1TULAH.COM-Tanpa sadar, kita sering menyaksikan satu fenomena sosial yang jarang disadari pelakunya sendiri: internalized misogyny.
Istilah ini merujuk pada kondisi ketika perempuan tanpa sengaja menyerap nilai-nilai patriarki yang mendiskreditkan gender mereka sendiri.
Alih-alih saling mendukung, fenomena ini justru membuat perempuan ikut mengawasi, mengoreksi, bahkan menghukum perempuan lain yang dianggap “menyimpang” dari aturan relasi kuasa tradisional.
Apa Itu Internalized Misogyny?
Internalized misogyny adalah sebuah prasangka seksis yang dilakukan oleh perempuan terhadap diri sendiri atau sesama perempuan.
Ini terjadi karena nilai-nilai patriarki—yang menempatkan laki-laki di posisi lebih tinggi—telah mendarah daging dalam pola pikir masyarakat sejak kecil.
Internalized misogyny bekerja secara halus. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan lewat:
-
Komentar dan sindiran.
-
Penghakiman moral.
-
Penerapan standar ganda.
-
Logika relasi kuasa yang timpang (misal: “Istri jangan melampaui suami”).
Manifestasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Salah satu bentuk yang paling nyata adalah resistensi terhadap perubahan peran domestik. Banyak perempuan merasa tidak nyaman melihat suami berbelanja ke pasar, mencuci piring, atau mengurus anak.
Ketidaknyamanan ini muncul bukan karena pekerjaan tersebut dianggap rendah, melainkan karena dianggap “tidak pantas” dilakukan laki-laki. Di sini, beban domestik dianggap sebagai kodrat permanen perempuan, bukan hasil pembagian tugas sosial yang bisa dinegosiasikan.
Intinya: Perempuan yang menolak keterlibatan laki-laki dalam urusan domestik sesungguhnya sedang menjaga sistem yang merugikan dirinya sendiri.
Fenomena di Era Digital: Dari “Pick Me Girl” hingga Cyberbullying
Di era media sosial, internalized misogyny menemukan ruang baru untuk tumbuh. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) sering kali menjadi medan perang di mana perempuan saling menghakimi pilihan hidup satu sama lain.
1. Stereotip “Pick Me Girl”
Ini adalah istilah untuk perempuan yang menjatuhkan perempuan lain atau menolak hal-hal yang dianggap “feminin” demi mendapatkan validasi dan penerimaan dari laki-laki. Strateginya adalah merasa “berbeda” dengan cara merendahkan kelompoknya sendiri.
2. Penghakiman Tubuh dan Pilihan Hidup
Serangan sering kali datang dalam bentuk:
-
Komentar negatif terhadap bentuk tubuh atau bulu tubuh.
-
Label negatif seperti “murahan”, “drama”, atau “cari perhatian”.
-
Kritik terhadap keputusan untuk bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.
-
Sentimen negatif terhadap keputusan childfree atau pilihan gaya berpakaian.
Mengapa Kita Merasa Terganggu dengan Kebebasan Perempuan Lain?
Mengapa serangan ini justru banyak datang dari sesama perempuan? Ada beberapa faktor pemicu:
-
Standar Moral sebagai Senjata: Perempuan yang “terlalu bebas” dianggap sebagai ancaman terhadap tatanan sosial yang sudah ada.
-
Luka Struktural: Perempuan tumbuh dalam sistem patriarki dan belajar dari nilai yang sama, sehingga mereka mewarisi cara pandang yang mendiskriminasi gender mereka sendiri.
-
Kebutuhan untuk Diterima: Dalam sistem yang menguntungkan laki-laki, beberapa perempuan merasa bahwa dengan menuruti aturan patriarki, mereka akan lebih “aman” atau “terhormat”.
Memutus Siklus: Langkah Menuju Perubahan
Menyadari adanya internalized misogyny bukan bertujuan untuk menyalahkan perempuan. Sebaliknya, ini adalah tentang memahami bahwa kita semua adalah korban dari sistem yang timpang.
Cara Mengatasi Internalized Misogyny:
-
Refleksi Diri: Berhenti sejenak saat ingin menghakimi perempuan lain. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya mengkritiknya karena perilakunya salah, atau karena dia tidak mengikuti aturan patriarki?”
-
Membongkar Hierarki: Sadari bahwa relasi yang adil tidak membutuhkan satu pihak untuk selalu lebih tinggi. Kesetaraan bukan menghapus perbedaan biologis, tapi menghapus asumsi bahwa perbedaan itu melahirkan kasta.
-
Membangun Solidaritas: Fokus pada dukungan (support system) daripada kompetisi atau pengawasan moral.
Ketika perempuan berhenti menjadi “polisi” bagi perempuan lain, di situlah perubahan sosial yang nyata mulai bergerak. Kita harus mulai mempertanyakan: Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari relasi kuasa yang timpang ini?
Apakah kita ingin terus menjadi penjaga sistem yang melelahkan kita sendiri, atau kita berani meruntuhkan tembok tersebut demi kebebasan bersama?
Apakah Anda pernah tanpa sadar melakukan penghakiman terhadap sesama perempuan? Mari kita mulai diskusi sehat di kolom komentar dan belajar untuk lebih suportif satu sama lain. (Sumber:Suara.com)























