Kabur Usai Diskriminasi Warga Lokal di Bali, Duo WNA Belanda Resmi Dicekal Imigrasi

- Jurnalis

Senin, 27 Juli 2026 - 11:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggagas Entourage Bali yang Diskriminasi WNI Suka Pindah-pindah Negara Gegara Ini [Instagram]

Penggagas Entourage Bali yang Diskriminasi WNI Suka Pindah-pindah Negara Gegara Ini [Instagram]

1TULAH.COM-Dua warga negara asing (WNA) asal Belanda, Joost Storms dan Hidde van Vliet, dilaporkan langsung melarikan diri meninggalkan Indonesia usai terseret pusaran kasus dugaan diskriminasi warga lokal pada sebuah acara olahraga di Bali.

Menanggapi tindakan tersebut, otoritas imigrasi Indonesia mengambil langkah tegas dengan menjatuhkan sanksi penangkalan atau larangan masuk kembali (cekal) ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penyelidikan mendalam kini terus berjalan untuk mengusut tuntas dugaan pelanggaran hukum dan norma sosial yang melibatkan kedua WNA tersebut.

Duduk Perkara Kontroversi Silent Disco Run Komunitas Entourage

Kasus ini memicu gelombang kritik publik setelah muncul laporan bahwa warga lokal atau warga negara Indonesia (WNI) dilarang ikut serta dalam kegiatan Silent Disco Run. Event olahraga kasual ini digelar oleh Entourage, sebuah komunitas khusus yang didirikan oleh Joost dan Hidde.

Sikap diskriminatif yang membatasi partisipasi warga lokal di tanah air sendiri dinilai melukai perasaan publik dan melanggar aturan tata krama pariwisata.

Baca Juga :  Damang dan Mantir Jadi Mitra Strategis Pemerintah dalam Pembangunan

Meskipun kedua tersangka diketahui telah angkat kaki dari Pulau Dewata menuju luar negeri sebelum penindakan fisik dilakukan, Direktorat Jenderal Imigrasi memastikan proses hukum tetap diproses secara serius.

Dirjen Imigrasi: Pelanggaran Kedaulatan, Seperti Negara dalam Negara

Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, memberikan pernyataan keras atas insiden yang mencoreng citra pariwisata ramah di Bali tersebut. Pihaknya menegaskan tidak akan memberikan toleransi sedikit pun terhadap warga asing yang berbuat ulah atau bersikap diskriminatif.

“Jika ada warga asing terlibat, mereka harus segera ditangkap,” tegas Hendarsam dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut, Hendarsam menyentil tindakan komunal eksklusif yang dijalankan oleh kelompok tersebut sebagai bentuk tindakan yang merendahkan hukum domestik.

“Ini seperti menciptakan negara dalam negara,” tambahnya mendeskripsikan tindakan yang dinilai melanggar kedaulatan aturan di Indonesia.

Latar Belakang Pelaku: Expat Digital Nomad di Bali

Sebelum memicu kontroversi, Joost Storms dan Hidde van Vliet dikenal cukup aktif membangun jaringan komunitas eksklusif bagi para pekerja jarak jauh (digital nomad) di kawasan Bali.

Baca Juga :  KPK Ungkap 27 Pihak dan 313 PIHK Terima Aliran Dana Kasus Kuota Haji

Berdasarkan penelusuran dari laporan Business Insider, Hidde van Vliet awalnya merupakan seorang profesional yang meninggalkan karier mapan di Eropa demi berburu gaya hidup ekspatriat di destinasi eksotis. Hidde sempat menduduki posisi General Manager di sebuah perusahaan logistik industri yang berpusat dari Amsterdam hingga Malta pada 2023.

Kendati sukses secara finansial dan posisi pekerjaan, Hidde mengaku mengalami kejenuhan sosial dan spiritual di Eropa.

“Di atas kertas, itu terlihat seperti kemajuan. Tapi sebenarnya, itu tanda pertama bahwa hidup yang saya jalani tidak lagi cocok,” ungkap Hidde.

Setelah sempat singgah di Afrika Selatan, ia akhirnya memutuskan menetap di Bali untuk mendirikan komunitas pekerja remote. Sayangnya, wadah komunitas yang ia bangun bersama Joost justru berakhir tersandung kasus hukum akibat praktik diskriminasi terhadap masyarakat lokal tempat mereka menumpang tinggal. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi
Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla
Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul
Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun
Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?
Kondisi Terbaru Andrie Yunus: Alami Kecemasan Berat dan Jalani Rawat Jalan Pasca-Penyiraman Air Keras
KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu
Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:14 WIB

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:09 WIB

Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:01 WIB

Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:40 WIB

Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:27 WIB

Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:44 WIB

KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:43 WIB

Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:40 WIB

KPK Ungkap 27 Pihak dan 313 PIHK Terima Aliran Dana Kasus Kuota Haji

Berita Terbaru