Dana Desa 2025: Senjata Baru Desa Hadapi Krisis Iklim dan Bencana

- Jurnalis

Selasa, 27 Mei 2025 - 16:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi desa rawan pangan. [Ist

Ilustrasi desa rawan pangan. [Ist

1TULAH.COM-Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan; dampaknya kini nyata terasa di pelosok desa. Cuaca yang tak menentu, krisis air bersih, serta frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang meningkat drastis, menjadi bukti bahwa desa-desa tak bisa lagi abai.

Menyadari urgensi ini, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengarahkan pemanfaatan Dana Desa tahun 2025 untuk memperkuat ketahanan desa terhadap krisis iklim.

Fokus Dana Desa 2025: Adaptasi, Mitigasi, dan Lingkungan Ramah

“Salah satu fokus penggunaan Dana Desa 2025 adalah untuk kegiatan adaptasi, mitigasi bencana alam serta perubahan iklim, dan pengembangan desa ramah lingkungan,” jelas Rahmatia Handayani, Sekretaris Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Kemendes PDTT, dalam pembukaan Dialog Publik Desa Peduli Iklim dan Desa Tanggap Bencana, Selasa (27/5/2025).

Kebijakan strategis ini tertuang jelas dalam Permendes Nomor 2 Tahun 2024 yang mengatur petunjuk operasional fokus penggunaan Dana Desa tahun depan. Selain itu, Keputusan Menteri PDT Nomor 501 Tahun 2024 juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak—mulai dari pemerintah pusat hingga komunitas lokal—dalam mewujudkan desa yang tangguh terhadap iklim. Ini bukan sekadar kebijakan, melainkan panggilan untuk aksi kolektif.

Baca Juga :  Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Data BNPB Menyoroti Urgensi: Bencana Hidrometeorologi Mendominasi

Kebijakan ini bukan tanpa dasar. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2024 menunjukkan 3.472 kejadian bencana di Indonesia. Yang paling mencolok, 99,34 persen dari bencana tersebut adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan angin kencang. Banjir menjadi yang paling sering terjadi, dengan 1.420 kejadian.

“Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi salah satu yang paling rentan terhadap perubahan iklim,” ujar Rahmatia. Dampak perubahan iklim ini tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga merambat ke sektor ekonomi, sosial, bahkan kesehatan mental masyarakat. Situasi ini menjadi sinyal kuat: desa-desa di Indonesia harus segera bergerak, dari reaktif menjadi preventif.

Dana Desa: Instrumen Inovasi dan Perlindungan Lokal

Di sinilah Dana Desa diharapkan menjadi instrumen perubahan. Dengan pengelolaan yang tepat, dana ini bisa dimanfaatkan desa untuk:

  • Membangun sistem peringatan dini bencana yang efektif.
  • Membentuk tim tanggap darurat yang sigap.
  • Memperbaiki tata kelola air untuk mengatasi krisis atau kelebihan air.
  • Menanam jenis tanaman yang tahan kekeringan untuk menjaga ketahanan pangan.
  • Memanfaatkan energi terbarukan secara lokal, mengurangi jejak karbon.

Upaya-upaya ini tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan, tetapi juga membuka peluang inovasi berbasis lokal yang bisa membawa desa menuju kemandirian dan keberlanjutan.

Baca Juga :  Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap

Keterlibatan Masyarakat Kunci Keberhasilan

Dialog Publik Desa Peduli Iklim dan Desa Tanggap Bencana bukan sekadar ajang sosialisasi, melainkan ruang bersama untuk bertukar gagasan, pengalaman, dan aspirasi. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran kolektif di tingkat desa tentang urgensi perubahan iklim, menghimpun masukan kebijakan, dan mendorong sinergi dalam pelaksanaan aksi konkret yang berkelanjutan. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama, mulai dari pemetaan risiko, perencanaan anggaran, edukasi, hingga pelaksanaan program berbasis komunitas.

Langkah ini juga membuka peluang baru bagi desa untuk mengakses sumber pendanaan lain dari mitra pembangunan, sektor swasta, dan inisiatif masyarakat sipil. Dengan lebih dari 75.000 desa di seluruh Nusantara, potensi membangun ketahanan dari akar rumput begitu besar. Dana Desa bukan sekadar dana pembangunan infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang untuk melindungi masa depan generasi desa.

Krisis iklim adalah tantangan global, tetapi jawabannya bisa dimulai dari desa, dengan kolaborasi, inovasi lokal, dan keberanian untuk berubah. Sudah siapkah desa Anda menghadapi tantangan ini dan menjadi pelopor ketahanan iklim? (Sumber:Suara.com)

 

 

 

Berita Terkait

Bahaya Kabut Asap, DPRD Kalteng Minta Pemda Batasi Kegiatan di Ruang Terbuka
Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar
Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sekolah PJJ, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara
Gunung Ile Lewotolok di NTT Dua Kali Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 600 Meter di Atas Puncak
Realisasi Anggaran Pemprov Kalteng Baru 38 Persen, DPRD Desak Percepatan Lelang Proyek
99 Persen Pembobolan Bank Berawal dari Social Engineering, Kemenhub dan Pakar Wanti-Wanti Hal Ini
Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki
Analisis BRIN: Erupsi Gunung Anak Krakatau Menembus Stratosfer dan Berpotensi Dinginkan Suhu Bumi
Tag :

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 16:01 WIB

Bahaya Kabut Asap, DPRD Kalteng Minta Pemda Batasi Kegiatan di Ruang Terbuka

Senin, 7 September 2026 - 14:03 WIB

Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar

Senin, 7 September 2026 - 09:02 WIB

Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sekolah PJJ, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara

Senin, 7 September 2026 - 08:51 WIB

Gunung Ile Lewotolok di NTT Dua Kali Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 600 Meter di Atas Puncak

Minggu, 6 September 2026 - 17:01 WIB

Realisasi Anggaran Pemprov Kalteng Baru 38 Persen, DPRD Desak Percepatan Lelang Proyek

Minggu, 6 September 2026 - 16:55 WIB

99 Persen Pembobolan Bank Berawal dari Social Engineering, Kemenhub dan Pakar Wanti-Wanti Hal Ini

Minggu, 6 September 2026 - 16:03 WIB

Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki

Minggu, 6 September 2026 - 13:29 WIB

Analisis BRIN: Erupsi Gunung Anak Krakatau Menembus Stratosfer dan Berpotensi Dinginkan Suhu Bumi

Berita Terbaru

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Haykal Kamil Pilih Batalkan Pekerjaan Demi Keselamatan. Instagram @
haykalkamil

Entertainment

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Haykal Kamil Tingkatkan Kewaspadaan

Senin, 7 Sep 2026 - 16:14 WIB

Plt Sekda Seruyan, dr. Bacrun Abbas, bersama OPD terkait saat mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual di Ruang Rapat Asisten Sekretariat Daerah Kabupaten Seruyan, Senin (7/9).

Seruyan

Indeks Perkembangan Harga di Seruyan Berstatus Naik

Senin, 7 Sep 2026 - 15:58 WIB