1TULAH.COM-Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kini semakin marak dan modus operandi para pelakunya pun terus berkembang. Generasi Z yang melek digital namun belum memiliki pekerjaan dan perempuan menjadi sasaran utama para pelaku TPPO.
Kasus ribuan mahasiswa Indonesia yang menjadi korban TPPO pada bulan Mei lalu masih menjadi ingatan pahit. Sebanyak 1.047 mahasiswa dari 33 kampus di seluruh Indonesia tergiur janji dua perusahaan rekrutmen yang masuk kampus untuk mensosialisasikan program magang Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM).
Mereka diiming-imingi gaji tinggi dan pengalaman kerja di luar negeri, namun kenyataannya terjerumus ke dalam skema perdagangan manusia.
Modus baru TPPO ini memanfaatkan keterbukaan informasi di era digital dan keinginan generasi Z untuk mendapatkan pengalaman kerja internasional.
Para pelaku TPPO menargetkan mereka melalui media sosial, platform lowongan pekerjaan online, dan bahkan dengan mendatangi kampus secara langsung.
Perempuan juga menjadi sasaran empuk karena seringkali dianggap lebih mudah dimanipulasi dan dieksploitasi. Mereka diiming-imingi pekerjaan dengan gaji tinggi, namun kenyataannya terjebak dalam jeratan perdagangan seks, kerja paksa, atau pernikahan paksa.
Berbicara dalam diskusi publik “Menuntut Hak atas Pemulihan Bagi Korban TPPO” Rabu lalu (3/7/2024), Sekjen Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Gina Sabrina mengatakan jika semula korban TPPO adalah warga miskin dan berpendidikan rendah, kasus “Ferienjob” membuka mata banyak kalangan.
“Terakhir, kasus praktik pemagangan di Jerman, FerienJob, kalau masih ingat itu salah satu modus yang mematahkan analisa deretan kasus TPPO selama ini. Ferienjob mengeksploitasi mahasiswa bermodus magang, namun bekerja tidak sesuai keahlian pendidikan yang dimiliki. Menjerat semua kalangan akademisi perguruan tinggi. Kita perlu mewaspadai taktik dan strategi jaringan TPPO agar bisa diungkap dan diberantas.”
Yang lebih menyedihkan, kata Gina, 95% korban adalah perempuan.Dari 982 aduan dan 1.361 tersangka pelaku yang ditangkap, diketahui bahwa korban TPPO didominasi oleh mereka yang hanya mengenyam pendidikan hingga SD (33%), SMP (33%), SMA (11%), dan tidak menyelesaikan pendidikan (22%).
Migrant Care: Pelaku Mulai Merambah ke Pendidikan Tinggi
Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan situasi minimnya lapangan kerja, terutama pasca perebakan luas Covid-19, telah dimanfaatkan oleh sindikat perdagangan orang untuk menjerat korban. Pelaku kini mulai merambah ke pendidikan tinggi yang sangat segera ingin bekerja dan mudah diiming-imingi.
“Kita koar-koar soal teknologi digital, Gen Z, dan lainnya. Data BPS melansir ada 9 juta Gen Z menganggur. Ini fakta soal bonus demografi yang justru menjadi ironi. Kalau selama ini korban TPPO itu miskin, dari pedesaan, pendidikan rendah; kini korban berasal dari perkotaan, secara ekonomi bukan miskin, educated, lulusan sarjana dari kampus, dan lainnya. Ini ironi!,” tukasnya.
Mereka-mereka yang berpendidikan ini merasa tidak mungkin dapat tertipu, apalagi ketika mendapat informasi soal bekerja di luar negeri, tambah Wahyu.
“Sektor digital yang kemudian menjadi iming-iming mereka untuk bisa kerja ke luar negeri, ternyata justru digunakan untuk kejahatan. Mereka dipaksa melakukan scamming online atau judi online.”
Mabes Polri telah membentuk dan mengaktifkan Satgas TPPO Polri pada Juni 2023, yang sejauh ini telah berhasil mengungkapkan ratusan kasus dan menyeret para pelaku ke muka hukum. Tetapi fokus penanganan hukum masih pada kedua hal itu, belum ada upaya untuk memulihkan kondisi korban dan memberikan kompensasi.
Satgas TPPO Polri, Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) dan organisasi masyarakat sipil masih mencari mekanisme terbaik untuk menggabungkan upaya memberantas TPPO dan menyeret pelaku, sambil memenuhi hak korban untuk mendapatkan restitusi dan kompensasi lewat perubahan kebijakan dan penanganan. Ini merupakan pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan untuk menuntaskan masalah TPPO.
Beberapa tips untuk menghindari TPPO:
- Waspadalah terhadap tawaran kerja yang tidak masuk akal, seperti gaji tinggi tanpa pengalaman atau kualifikasi yang memadai.
- Lakukan riset mendalam tentang perusahaan atau organisasi yang menawarkan pekerjaan.
- Jangan mudah tergiur dengan iming-imingi yang berlebihan.
- Selalu beritahu keluarga atau orang terdekat tentang rencana Anda untuk bekerja di luar negeri.
- Gunakan platform lowongan pekerjaan terpercaya dan pastikan Anda mengetahui detail pekerjaannya dengan jelas.
- Pelajari tentang hak-hak Anda sebagai pekerja migran dan bagaimana cara menuntut jika Anda merasa dieksploitasi.
Mari bersama-sama kita lawan TPPO dengan meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan. (Sumber:voaindonesia.com)

![Salah satu episode di Ini Talkshow Net TV. [YouTube Net TV]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/sule-360x200.jpg)


















![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)



