Ekonomi Global Terguncang! Iran Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Brent Tembus 107 Dolar AS

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 14:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi harga minyak dunia (Shutterstock)

Ilustrasi harga minyak dunia (Shutterstock)

1TULAH.COM-Stabilitas ekonomi dunia kini berada di ambang krisis besar. Teheran secara resmi menjadikan blokade total Selat Hormuz sebagai senjata utama untuk melawan tekanan militer dan sanksi ekonomi Amerika Serikat. Langkah ekstrem ini diambil setelah jalur diplomasi dianggap buntu dan hilangnya kepercayaan Iran terhadap Washington.

Dampaknya tidak main-main. Pasar energi internasional langsung bereaksi dengan lonjakan harga minyak yang signifikan, memicu kekhawatiran akan resesi global yang lebih luas.

“Menginjak Tenggorokan Dunia”: Ancaman Nyata dari Iran

Ketegangan mencapai puncaknya setelah pejabat tinggi Iran mengeluarkan pernyataan keras. Wakil Ketua Parlemen Iran, Ali Nikzad, menegaskan posisi strategis negaranya dalam mengontrol jalur perdagangan maritim paling vital di dunia.

“Kami menyadari jika kami menginjak tenggorokan Selat Hormuz dan Bab al-Mandab, 25% ekonomi dunia akan terdampak,” ujar Ali Nikzad dalam pernyataan resminya.

Pernyataan ini bukan gertakan semata. Secara geografis, Selat Hormuz adalah jalur utama bagi jutaan barel minyak mentah yang dikirim setiap harinya. Penutupan jalur ini otomatis memutus rantai pasok energi ke berbagai negara industri besar.

Harga Minyak Dunia Meroket Tajam

Melansir data terbaru dari CNN, harga minyak mentah internasional mencatat kenaikan yang mengkhawatirkan:

  • Minyak Brent: Kini menyentuh angka 107,58 dolar AS per barel.

  • Minyak Mentah AS (WTI): Merangkak naik hingga mencapai 96,36 dolar AS per barel.

Baca Juga :  Serap Aspirasi di Kotim dan Seruyan, Ferry Khaidir: Warga Dapil II Mayoritas Minta Perbaikan Infrastruktur Dasar

Di tingkat konsumen, dampaknya sudah mulai terasa nyata. Data dari AAA menunjukkan harga rata-rata bensin kini berada di angka 4,10 dolar AS per galon. Angka ini merepresentasikan lonjakan sekitar 27% sejak konflik ini bermula dua bulan lalu.

Diplomasi Buntu: Pezeshkian vs Trump

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan secara tegas bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan sepihak. Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan, Pezeshkian menuduh Amerika Serikat sebagai dalang di balik rumitnya dialog perdamaian.

“Iran tidak akan pernah mau mengikuti perundingan yang didasari atas paksaan,” tegas Pezeshkian. Teheran menuntut satu syarat mutlak: penghentian blokade angkatan laut Amerika di pelabuhan Iran sebelum ada kesepakatan apa pun.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump merespons dengan membatalkan pengiriman utusan khusus ke Islamabad secara mendadak. Trump berdalih adanya perselisihan internal di kepemimpinan Teheran, meski kenyataannya Iran memang menolak mentah-mentah ajakan bicara langsung tanpa pencabutan sanksi terlebih dahulu.

Baca Juga :  Prabowo Targetkan Tutup hingga 800 BUMN Merugi demi Hemat Anggaran Triliunan Rupiah

Tabel Dampak Ekonomi Krisis Selat Hormuz 2026

Komoditas/Indikator Harga Saat Ini Persentase Kenaikan
Minyak Mentah Brent 107,58 dolar AS / barel Signifikan
Minyak Mentah WTI 96,36 dolar AS / barel Signifikan
Harga Bensin Konsumen (AS) 4,10 dolar AS / galon 27%
Volume Perdagangan Terdampak 25% Ekonomi Global

Akar Konflik dan Masa Depan Energi Global

Krisis ini berakar dari sengketa panjang kedaulatan maritim dan sanksi ekonomi yang kian mencekik Iran. Bagi Teheran, menutup Selat Hormuz adalah akumulasi kekecewaan terhadap pelanggaran kesepakatan yang berulang kali dilakukan oleh pihak Barat.

Tanpa adanya terobosan diplomasi yang berarti dalam waktu dekat, stabilitas energi global diprediksi akan terus berada dalam ketidakpastian. Jika blokade berlanjut, dunia mungkin harus bersiap menghadapi era energi mahal yang dapat melumpuhkan sektor manufaktur dan transportasi secara global.

Dunia kini menanti apakah Amerika Serikat akan menurunkan tensi militernya atau justru tekanan ini akan membawa kawasan Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih luas, yang pada akhirnya akan menghancurkan stabilitas ekonomi yang sudah rapuh. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Isu Gerindra Awasi Pergerakan Wapres Gibran Dipastikan Hoaks, Fraksi Bakal Layangkan Somasi
DPRD Kalteng Desak Penguatan Industri Pengolahan untuk Dongkrak Nilai Tambah SDA Daerah
Prabowo Targetkan Tutup hingga 800 BUMN Merugi demi Hemat Anggaran Triliunan Rupiah
Gaji Rp14 Juta Masuk Kategori MBR, Kelas Menengah Kini Berhak Dapat Rumah Subsidi?
Bawaslu Bartim Gandeng IWO dan PWI, Bangun Sinergi Demi Informasi Pengawasan yang Akurat
Jelang Muktamar ke-35 PBNU, Cak Imin Tegaskan Oknum Politik Praktis Harus Didepak
DPRD Kalteng: Pembangunan Inklusif 2026 Adalah Kunci Kesejahteraan Merata
Pertemuan Tertutup Megawati Institute: Soroti Etika Publik dan Demokrasi Sehat
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 09:11 WIB

Isu Gerindra Awasi Pergerakan Wapres Gibran Dipastikan Hoaks, Fraksi Bakal Layangkan Somasi

Rabu, 24 Juni 2026 - 04:05 WIB

DPRD Kalteng Desak Penguatan Industri Pengolahan untuk Dongkrak Nilai Tambah SDA Daerah

Rabu, 24 Juni 2026 - 03:57 WIB

Prabowo Targetkan Tutup hingga 800 BUMN Merugi demi Hemat Anggaran Triliunan Rupiah

Selasa, 23 Juni 2026 - 11:43 WIB

Gaji Rp14 Juta Masuk Kategori MBR, Kelas Menengah Kini Berhak Dapat Rumah Subsidi?

Selasa, 23 Juni 2026 - 06:17 WIB

Bawaslu Bartim Gandeng IWO dan PWI, Bangun Sinergi Demi Informasi Pengawasan yang Akurat

Selasa, 23 Juni 2026 - 01:42 WIB

Jelang Muktamar ke-35 PBNU, Cak Imin Tegaskan Oknum Politik Praktis Harus Didepak

Senin, 22 Juni 2026 - 16:38 WIB

DPRD Kalteng: Pembangunan Inklusif 2026 Adalah Kunci Kesejahteraan Merata

Senin, 22 Juni 2026 - 16:33 WIB

Pertemuan Tertutup Megawati Institute: Soroti Etika Publik dan Demokrasi Sehat

Berita Terbaru