Polri Usut Dugaan Penyimpangan Data Siswa Sekolah Rakyat, Banyak Anak Orang Mampu Masuk Kuota

- Jurnalis

Rabu, 9 September 2026 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Lampung yang berada di Kotabaru, Kabupaten Lampung Selatan, telah menerima 330 siswa baru untuk memulai kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran baru 2026/2027. [ANTARA]

Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Lampung yang berada di Kotabaru, Kabupaten Lampung Selatan, telah menerima 330 siswa baru untuk memulai kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran baru 2026/2027. [ANTARA]

1TULAH.COM-Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan program Sekolah Rakyat. Monitoring ketat ini diterjunkan langsung untuk mengantisipasi potensi penyelewengan anggaran sejak tahap awal pembangunan.

Kasubdit III Direktorat Pencegahan Kortastipidkor Polri, Kombes Fernando, mengungkapkan bahwa penetapan data desil siswa menjadi salah satu celah paling rawan penyimpangan. Padahal, fasilitas Sekolah Rakyat sedianya hanya diperuntukkan bagi kelompok desil 1 dan 2 yang tergolong dalam kategori miskin ekstrem.

“Penentuan desil 1 dan desil 2 saja kami waktu itu cek ke lapangan. Langsung cek ke lokasi, uji petik di beberapa tempat,” ujar Fernando kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).

Uji petik tersebut dilakukan di beberapa lokasi, di antaranya wilayah Jakarta Selatan dan Bogor. Dari penelusuran di lapangan, tim pencegahan menemukan indikasi ketidaktepatan sasaran.

Temuan di Lapangan: Punya M-Banking hingga Orang Tua Beromzet Puluhan Juta

Dari hasil wawancara mendalam dengan beberapa siswa, tim mendapati sejumlah murid Sekolah Rakyat kedapatan memesan makanan melalui layanan ojek daring hingga mengoperasikan rekening m-banking pribadi.

Baca Juga :  Benarkah "Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi"? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sebagian siswa ternyata berasal dari keluarga mampu. Orang tua mereka diketahui memiliki dua warung kelontong, berpenghasilan hingga Rp20 juta per bulan, dan mendiami rumah berfasilitas empat kamar.

“Masuk Sekolah Rakyat. Fakta itu, riil itu saya. Nah, pertanyaan saya, penentuan desil 1 desil 2 ini dari mana? Akhirnya saya koordinasi ke BPS. Ini salah satu temuan kami, kami sudah kasih rekomendasi tolong dipastikan masalah desil,” tegas Fernando.

Perencanaan Dinilai Terburu-buru

Fernando menilai pelaksanaan tahap awal pembukaan Sekolah Rakyat terkesan tergesa-gesa demi mengejar target kuota siswa. Hanya dalam tempo tiga bulan, perencanaan pembangunan 165 sekolah yang menelan anggaran hingga triliunan rupiah langsung dipaksakan berjalan.

Baca Juga :  Ribuan Warga Antarkan Nadalsyah, Bupati Mura Heriyus Turut Hadir

Padahal, semangat utama dari program ini adalah mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan.

“Nah, tujuan Sekolah Rakyat itu kan memuliakan masyarakat miskin, sehingga rangkaian itu, bapak orang tuanya itu miskin, jangan sampai anaknya juga ikut-ikut miskin. Tapi masa depannya lebih baik lagi,” kata Fernando.

Soroti Risiko Pengadaan Logistik dan Seragam

Selain ketepatan data penerima, Kortastipidkor Polri menyoroti sektor pengadaan logistik seperti seragam sekolah yang dinilai sangat riskan terjadi penyelewengan.

Salah satu temuan yang mencolok adalah ketidaksesuaian antara harga dan kualitas barang, khususnya pada komoditas sepatu siswa.

“Pengadaannya banyak sekali. Seragam siswa aja dari kepala, topi, kemeja aja lengan pendek, ada lengan panjang, ada kaos, ada celana dalam, ada pakaian dalam, ada kaos kaki. Yang rekan-rekan temukan yang sepatu,” tandas Fernando. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi
Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla
Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax
Prabowo dan Presiden Mesir Sepakati Penguatan Pendidikan: Beasiswa, Riset, hingga Exchange Dosen
Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo
Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia
Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?
Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal
Tag :

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:04 WIB

Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Pemkab Mura Harapkan KNPI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah

Berita Terbaru

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Seruyan, Megawati, saat menghadiri penutupan DSEF 2026 di Dermaga Desa Sembuluh II, Kecamatan Danau Sembuluh, Sabtu (10/10/2026).

Seruyan

Pemkab Apresiasi DSEF 2026, Harus Diagendakan Setiap Tahun

Senin, 12 Okt 2026 - 20:13 WIB