Batas Akhir 9 Juli: Nasib Ekspor Indonesia ke AS di Ujung Tanduk Akibat Ancaman Tarif 32%!

- Jurnalis

Jumat, 4 Juli 2025 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/8) [Antara/Sigid Kurniawan].

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/8) [Antara/Sigid Kurniawan].

1TULAH.COM-Waktu terus berjalan, dan nasib ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) kini berada di ujung tanduk. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan kekhawatirannya terkait negosiasi tarif antara Indonesia dan AS yang akan mencapai batas akhirnya pada 9 Juli 2025.

Jika tidak ada kesepakatan, Sri Mulyani memperingatkan, ini akan berdampak serius pada kinerja ekspor Indonesia yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Ancaman Tarif Resiprokal 32%: Dampak Serius bagi Ekonomi Indonesia

Indonesia saat ini menghadapi ancaman tarif resiprokal sebesar 32% dari AS, sebuah angka yang cukup fantastis dan berpotensi memukul daya saing produk Indonesia di pasar Paman Sam. Hasil negosiasi hingga kini masih belum diumumkan, meninggalkan ketidakpastian yang membayangi para eksportir.

“Ekspor kita harus tetap dijaga pada kisaran mendekati 7%. Kita selama ini ekspornya cukup baik di sekitar 6-6,5%, jadi untuk ekspor relatif mungkin terjaga,” kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (3/7/2025) malam yang dilihat secara virtual.

Baca Juga :  Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Namun, ia menambahkan dengan nada khawatir, “Kecuali kalau pelaksanaan dari tarifnya Presiden Trump yang tanggal 9 Juli ini adalah deadline terakhir. Kita sudah lihat Vietnam sudah mendapatkan deal (sepakat), Indonesia belum diumumkan, Jepang mendapatkan hukuman yang lebih tinggi tarifnya. Jadi ini masih sangat tidak pasti dari sisi tarif dan kemudian berdampak pada kinerja ekspornya.”

Pernyataan ini menggarisbawahi betapa gentingnya situasi. Kesenjangan informasi dan hasil yang berbeda-beda bagi negara-negara lain, seperti Vietnam yang sudah mendapatkan kesepakatan dan Jepang yang justru terkena tarif lebih tinggi, menambah kompleksitas dan ketidakpastian bagi Indonesia.

Peran Ekspor dalam Pertumbuhan Ekonomi

Sri Mulyani tidak ragu menyinggung bahwa ekspor merupakan salah satu komponen pengeluaran vital yang berkontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7%-5% pada tahun 2025, ekspor harus mampu tumbuh di level 5,4%-6,4%.

Baca Juga :  KPK Pastikan Asap di Gedung Merah Putih Bukan Kebakaran

Bahkan, ambisi pemerintah tak berhenti di situ. Untuk tahun 2026, agar pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,2%-5,8%, maka pertumbuhan ekspor harus mampu naik lebih tinggi lagi, pada level 6,5%-6,8%.

Jika penerapan tarif 32% oleh AS benar-benar terjadi, biaya tambahan yang harus ditanggung eksportir Indonesia akan membuat produk kita kurang kompetitif dibandingkan dengan negara lain yang mungkin mendapatkan perlakuan tarif lebih rendah. Hal ini tentu akan mempersulit pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan.

Keputusan yang akan diambil AS pada 9 Juli mendatang akan menjadi penentu penting bagi arah kebijakan perdagangan dan ekonomi Indonesia ke depan. Akankah Indonesia berhasil menyusul Vietnam untuk mendapatkan kesepakatan yang menguntungkan, atau justru harus bersiap menghadapi “badai tarif” yang berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional? Semua mata kini tertuju pada hasil negosiasi diplomatik yang krusial ini. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!
Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital
Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun
Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta
Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap
Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 12:02 WIB

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 17:02 WIB

Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta

Rabu, 2 September 2026 - 13:39 WIB

Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap

Rabu, 2 September 2026 - 13:31 WIB

Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik

Berita Terbaru