Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari, Begini Cara Menyikapinya Menurut MUI

- Jurnalis

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah Cholil Nafis. [YouTube/PadasukaTV]

Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah Cholil Nafis. [YouTube/PadasukaTV]

1TULAH.COM-Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada tahun 2026, masyarakat Indonesia diimbau untuk bersiap menghadapi potensi perbedaan awal tanggal berpuasa.

Perbedaan ini muncul akibat adanya keberagaman metode penghitungan (hisab) dan pemantauan hilal (rukyat) yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam serta pemerintah.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, memberikan penjelasan mendalam mengenai dinamika astronomi ini agar masyarakat tetap tenang dan bijaksana.

Prediksi Perbedaan: 18 Februari vs 19 Februari 2026

Berdasarkan analisis data astronomi terbaru, Kiai Cholil menyebutkan bahwa kemungkinan besar umat Muslim di Indonesia tidak akan memulai puasa secara serentak.

“Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari ini menggunakan hisab sekaligus kalender global,” ujar Kiai Cholil di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Secara garis besar, terdapat dua kelompok besar dalam penentuan ini:

  1. Kelompok 18 Februari 2026: Menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal atau berpatokan pada Kalender Islam Global.

  2. Kelompok 19 Februari 2026: Kemungkinan besar diikuti pemerintah dan organisasi yang menggunakan kriteria MABIMS (imkanur rukyat).

Baca Juga :  Polri Absen Rapat Konflik Agraria, KPA Desak Komisi III DPR Panggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Mengapa Bisa Berbeda? Memahami Kriteria MABIMS

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama kini merujuk pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria ini menetapkan standar baru agar hilal dinyatakan sah untuk terlihat:

  • Ketinggian Hilal: Minimal 3 derajat.

  • Elongasi: Minimal 6,4 derajat.

Kiai Cholil menerangkan bahwa pada saat pemantauan nanti, posisi hilal diprediksi masih berada di bawah 3 derajat.

Berdasarkan kaidah sains dan fikih imkanur rukyat, posisi tersebut sangat sulit atau tidak mungkin untuk diamati secara visual. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga 1 Ramadan jatuh pada hari berikutnya.

Pesan Sejuk MUI: Perbedaan Adalah Rahmat

Menyikapi fenomena khilafiyah (perbedaan pendapat) ini, KH M Cholil Nafis menekankan pentingnya kedewasaan berpikir bagi seluruh lapisan masyarakat. Beliau menggarisbawahi beberapa poin penting:

1. Menjaga Ukhuwah Islamiyah

Perbedaan dalam masalah furu’iyah (cabang ibadah) tidak boleh merusak persaudaraan sesama Muslim. Persatuan umat jauh lebih utama daripada perdebatan teknis penanggalan.

Baca Juga :  Kabut Asap Kalteng Makin Pekat, DPRD Minta Dana Darurat Segera Dicairkan!

2. Menjadikan Perbedaan sebagai Ladang Ilmu

Masyarakat diajak untuk mempelajari konsep wihdatul mathali’ (satu mathla untuk seluruh dunia) dan wilayatul hukmi (perbedaan mathla lokal). Ini adalah khazanah keilmuan Islam yang sudah ada sejak lama.

3. Fokus pada Kualitas Ibadah

Apapun keputusan yang diikuti, yang terpenting adalah menjalankan ibadah Ramadan dengan penuh kekhusyukan dan niat karena Allah SWT.

“Jadikan ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak,” pungkas pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah tersebut.

Ringkasan Perbandingan Metode

Aspek Metode Hisab Global / Wujudul Hilal Metode Imkanur Rukyat (MABIMS)
Dasar Penentuan Perhitungan astronomis matematis. Perhitungan yang didukung bukti visual (rukyat).
Prediksi 1 Ramadan Selasa, 18 Februari 2026. Rabu, 19 Februari 2026.
Kriteria Hilal sudah di atas ufuk saat matahari terbenam. Hilal minimal 3° dan elongasi 6,4°.

Berita Terkait

Kemendikdasmen: TKA SMA 2026 Tidak Wajib, Tapi Berdampak ke Rapor Sekolah
Presiden Prabowo Minta Perda Karhutla Dicabut, Organisasi Sabang Merah Borneo Minta Solusi Konkret
Ratusan Hektare Lahan di Palangka Raya Terbakar, Status Tanggap Darurat Karhutla Diperpanjang
Infrastruktur Pemukiman Jadi Keluhan Utama Warga Kalibata saat Reses Anggota DPRD Kalteng
Aturan Masa Jabatan Kapolri Digugat ke MK: Celah Intervensi Politik dan Ancaman Independensi
Selamat, El Family A Juara Mini Turnamen Domino Orado
Alarm Korupsi di Menara Gading: Catatan Merah ICW 2006–2025
Tragedi di Tengah Kepulan Asap: Saat Rumah Bekantan Musnah
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:57 WIB

Kemendikdasmen: TKA SMA 2026 Tidak Wajib, Tapi Berdampak ke Rapor Sekolah

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:48 WIB

Presiden Prabowo Minta Perda Karhutla Dicabut, Organisasi Sabang Merah Borneo Minta Solusi Konkret

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Ratusan Hektare Lahan di Palangka Raya Terbakar, Status Tanggap Darurat Karhutla Diperpanjang

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Aturan Masa Jabatan Kapolri Digugat ke MK: Celah Intervensi Politik dan Ancaman Independensi

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:56 WIB

Selamat, El Family A Juara Mini Turnamen Domino Orado

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:41 WIB

Alarm Korupsi di Menara Gading: Catatan Merah ICW 2006–2025

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Tragedi di Tengah Kepulan Asap: Saat Rumah Bekantan Musnah

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Kadin A Bentrok El Family A di Final Turnamen Domino Orado Bloc Bee

Berita Terbaru

Bupati Barito Utara H. Shalahuddin bersama rombongan meninjau progres pembangunan Jembatan Tumpung Laung

Muara Teweh

Pembangunan Jembatan Tumpung Laung Ditargetkan Selesai 2028

Selasa, 25 Agu 2026 - 20:45 WIB