OLEH: Ronald Aprianto, S.IP, MA
Di SETIAP kota, selalu ada segelintir orang yang tetap menulis dalam sunyi dan diam, ketika yang lain memilih bersuara. Semua sah saja mengekspresikan kehendak, entah dalam diam maupun suara.
Mereka yang percaya bahwa kebenaran tidak selalu datang dengan gebyar, melainkan dengan ketekunan. Menatap peristiwa dari dekat, mendengarkan nafas masyarakatnya, dan menyusun kalimat tanpa kemarahan, tapi juga tanpa takut. Seperti di Muara Teweh, di jantung Kabupaten Barito Utara, nama H Deni Hariadi, SE, adalah salah satu dari sedikit yang memilih berjalan di jalan sunyi itu, menggoyang pena mencurahkan ide.
Pada 3 November 2025, dalam Konferensi XI PWI Kabupaten Barito Utara, suara koleganya sesama wartawan menegaskan kepercayaan mereka untuk menghantarkan sosok Deni terpilih sebagai Ketua PWI Barito Utara periode 2025–2028 dengan meraih 14 suara, mengungguli pesaing utama yang memperoleh 9 suara.
Bagi sebagian orang, peristiwa itu bukan sekadar kemenangan organisatoris, melainkan tanda bahwa generasi baru jurnalis lokal tengah mencari bentuk keseimbangannya, bergerak antara profesionalisme dan keakraban sosial.
Bukan figur baru di arena berita, Deni Hariadi, adalah wartawan senior yang pernah berkarya di Kalteng Pos (2002–2015) dan sejak 2015 aktif di media daring 1tulah.com miliknya sendiri. Seorang yang dikenal kerap membimbing wartawan muda dalam memahami etika dan disiplin ruang redaksi.
Dia tumbuh dari tradisi lapangan bersama mitra senior Bang Melky demikian sohibnya itu biasa dipanggil.
Menulis berita bukan untuk mengejar sensasi, tapi untuk menghadirkan suara publik yang sering terlupakan.
H Deni membawa visi yang sederhana tetapi tegas.
Dalam pidato pendaftarannya, tercatat ia menekankan pentingnya memperbanyak Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan menjalankan tata kelola keuangan organisasi secara transparan. Dua hal yang kerap menjadi barang langka di dunia yang berubah serba cepat dan sarat kepentingan.
Sebab atau mungkin karena itu, rekan-rekannya menaruh harapan kepadanya, ketika memutuskan memberi suara bagi kemenangannya hingga didapuk sebagai ketua PWI terpilih. Sepertinya banyak yg meyakini, di bawah kepemimpinan Bung Deni ini, organisasi wartawan Barito Utara akan kembali menjadi rumah belajar yang jujur, bukan sekadar papan nama di dinding.
Semua mafhum, zaman telah berubah. Media sosial membuat berita seolah tak punya waktu untuk menua. Esensi jurnalisme tak pernah berubah. Keberpihakan pada kebenaran dan nurani.
Maka langkah kini, bukan untuk melawan arus digital, melainkan saling menuntun sesama rekan wartawan agar tak kehilangan arah di tengah pusaran modernitas.
Sepertinya Bung Deni menyadari itulah tantangan sekaligus peluang di era kepemimpinannya. Sayup terdengar kabar, bahwa dia berbicara tentang integritas, tetapi dalam nada yang tak menggurui. Ia bicara tentang regenerasi, tapi lebih suka mencontohkannya daripada memerintahkannya.
Momentum resmi kepemimpinannya dikukuhkan pada pelantikan pengurus 13 November 2025, disaksikan oleh berbagai pihak dari pemerintah daerah, tak tanggung-tanggung dua sosok penting Barito Utara Pak H Shalahuddin, ST, MT dan H Gogo turut hadir. Sejumlah rekan media, dan perwakilan lembaga sosial. Ucapan selamat kita dan dari banyak pihak, disampaikan baginya dan dalam keyakinan senyap, kita sendiri yakin bahwa periode ini insyallah akan menjadi ruang kerja yang tenang, namun produktif.
Sebagai seorang wartawan senior Bung Deni pastinya dia sangat mengerti, kepemimpinan di PWI bukan jabatan untuk selalu meminta sorotan. Melainkan panggilan kerja sunyi, menjaga solidaritas di tengah keberagaman media lokal yang kadang saling riuh bersaing dan bersahutan.
Namun disitulah justru maknanya. Karena kita yakin bahwa dia sendiri mengerti, kepemimpinan bukan soal selalu tampil di depan, melainkan memastikan semua orang di belakang tetap bisa melangkah.
Jika kelak sejarah kecil jurnalisme Barito Utara ditulis, mungkin namanya akan berulang disebut di antara paragraf yang tenang, di bawah subjudul transisi kepemimpinan PWI. Kita yakin namanya akan disebut sebagai sosok yang menjaga bara perjuangan tetap menyala, cahayanya menerangi ruang redaksi, dan sebagian nurani publik.
Pada akhirnya, barangkali itulah arti kepemimpinan sejati. Bukan untuk selalu disorot dan dominan menguasai panggung, tetapi menyalakan cahaya. Selama cahaya itu terus menyala, di Barito Utara akan selalu ada jurnalis yang menulis dengan hati yang jernih.
Sekali lagi kedua kalinya kita ucapkan selamat mengabdi, selamat memimpin PWI Barito Utara 2025-2028. Semoga apa yg diniatkan dan dimohonkan dengan frekuensi langit, maka insyaallah akan didengar langit (Tuhan YME).
Selamat menunaikan ibadah Salat Jumat bung H Deni Hariadi, SE. 🤝🙏🏻 (*)
Penulis adalah seorang ASN di Pemerintah Kabupaten Barito Utara sekaligus pengamat sosial keorganisasian
—————————————
Editor: Aprie

![Willy Dozan mengaku tak bisa lagi melakukan adegan ekstrem dalam film. Penyebabnya karena dia mengalami pengapuran di kaki. [Rena Pangesti/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/02/willy-dozan-360x200.jpg)




![Dokter Detektif alias Doktif saat konferensi pers di Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu, 7 Januari 2026. [Suara.com/Rena Pangesti]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/02/doktif-225x129.jpg)





![Dokter Detektif alias Doktif saat konferensi pers di Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu, 7 Januari 2026. [Suara.com/Rena Pangesti]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/02/doktif-360x200.jpg)










