Independensi Prasasti Center for Policy Studies Diragukan: Potensi Konflik Kepentingan Keluarga Prabowo

- Jurnalis

Sabtu, 5 Juli 2025 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Satria Unggul. (bidik layar video/Kayla Nathaniel Bilbina)

Koordinator Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Satria Unggul. (bidik layar video/Kayla Nathaniel Bilbina)

1TULAH.COM-Peluncuran Prasasti Center for Policy Studies oleh Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto, pada 30 Juni 2025 lalu, langsung menuai sorotan tajam. Koordinator Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA),

Satria Unggul, secara terbuka mempertanyakan independensi lembaga riset atau think tank tersebut, menuding adanya potensi konflik kepentingan yang serius.

Alarm Konflik Kepentingan di Lingkaran Prasasti

Satria Unggul mengungkapkan kekhawatirannya dalam wawancara dengan Suara.com pada Sabtu, 5 Juli 2025. Ia menilai, masalah utama terletak pada komposisi pengisi lembaga think tank tersebut yang merupakan orang-orang dekat Presiden Prabowo Subianto.

“Masalahnya ini adalah orang-orang yang mengisi di lembaga think tank itu adalah orang yang kemudian juga operator gitu ya, maka ini yang disebut sebagai konflik of interest,” kata Satria.

Sorotan Satria merujuk pada struktur internal Prasasti Center for Policy Studies:

  • Hashim Djojohadikusumo (adik Presiden Prabowo Subianto) menjabat sebagai Dewan Penasihat (Board of Advisors).
  • Soedrajad Djiwandono (kakak ipar Prabowo) menempati posisi sebagai Dewan Pengawas (Board of Trustees).
  • Burhanuddin Abdullah (mantan Ketua Dewan Tim Pakar Partai Gerindra) menduduki jajaran Dewan Penasihat (Board of Advisors).
  • Laode Masihu Kamaluddin (tim ekonomi Prabowo-Gibran) menjabat sebagai Dewan Pengawas (Board of Trustees).
Baca Juga :  Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla

Dengan merujuk pada komposisi struktur ini, Satria Unggul sangat meragukan objektivitas yang sebelumnya diklaim oleh Hashim Djojohadikusumo.

Dampak Konflik Kepentingan pada Objektivitas Riset

Satria Unggul menegaskan bahwa jika konflik kepentingan ini benar-benar terjadi, dampaknya akan sangat merugikan. “Jika kemudian ini konflik kepentingan terjadi, maka dampaknya adalah tidak akan pernah kita bisa munculkan sisi-sisi objektif dari penilaian riset atau diseminasi hasil penelitian yang dilakukan,” tegasnya.

Baca Juga :  Profil dan Sosok Aisyah Thisia Halijam: Istri Gubernur Kalteng yang Jadi Sorotan Publik Usai Video Catwalk Viral di Tengah Bencana Karhutla

Menurut Satria, sebuah lembaga think tank memiliki fungsi krusial sebagai “anjing penggonggong” atau watchdog yang bertugas mengawasi setiap kebijakan pemerintah. Lembaga-lembaga non-pemerintah seperti Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) telah menjalankan fungsi ini dengan baik, menjaga objektivitas penilaian mereka.

Di sisi lain, lembaga negara seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga diharapkan mampu menjaga independensinya. Objektivitas lembaga-lembaga tersebut dalam memberikan penilaian melalui berbagai riset kepada pemerintah masih dapat dipertanggungjawabkan.

Kritik terhadap Prasasti Center for Policy Studies ini menjadi pengingat penting akan perlunya integritas dan independensi dalam setiap lembaga riset, terutama yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan, demi menjaga kualitas dan kepercayaan publik terhadap hasil-hasil penelitian kebijakan. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen
2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kemerdekaan Pers dan Kriminalisasi Jurnalis Jadi Sorotan Dunia
Tingkatkan Ketepatan Data, Kemendagri Evaluasi Layanan Pengusulan Satyalancana Karya Satya PNS
Kabut Asap Karhutla Capai Timor Leste, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat
Atasi Krisis Air Bersih hingga Infrastruktur, DPRD Kalteng Soroti Aspirasi Warga Gunung Mas
Profil dan Sosok Aisyah Thisia Halijam: Istri Gubernur Kalteng yang Jadi Sorotan Publik Usai Video Catwalk Viral di Tengah Bencana Karhutla
Perkuat Penegakan Hukum Karhutla, Kejagung dan Polri Bakal Gelar Rakor Terbatas
Luas Kebakaran Melonjak 69%, Mengapa Pemerintah Belum Tetapkan Status Bencana Nasional?
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Dua Emiten Haji Isam Jaminkan Saham Rp73 T ke Bank Mandiri, Ini Penjelasan Manajemen

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:28 WIB

2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kemerdekaan Pers dan Kriminalisasi Jurnalis Jadi Sorotan Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:05 WIB

Kabut Asap Karhutla Capai Timor Leste, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:52 WIB

Atasi Krisis Air Bersih hingga Infrastruktur, DPRD Kalteng Soroti Aspirasi Warga Gunung Mas

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Profil dan Sosok Aisyah Thisia Halijam: Istri Gubernur Kalteng yang Jadi Sorotan Publik Usai Video Catwalk Viral di Tengah Bencana Karhutla

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Perkuat Penegakan Hukum Karhutla, Kejagung dan Polri Bakal Gelar Rakor Terbatas

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Luas Kebakaran Melonjak 69%, Mengapa Pemerintah Belum Tetapkan Status Bencana Nasional?

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Reses DPRD Kalteng Dapil II: Infrastruktur, Layanan Dasar, dan Pertanian Jadi Aspirasi Utama Warga Kotim-Seruyan

Berita Terbaru