Pada 23 April 2026, ada peristiwa yang mungkin luput dari perhatian banyak orang, namun sangat penting bagi masa depan energi di Kalimantan Tengah. Tim Manajemen Riset dan Inovasi Daerah Regional 7 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkunjung ke Muara Teweh, ibu kota Kabupaten Barito Utara.
Kedatangan tim BRIN ini disambut langsung oleh Sekretaris Daerah Barito Utara, Drs. Muhlis, MAP. Dalam sambutannya, ia menyebut kunjungan ini sebagai momentum penting untuk berkolaborasi mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) di daerahnya (Batarasatu, 24 April 2026). Pernyataan Sekda ini membuka sebuah pertanyaan besar: setelah BRIN datang, apa langkah nyata yang akan diambil Barito Utara? Terlebih, daerah ini sedang menghadapi tiga tekanan besar sekaligus: krisis geopolitik, krisis iklim, dan tuntutan regulasi nasional.
Kekayaan yang Membelenggu
Barito Utara adalah daerah yang secara objektif kaya akan sumber daya alam. Sektor tambang batu bara menyumbang 35,53 persen PDRB pada 2025. Dalam diskusi ekonomi, kondisi ini disebut resource abundance — kelimpahan yang secara potensial bisa menjadi mesin kemakmuran.
Namun data BPS Barito Utara (2026) menunjukkan fakta lain. Angka kemiskinan di daerah ini justru naik, dari 5,35 persen (2023) menjadi 5,52 persen (2025). Pertumbuhan ekonomi juga melambat, dari 5,03 persen (2024) menjadi 3,12 persen (2025).
Inilah yang diidentifikasi oleh Richard Auty (1993) sebagai resource curse atau kutukan sumber daya alam: daerah kaya SDA justru tumbuh lebih lambat dan lebih timpang. Sachs & Warner (1995) kemudian menguji secara empiris dan menemukan bukti kuat bahwa kelimpahan sumber daya cenderung menghambat pertumbuhan jangka panjang jika tidak diimbangi diversifikasi dan tata kelola yang baik.
Kelimpahan dan kutukan bukanlah dua hal yang bertentangan. Kelimpahan adalah kenyataan. Kutukan adalah risiko yang bisa terjadi — dan Barito Utara mulai menunjukkan gejalanya.
Tiga Tekanan yang Memaksa Perubahan
Mengapa kita tidak bisa lagi mengandalkan model ekonomi lama? Ada tiga alasan:
Pertama, geopolitik dan kelangkaan energi. Konflik di Timur Tengah serta ketegangan di Selat Hormuz membuat harga BBM tidak menentu. Sekda secara terbuka mengakui bahwa Barito Utara masih bergantung pada energi konvensional dan terdampak langsung oleh dinamika global. Beliau juga mengingatkan bahwa gas dari Blok Bangkanai (20 juta kaki kubik per hari) dan batubara adalah sumber daya tak terbarukan yang suatu saat akan habis (Batarasatu, 2026).
Kedua, krisis iklim dan El Nino Godzilla. Musim kemarau ekstrem mengganggu sumber daya air dan PLTA. Namun saat seperti ini, sinar matahari (energi surya) sebagai energi alternatif justru melimpah-ruah. Lalu, apakah panel surya benar-benar bekerja optimal saat cuaca terik?
Setidaknya, dua penelitian ilmiah di Indonesia menjawab pertanyaan ini:
Usman (2020) menguji panel surya 10 Wp di Tegal, Jawa Tengah. Hasilnya: pada intensitas cahaya 6.900 lux, arus yang dihasilkan hanya 0,02 ampere. Namun pada intensitas 121.100 lux (siang terik), arus melonjak menjadi 0,53 ampere — naik lebih dari 25 kali lipat. Kesimpulannya: semakin besar intensitas cahaya, semakin besar pula arus dan tegangan yang dihasilkan.
Pelawi, Armansyah, & Husna (2021) menguji panel surya 100 Wp di Medan, Sumatera Utara — skala yang lebih mendekati kebutuhan rumah tangga. Mereka melakukan pengukuran selama 6 hari penuh, dari jam 08.00 hingga 18.00. Hasilnya: intensitas cahaya tertinggi terjadi antara jam 11.00–13.00 (98.700–118.400 lux), dan daya keluaran tertinggi mencapai 16,86 watt pada intensitas 118.000 lux. Yang tak kalah penting, mereka mencatat bahwa dalam kondisi cerah, penyerapan energi optimal bisa mencapai 7 jam per hari, sedangkan saat mendung kurang dari 5 jam.
Apa artinya bagi Barito Utara? El Nino membawa lebih banyak hari cerah. Artinya, mikro-solar justru akan bekerja lebih lama dan lebih produktif dibandingkan musim normal. Ini adalah peluang, bukan ancaman.
Ketiga, regulasi energi terbarukan yang sedang marak. Pemerintah pusat tengah menggenjot target 100 GW PLTS, menyederhanakan izin, dan mendorong program koperasi surya untuk 80.000 desa (Kompas, 5 Agustus 2025). Dengan demikian, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, dan listrik yang dihasilkan lebih ramah lingkungan. Langkah ini juga menjadi upaya untuk mendorong swasembada energi dan mendukung transisi energi. Bahkan PLN telah membuktikan di Sumenep bahwa PLTS 2 MW + baterai mampu menghemat 1,1 juta liter solar per tahun (PLN, 2025).
Mikro-Solar: Sebuah Usulan Kebijakan
Di tengah tekanan-tekanan itu, mikro-solar (PLTS atap skala rumah tangga) hadir sebagai peluang strategis. Teknologi ini murah, cepat dipasang, dan sudah terbukti efektif. Dengan radiasi matahari rata-rata 4,5–4,8 kWh per meter persegi per hari — yang setara dengan intensitas cahaya puluhan ribu lux — setiap atap rumah di Barito Utara berpotensi menghasilkan 300–500 kWh per bulan.
BRIN sudah datang dengan membawa riset dan pendampingan. Sekda sudah membuka pintu. Regulasi pusat sudah berpihak. Penelitian ilmiah dari Indonesia (Usman, 2020; Pelawi dkk., 2021) sudah membuktikan secara empiris bahwa intensitas cahaya berbanding lurus dengan output listrik. Yang diperlukan sekarang adalah terjemahan ke dalam program nyata.
Sebagai bahan diskusi, kami menyampaikan usulan sederhana:
1. Menambahkan “Gerakan Surya Atap Batara” sebagai salah satu program unggulan daerah.
2. Target awal 5.000 rumah — sekitar 10 persen dari total 50.579 pelanggan PLN (data BPS, 2026).
3. Melibatkan koperasi desa, pesantren, dan Balai Latihan Kerja yang sudah direncanakan.
4. Memanfaatkan regulasi nasional dan pendampingan BRIN yang sudah tersedia.
5. Langkah ini tidak memerlukan investasi besar dari APBD. Skema kredit lunak, bagi hasil, atau kerja sama dengan pihak ketiga sangat memungkinkan.
Penutup
Micro-solar bukanlah solusi tunggal untuk semua masalah Barito Utara. Namun di tengah krisis geopolitik, ancaman iklim, dan dinamika regulasi yang mendukung, ia adalah peluang strategis yang sayang jika dilewatkan.
Kunjungan BRIN tujuh hari lalu adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan. Sumber daya fosil tidak akan kembali. Dua penelitian ilmiah di bidang panel surya telah membuktikan bahwa cahaya matahari yang melimpah di musim kemarau adalah berkah, bukan bencana.
Pertanyaan sekarang bukan lagi “apakah Barito Utara siap?” tapi “kapan dimulai?”
Penulis : Fahmi R Kubra

![Presiden Prabowo Subianto dan Bahlil Lahadalia di resepsi pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju pada Minggu, 26 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/kondangan-360x200.jpg)
![El Rumi dan Syifa Hadju [Instagram/elrumi]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/EL-RUMI-NIKAH-360x200.jpg)
![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)




![Terdakwa kasus dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikat K3 di Kementerian Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer bersiap menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/1/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/sgd/wsj]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/noel-ancam-225x129.jpg)







![Terdakwa kasus dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikat K3 di Kementerian Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer bersiap menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/1/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/sgd/wsj]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/noel-ancam-360x200.jpg)








