Sempat Terpuruk ke Rp17.100, Rupiah Hari Ini Bangkit ke Level Rp16.995

- Jurnalis

Kamis, 9 April 2026 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS. Desain Gemini AI.

Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS. Desain Gemini AI.

1TULAH.COM-TNilai tukar Rupiah mencatatkan rekor yang tidak diinginkan. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), mata uang Garuda resmi mencetak sejarah kelam dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS. Angka ini menjadi posisi terlemah sepanjang masa, memicu kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi nasional.

Anjloknya nilai tukar ini memicu pertanyaan besar: sejauh mana sinkronisasi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan kebijakan fiskal pemerintah mampu meredam “badai” ini?

Mengapa Rupiah Melemah Tajam?

Pelemahan drastis ini bukanlah fenomena tunggal domestik, melainkan hasil dari kombinasi faktor global yang sering disebut sebagai “The Perfect Storm” (Badai Sempurna). Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

1. Eskalasi Konflik Timur Tengah

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu ketidakpastian tinggi di pasar global. Kondisi ini memaksa para investor untuk menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia dan memindahkannya ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.

2. Lonjakan Harga Minyak Dunia

Konflik global telah melambungkan harga minyak mentah. Dalam asumsi APBN 2026, harga minyak dipatok sebesar USD70 per barel. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan harga telah menembus angka USD113 per barel. Lonjakan lebih dari 60% ini menjadi beban berat bagi fiskal Indonesia karena pembengkakan subsidi dan kompensasi energi.

Baca Juga :  Kabut Asap Kalteng Makin Pekat, DPRD Minta Dana Darurat Segera Dicairkan!

Strategi Bank Indonesia: Mode “Siaga Penuh”

Merespons kondisi darurat ini, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa Bank Indonesia kini berada dalam mode stabilitas.

“Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI),” tegas Destry.

BI akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter (OM) untuk menjaga volatilitas nilai tukar. Fokus BI saat ini bergeser sementara dari pengejaran pertumbuhan ekonomi demi menjaga agar Rupiah tidak jatuh lebih dalam.

Meskipun tertekan oleh harga minyak, Destry menambahkan bahwa Indonesia masih memiliki bantalan dari kenaikan harga komoditas lain seperti batu bara dan nikel, yang diharapkan dapat memberikan efek positif bagi neraca perdagangan.

Ketahanan APBN di Tengah Volatilitas

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi situasi ini dengan optimisme terukur. Menurutnya, level Rp17.000-an masih masuk dalam skenario simulasi makro pemerintah.

Pemerintah saat ini cenderung menghindari opsi penyesuaian harga BBM karena pertimbangan daya beli masyarakat yang masih lemah. Sebagai gantinya, langkah-langkah yang akan diambil meliputi:

  • Efisiensi belanja kementerian dan lembaga.

  • Realokasi anggaran untuk menjaga stabilitas fiskal.

  • Mandat penuh kepada BI sebagai otoritas yang ahli dalam stabilisasi mata uang.

Baca Juga :  Infrastruktur Pemukiman Jadi Keluhan Utama Warga Kalibata saat Reses Anggota DPRD Kalteng

Angin Segar: Rupiah Mulai Bangkit ke Level Rp16.995

Beruntung, “rekor kelam” di angka Rp17.100 tidak bertahan lama. Pada perdagangan Rabu (8/4/2026), Rupiah menunjukkan taringnya dengan menguat tajam.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.06 WIB, Rupiah melesat 110 poin (0,64%) ke level Rp16.995 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh:

  1. Sentimen Gencatan Senjata: Kabar mengenai langkah Donald Trump menunda ketegangan dengan Iran selama dua minggu.

  2. Penurunan Harga Minyak: Meredanya ketegangan geopolitik secara instan menurunkan harga minyak dunia.

  3. Pelemahan Indeks Dolar: Indeks dolar AS (DXY) terpantau turun ke level 98,9.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi bahwa pulihnya sentimen pasar akan terus mendukung penguatan Rupiah dalam jangka pendek, asalkan stabilitas geopolitik tetap terjaga.

Kejatuhan Rupiah ke level Rp17.100 adalah peringatan keras bagi ketahanan ekonomi Indonesia terhadap guncangan eksternal. Sinergi antara kebijakan moneter BI yang agresif dan manajemen fiskal pemerintah yang efisien menjadi kunci utama agar mata uang Garuda tidak kembali terperosok ke dalam sejarah kelam berikutnya. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Diikuti 264 Peserta, Turnamen Domino Orado KNPI Cup 2026 Sedot Antusiasme Warga Bartim
DPRD Kalteng Dorong Koperasi Desa Merah Putih Jadi Penampung Hasil Usaha Warga
Temui Presiden Prabowo, Panglima Jilah Bawa Aspirasi Masyarakat Adat Dayak
Berjalan Lancar, Seluruh Peserta Muktamar NU ke-35 Menerima LPJ PBNU
Dari Isu Nuklir hingga Lingkungan: 750 Pemuda Internasional Cari Solusi Global di AYIMUN
Banggar DPRD Kalteng dan TAPD Sepakati Tambahan Bagi Hasil Kab/Kota Rp186,71 Miliar di APBD 2027
Bupati Heriyus: Apkasi Expo Jadi Ajang Promosikan Potensi Murung Raya
Soroti Kredibilitas Pemerintah, Eks Direktur BAIS TNI Desak Presiden Prabowo Segera Evaluasi Kabinet
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Diikuti 264 Peserta, Turnamen Domino Orado KNPI Cup 2026 Sedot Antusiasme Warga Bartim

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:23 WIB

DPRD Kalteng Dorong Koperasi Desa Merah Putih Jadi Penampung Hasil Usaha Warga

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:14 WIB

Temui Presiden Prabowo, Panglima Jilah Bawa Aspirasi Masyarakat Adat Dayak

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:24 WIB

Berjalan Lancar, Seluruh Peserta Muktamar NU ke-35 Menerima LPJ PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:32 WIB

Dari Isu Nuklir hingga Lingkungan: 750 Pemuda Internasional Cari Solusi Global di AYIMUN

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:11 WIB

Bupati Heriyus: Apkasi Expo Jadi Ajang Promosikan Potensi Murung Raya

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:36 WIB

Soroti Kredibilitas Pemerintah, Eks Direktur BAIS TNI Desak Presiden Prabowo Segera Evaluasi Kabinet

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:44 WIB

Muktamar ke-35 NU Resmi Dibuka, Presiden Prabowo Tegaskan Tak Intervensi

Berita Terbaru