Menkeu Purbaya Sebut Kritik Ekonomi Cuma ‘Noise’ TikTok, Bagaimana Faktanya?

- Jurnalis

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

48% ekonom nilai ekonomi RI memburuk & terancam stagflasi akibat inflasi tinggi. Foto (Gemini AI)

48% ekonom nilai ekonomi RI memburuk & terancam stagflasi akibat inflasi tinggi. Foto (Gemini AI)

1TULAH.COM-Pertarungan narasi mengenai kondisi ekonomi Indonesia di semester I-2026 kian memanas. Di satu sisi, para akademisi melalui instrumen ilmiahnya memberikan peringatan dini akan adanya pelemahan. Di sisi lain, pemerintah berdiri kokoh dengan data pertumbuhan yang dianggap masih di atas rata-rata.

Survei Ekonomi LPEM UI: Sinyal Bahaya Stagflasi?

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia baru saja merilis Survei Ahli Ekonomi Semester I-2026. Hasilnya cukup kontras dengan klaim keberhasilan yang sering didengungkan otoritas fiskal dan moneter.

Berdasarkan survei terhadap 85 ahli ekonomi, ditemukan fakta bahwa:

  • 48% ekonom menilai kondisi ekonomi memburuk hingga jauh lebih buruk.

  • Rata-rata respons skor -0,39, yang mengindikasikan persepsi stagnasi menuju penurunan.

  • Tren negatif ini telah tercatat selama tiga periode survei berturut-turut sejak 2025.

3 Faktor Utama Pemicu Sentimen Negatif

Para pakar menggarisbawahi tiga masalah krusial yang saling mengunci pergerakan ekonomi nasional:

  1. Inflasi yang “Mengganas”: Sebanyak 67% responden melihat tekanan harga barang dan jasa terus naik. Dengan tingkat keyakinan 7,60 dari 10, daya beli masyarakat berada dalam ancaman serius.

  2. Pasar Tenaga Kerja Mengetat: 56% ekonom menyoroti minimnya lapangan kerja baru dan stagnasi upah yang membuat pendapatan rumah tangga merosot.

  3. Investasi Layu Sebelum Berkembang: Indikator bisnis jatuh ke angka -0,67, menandakan gairah ekspansi usaha yang sempat muncul di awal tahun kini meredup.

Baca Juga :  Gerindra Minta Semua Pihak Tak Seret Presiden Prabowo di Kasus Febrie Adriansyah, Sentil Hotman Paris

“Kombinasi pertumbuhan yang stagnan dan inflasi yang meninggi memicu kekhawatiran nyata akan ancaman stagflasi di Indonesia,” tulis laporan tersebut.

Respons Keras Presiden Prabowo: “Pengamat Tidak Patriotik”

Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik tersebut dengan nada tegas. Beliau menyinyalir adanya motif di balik narasi pesimistis yang berkembang di ruang publik.

  • Motivasi Politik & Ekonomi Gelap: Presiden menyebut adanya dugaan koruptor yang mendanai pengamat tertentu untuk menyebar kecemasan karena ketakutan terhadap langkah penertiban pemerintah.

  • Analog Kapal Besar: Prabowo mengimbau agar semua pihak bersatu. “Jika kapal (Republik Indonesia) ini oleng, maka semua di dalamnya terdampak. Kompetisi politik sudah selesai, sekarang saatnya bersatu,” tegasnya.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Kritik Itu Hanya “Noise” TikTok

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut membela fundamental ekonomi nasional. Menurutnya, narasi ekonomi hancur lebih banyak merupakan fenomena media sosial yang tidak berbasis data valid.

Baca Juga :  Bupati Lombok Barat Kena OTT KPK, Mendagri Tito Karnavian: Padahal Sudah Diingatkan Presiden

Data vs Persepsi

Purbaya merujuk pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai dasar optimisme pemerintah:

  • Pertumbuhan Kuartal IV-2025: Mencapai 5,39%.

  • Target Kuartal I-2026: Diproyeksikan mampu menembus 5,5%.

Menkeu juga sempat melontarkan pernyataan tajam mengenai kualitas perdebatan di ruang publik. Beliau menilai banyak pengkritik tidak memiliki latar belakang ekonomi formal namun merasa paling paham mengenai makroekonomi.

Realita di Persimpangan Jalan

Pertarungan data antara LPEM UI dan Kementerian Keuangan ini menyisakan pertanyaan besar bagi pasar dan investor. Apakah peringatan dari para akademisi merupakan early warning system yang harus diwaspadai, ataukah optimisme pemerintah adalah cerminan dari fundamental yang memang masih solid?

Bagi masyarakat umum, perdebatan angka ini mungkin terasa jauh. Fokus utama publik tetap pada satu titik: stabilitas harga kebutuhan pokok. Langkah nyata pemerintah dalam meredam inflasi di sisa tahun 2026 akan menjadi pembuktian akhir siapa yang benar dalam pertarungan narasi ini. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

KPK Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus untuk Tahanan Febrie Adriansyah
Lima Tersangka Ditetapkan Polisi Kasus Pengeroyokan Terduga Pencuri Ayam di Tabanan
DP3ADALDUKKB Mura Fokus Cegah Kasus Baru Stunting melalui Penguatan Kader
Awasi Distribusi Pupuk Bersubsidi di Kalteng: Komisi II DPRD Tekankan Pengawasan Berlapis demi Petani
Olah TKP Kasus Kematian Penjaga Rumah Febrie Adriansyah: Polisi Tegaskan Belum Temukan Racun
Kabur Usai Diskriminasi Warga Lokal di Bali, Duo WNA Belanda Resmi Dicekal Imigrasi
Potret Prabowo, SBY, dan Jokowi Duduk Semeja di Pernikahan Putra Boy Thohir
DPRD Kalteng Dorong OPD Percepat Digitalisasi: Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan Wajib!
Tag :

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 22:09 WIB

KPK Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus untuk Tahanan Febrie Adriansyah

Senin, 27 Juli 2026 - 22:08 WIB

Lima Tersangka Ditetapkan Polisi Kasus Pengeroyokan Terduga Pencuri Ayam di Tabanan

Senin, 27 Juli 2026 - 20:59 WIB

DP3ADALDUKKB Mura Fokus Cegah Kasus Baru Stunting melalui Penguatan Kader

Senin, 27 Juli 2026 - 18:29 WIB

Awasi Distribusi Pupuk Bersubsidi di Kalteng: Komisi II DPRD Tekankan Pengawasan Berlapis demi Petani

Senin, 27 Juli 2026 - 16:20 WIB

Olah TKP Kasus Kematian Penjaga Rumah Febrie Adriansyah: Polisi Tegaskan Belum Temukan Racun

Senin, 27 Juli 2026 - 11:51 WIB

Kabur Usai Diskriminasi Warga Lokal di Bali, Duo WNA Belanda Resmi Dicekal Imigrasi

Senin, 27 Juli 2026 - 11:43 WIB

Potret Prabowo, SBY, dan Jokowi Duduk Semeja di Pernikahan Putra Boy Thohir

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:38 WIB

DPRD Kalteng Dorong OPD Percepat Digitalisasi: Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan Wajib!

Berita Terbaru