1TULAH.COM-Situasi geopolitik di Timur Tengah kian membara. Garda Revolusi Iran (IRGC) secara terbuka melontarkan tantangan keras kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait rencana pengerahan Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
Melalui pernyataan resmi pada Jumat (6/3/2026), Teheran menanggapi ambisi Washington yang ingin mengawal tanker minyak di jalur maritim paling vital di dunia tersebut. Juru bicara IRGC, Alimohammad Naini, menyatakan pihaknya “menyambut” kehadiran armada AS, namun dengan nada peringatan yang mematikan.
Peringatan Sejarah: Bayang-bayang Insiden Bridgeton
Naini memperingatkan Amerika Serikat agar tidak gegabah dan meminta mereka meninjau kembali catatan sejarah kegagalan militer AS di kawasan tersebut. Ia merujuk pada insiden Bridgeton tahun 1987, di mana supertanker AS hancur terkena ranjau.
“Kami merekomendasikan agar orang-orang Amerika mengingat kembali api yang melalap Bridgeton dan kapal-kapal yang menjadi target akhir-akhir ini,” tegas Naini dikutip via Al Jazeera.
Sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran dimulai pada akhir Februari 2026, setidaknya sembilan kapal telah menjadi sasaran serangan di sekitar perairan strategis tersebut.
Status Selat Hormuz: Tidak Ditutup, Tapi Berbahaya
Meskipun lalu lintas kapal menurun drastis, militer Iran mengklarifikasi bahwa mereka tidak melakukan penutupan rute secara formal. Penurunan trafik murni disebabkan oleh risiko keamanan tinggi akibat perang yang sedang berlangsung.
Berikut adalah poin utama kebijakan maritim Iran saat ini:
-
Tanggung Jawab Keamanan: Iran tidak menghalangi kapal melintas, namun keamanan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemilik kapal.
-
Target Militer Utama: Iran secara tegas akan menargetkan setiap kapal milik Amerika Serikat atau “entitas Zionis” (Israel) yang mencoba menerobos Selat Hormuz.
-
Instruksi Keamanan: IRGC telah mengeluarkan imbauan agar kapal komersial menghindari wilayah tersebut demi keselamatan.
Update Penerbangan Qatar: Fokus Evakuasi dan Logistik
Kabar terbaru dari Otoritas Penerbangan Sipil Qatar menyebutkan adanya pembukaan sebagian navigasi udara. Namun, otoritas menekankan bahwa situasi belum kembali normal.
Fase pembukaan ini hanya diperuntukkan bagi:
-
Penerbangan Evakuasi: Memulangkan penumpang yang terjebak di zona konflik.
-
Penerbangan Kargo: Menjamin ketersediaan layanan esensial dan logistik di kawasan Teluk.
-
Penerbangan Rutin: Jadwal rutin dari dan menuju Doha tetap ditangguhkan hingga pengumuman lebih lanjut.
Mobilisasi USS Gerald Ford: Instrumen Agresif Donald Trump
Di pihak lawan, militer Amerika Serikat terus memobilisasi aset tempur terbesarnya. Kapal induk USS Gerald Ford, kapal perang terbesar di dunia, dilaporkan telah berpindah posisi dari Mediterania Timur menuju Laut Merah melalui Terusan Suez.
USS Gerald Ford menjadi ujung tombak kebijakan luar negeri agresif Donald Trump tahun ini. Setelah sebelumnya terlibat dalam operasi penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela pada awal 2026, kini kapal raksasa tersebut menjadi tumpuan utama AS dalam konfrontasi militer melawan Iran. (Sumber:Suara.com)

![Salah satu episode di Ini Talkshow Net TV. [YouTube Net TV]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/sule-360x200.jpg)




![Ilustrasi foto Ahmad Bahar dan Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario Marshal. [Suara.com/Emma]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/herkules-bahar-225x129.jpg)



![Presiden Prabowo Subianto. [Foto: Biro Pers Istana]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/02/prabowo-opisisi-225x129.jpg)




![Ilustrasi foto Ahmad Bahar dan Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario Marshal. [Suara.com/Emma]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/herkules-bahar-360x200.jpg)





![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)



