Tragedi Rinjani: Kisah Pilu Juliana Marins dan Kontroversi Pemandu Ali Musthofa

- Jurnalis

Sabtu, 5 Juli 2025 - 18:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas memindahkan peti jenazah pendaki Gunung Rinjani Juliana Marins ke dalam mobil jenazah di Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara, Denpasar, Bali, Senin (30/6/2025). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/bar]

Petugas memindahkan peti jenazah pendaki Gunung Rinjani Juliana Marins ke dalam mobil jenazah di Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara, Denpasar, Bali, Senin (30/6/2025). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/bar]

1TULAH.COM-Insiden tragis yang menimpa pendaki asal Brasil, Juliana Marins (26), di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, pada Juni 2025 masih terus mengguncang jagat maya dan memicu perdebatan sengit.

Di tengah gelombang kritik dan sorotan publik internasional, muncul sosok yang menjadi pusat kontroversi: Ali Musthofa, pemandu lokal yang mendampingi pendakian Juliana. Kisah hilangnya Juliana dan upaya heroik namun berisiko Ali dalam pencariannya menjadi sorotan, terutama setelah Juliana ditemukan meninggal dunia.

Detik-detik Hilangnya Juliana dan Upaya Nekat Ali Musthofa

Ali Musthofa adalah orang pertama yang menyadari bahwa Juliana Marins telah menghilang dari rombongan pendakian. Tanpa menunggu tim penyelamat, Ali langsung mengambil keputusan nekat: turun ke jurang hanya berbekal senter dan keberanian.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat Ali menuruni tebing curam tanpa perlengkapan standar keselamatan mendaki seperti harness, anchor, karabiner, atau jumar. Ia mempertaruhkan nyawa demi menemukan Juliana dalam kegelapan malam dan medan ekstrem Cemara Nunggal, salah satu jalur tersulit di Rinjani.

“Saya hanya pergi beberapa menit. Saya minta dia istirahat karena bilang lelah. Lalu saya kembali. Saya tidak meninggalkannya,” ujar Ali dengan suara lirih. Cahaya senter dari dasar jurang menjadi satu-satunya petunjuk bagi Ali dalam pencariannya. Sayangnya, upaya evakuasi mandiri itu tidak membuahkan hasil. Juliana ditemukan tewas beberapa hari kemudian.

Baca Juga :  Dinsos Barsel Alokasikan Bansos Sembako dan Kursi Roda pada APBD Perubahan 2026

Ali Musthofa mengaku bertemu dengan Juliana dan lima pendaki lainnya pada Kamis, 19 Juni 2025, malam untuk briefing. Keesokan harinya, Jumat pukul 07.00 WITA, rombongan memulai pendakian dari Resort Sembalun, Lombok Timur. Hingga Sabtu pagi, semua berjalan lancar. Namun, tragedi dimulai ketika rombongan berada di kawasan Cemara Nunggal. Juliana, yang berada di barisan paling belakang, tiba-tiba tidak terlihat lagi.

Ali segera kembali ke lokasi terakhir ia melihat Juliana dan melihat senter korban menyala samar di dasar jurang. “Kejadiannya pada Sabtu pagi. Saya taruh tas dan mencari dia dan lihat posisi senter di tebing,” jelas Ali.

Klaim Keluarga dan Kontroversi Respons Pemandu dan Pengelola Taman Nasional

Pihak keluarga Juliana Marins memberikan penuturan yang berbeda terkait insiden ini. Menurut ayah Juliana, Manoel Marins, dalam wawancara eksklusif dengan program Fantastico, TV Globo, Juliana sempat mengatakan kepada pemandu bahwa ia lelah dan ingin istirahat.

“Juliana bilang kepada pemandunya bahwa dia kelelahan, lalu si pemandu menyuruhnya duduk dan beristirahat,” ungkap Manoel Marins. “Kemudian, dia pamit merokok selama 5 sampai 10 menit. Untuk merokok! Ketika kembali, Juliana sudah tidak terlihat lagi.”

Menurut Manoel, insiden itu terjadi sekitar pukul 04.00 pagi. Namun, video kondisi Juliana baru dikirim kepada pihak koordinator sekitar pukul 06.08. Tim penyelamat disebut baru dihubungi pukul 08.30, dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 14.00.

Baca Juga :  Mengapa Langit Palangka Raya Berubah Kuning Kecokelatan? Ini Bahaya Asap Karhutla & Dampaknya bagi Paru-Paru

“Peralatan satu-satunya yang mereka bawa hanya seutas tali. Mereka melemparnya ke arah Juliana. Dalam kondisi panik, si pemandu lalu mengikat tali ke pinggangnya dan mencoba turun tanpa alat pengaman,” terang Manoel, menguatkan dugaan minimnya persiapan dan respons yang lambat.

Badai Kritik dan Permintaan Pertanggungjawaban

Usai kejadian, Ali Musthofa menjadi sasaran kritik tajam dari publik, baik di Indonesia maupun Brasil. Komentar di media sosial membanjiri namanya, mulai dari tudingan kelalaian hingga permintaan agar ia dihukum.

Di tengah tekanan dan trauma yang belum reda, Ali mengaku hanya ingin menyampaikan bahwa dia telah melakukan yang terbaik dalam situasi yang sulit. Namun, bagi keluarga korban, tindakan Ali dan lambannya respons pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani dianggap sebagai bentuk kelalaian yang berujung fatal.

“Meski demikian, yang paling saya anggap bersalah adalah koordinator taman nasional. Dia terlambat menghubungi Basarnas,” tegas Manoel. Ibunda Juliana, Estela Marins, bahkan menyatakan, “Ini menyakitkan sekali. Orang-orang ini telah membunuh anak saya.”

Tragedi ini menyoroti pentingnya standar keselamatan yang ketat, peran pemandu yang profesional, dan kesigapan tim penyelamat dalam setiap aktivitas pendakian, terutama di gunung-gunung dengan medan ekstrem seperti Rinjani. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

MUI dan Publik Desak Hukuman Mati Kasus Korupsi Bencana BNPB, Begini Respon Resmi KPK
Innalillahi, Ulama Kharismatik KH Syukron Ma’mun “Singa Podium” Meninggal Dunia
Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan
HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto: Ucapan Berkelas Istri Gubernur Kaltim & Kalteng Disorot, Unggahan Setkab Banjir Sindiran
KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan
Mengapa Langit Palangka Raya Berubah Kuning Kecokelatan? Ini Bahaya Asap Karhutla & Dampaknya bagi Paru-Paru
Polisi Tangkap Tersangka Begal Ojol di Tanjung Priok, Satu Pelaku Masih Buron
Dinsos Barsel Alokasikan Bansos Sembako dan Kursi Roda pada APBD Perubahan 2026
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:02 WIB

MUI dan Publik Desak Hukuman Mati Kasus Korupsi Bencana BNPB, Begini Respon Resmi KPK

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Innalillahi, Ulama Kharismatik KH Syukron Ma’mun “Singa Podium” Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:46 WIB

HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto: Ucapan Berkelas Istri Gubernur Kaltim & Kalteng Disorot, Unggahan Setkab Banjir Sindiran

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:16 WIB

KPK Jerat Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten dalam Skandal Pengondisian Laporan Keuangan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:59 WIB

Polisi Tangkap Tersangka Begal Ojol di Tanjung Priok, Satu Pelaku Masih Buron

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Dinsos Barsel Alokasikan Bansos Sembako dan Kursi Roda pada APBD Perubahan 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen

Berita Terbaru