah Rumah di Seruyan Diperkirakan Melebihi Kuota 248 Unit

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:32 WIB

Bandara Kuala Pembuang Diusulkan Masuk PSN, Alternatif Penerbangan Saat Kabut Asap

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:03 WIB

Kantor Disnakertrans Seruyan Basah Pascakebakaran, Kondisi Berkas Belum Dipastikan

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:35 WIB

Kabar Baik! Korban Kebakaran di Seruyan Disiapkan Bantuan Rp50 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:04 WIB

Seruyan Dapat 248 Unit Rumah melalui Program Tiga Juta Rumah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:32 WIB

Karhutla Mengancam TNTP, Bupati Seruyan dan TNI Turun Langsung ke Titik Api

Berita Terbaru