Secercah Harapan di Riau: Bayi Orang Utan “Ade” Lahir, Menjaga Masa Depan Hutan Sumatra

- Jurnalis

Senin, 26 Mei 2025 - 09:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Induk orang utan di Kebun Binatang Kasang Kulim, Provinsi Riau memeluk anaknya yang baru lahir pada 2 Mei 2025 lalu. ANTARA/Annisa Firdausi

Induk orang utan di Kebun Binatang Kasang Kulim, Provinsi Riau memeluk anaknya yang baru lahir pada 2 Mei 2025 lalu. ANTARA/Annisa Firdausi

1TULAH.COM-Pagi itu, 2 Mei 2025, matahari belum tinggi. Tapi di balik pagar Lembaga Konservasi (LK) Kasang Kulim, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, kehidupan baru telah lebih dulu hadir. Seekor bayi orang utan jantan lahir, membawa secercah harapan bagi konservasi satwa langka.

Bayi kecil yang gerakannya masih kaku itu diberi nama Ade oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Nama yang sederhana, hangat, dan mengandung harapan bahwa hutan masih punya masa depan, dan kita belum terlambat untuk menjaganya. Ade lahir dari pasangan orang utan bernama Susi—atau Boyen—dan Yongki, jantan tangguh penghuni lama lembaga ini. Keduanya merupakan satwa titipan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau, demikian seperti dikutip dari ANTARA.

Bayi itu terlihat sehat. Tim medis memastikan bahwa ia aktif menyusu, dan induknya pun menunjukkan naluri keibuan yang baik. Tak ada gejala stres, tak ada penolakan. Hanya ikatan hangat antara ibu dan anak yang baru saja mengikatkan hidup di dunia.

Orang Utan Sumatra: Status Terancam Punah dan Upaya Konservasi

Orang utan adalah satwa langka. Pongo abelii, spesies Ade, hanya ditemukan di Sumatra dan kini berstatus Terancam Punah menurut IUCN Red List. Populasinya terus menyusut, terdesak oleh laju deforestasi, perburuan, dan perubahan iklim. Namun hari itu, dari sebuah kandang sederhana di pinggiran Kampar, lahir satu bukti bahwa harapan belum benar-benar punah.

Baca Juga :  Menkeu Purbaya Incar Efisiensi Maksimal Program Makan Bergizi Gratis: "Kalau Bisa Rp 0, Tapi..."

KSDA Riau tak hanya mencatat kelahiran Ade. Mereka juga langsung turun tangan untuk memastikan pemenuhan nutrisi induk dan bayi, mengecek kualitas pakan, serta memantau kondisi kandang. Pendampingan terus dilakukan bersama pengelola LK Kasang Kulim. Tujuannya menciptakan lingkungan yang layak bagi satwa, bukan sekadar tempat penampungan. Prinsip etika dan kesejahteraan satwa menjadi pedoman utama, karena keberhasilan konservasi bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kualitas hidup satwa yang dirawat.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan Pudyatmoko, menyebut kelahiran ini sebagai keberhasilan kolektif. Bukan hanya lembaga, tapi juga bentuk partisipasi manusia yang masih peduli.

“Ade menjadi bukti bahwa dengan kerja sama, standar yang tepat, dan kesungguhan, konservasi bisa berjalan. Bahkan membuahkan kehidupan baru,” katanya.

Orang Utan Sumatra: Penghuni Pepohonan yang Kian Terdesak

Orangutan Sumatra (Pongo abelii) hampir sepenuhnya hidup di atas pohon. Betina nyaris tak pernah turun ke tanah, dan jantan dewasa pun hanya sesekali melakukannya. Hutan hujan tropis adalah rumah mereka, ruang tumbuh, ruang makan, ruang hidup.

Berbeda dari kerabatnya di Kalimantan, orangutan Sumatra diketahui memiliki ikatan sosial yang lebih erat. Pohon ara berperan penting. Ketika pohon itu berbuah secara massal, beberapa individu bisa berkumpul untuk makan bersama. Namun, jantan dewasa umumnya hidup menyendiri, sementara betina selalu ditemani anaknya.

Baca Juga :  Komitmen pada Pendidikan Pedalaman, Rahmanto Muhidin Dianugerahi Tunas Inspirasi KPI 2026

Dulu, jangkauan mereka lebih luas. Orangutan Sumatra pernah ditemukan di seluruh Pulau Sumatra, bahkan hingga ke selatan Pulau Jawa. Namun kini, populasi mereka hanya bertahan di bagian utara Sumatra, terutama di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Data terbaru menunjukkan bahwa dari sembilan populasi yang masih ada, hanya tujuh yang diperkirakan mampu bertahan dalam jangka panjang, masing-masing berisi sedikitnya 250 individu. Sayangnya, hanya tiga populasi yang terdiri atas lebih dari 1.000 ekor orangutan. Sisanya hidup terpencar, terisolasi, dan rawan punah.

Sebagian orangutan hasil sitaan dari perdagangan ilegal atau peliharaan sedang diperkenalkan kembali ke alam liar, salah satunya di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Saat ini, populasi hasil reintroduksi berjumlah sekitar 70 individu dan telah mulai berkembang biak secara alami.

Pelestarian orangutan Sumatra bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keutuhan ekosistem hutan tropis Indonesia. Upaya kolektif semua pihak—dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta—dibutuhkan untuk memastikan kelangsungan hidup satwa endemik ini. Sebab tanpa hutan, tak ada tempat lagi bagi mereka untuk bertahan. (Sumber:Suara.com)

 

 

Berita Terkait

Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?
Pimpin IWO Bartim Lagi, Boy TM Targetkan Peningkatan Kompetensi SDM Pers
Internet Menolak Lupa: Mengapa Jejak Digital Bisa Menentukan Masa Depan Anda?
Dibidik KPK Terkait Kasus OTT Bupati Kuansing, Menhut Raja Juli Antoni Buka Suara Soal Aliran Dana HPT
Tragedi Tumbang Kalemei: Satu Polisi Gugur, Dua Hilang Saat Penggerebekan Bandar Narkoba di Katingan
KPK Sita Ratusan Juta Rupiah dalam Kasus OTT Bupati Langkat
Mabes Polri Dukung Kejagung Usut Dugaan Korupsi Program MBG
Pemprov Kalteng Perkuat GERMAS, ASN Diajak Terapkan Pola Hidup Sehat untuk Wujudkan SDM Unggul
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 19:34 WIB

Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?

Sabtu, 4 Juli 2026 - 19:26 WIB

Pimpin IWO Bartim Lagi, Boy TM Targetkan Peningkatan Kompetensi SDM Pers

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:40 WIB

Internet Menolak Lupa: Mengapa Jejak Digital Bisa Menentukan Masa Depan Anda?

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:26 WIB

Dibidik KPK Terkait Kasus OTT Bupati Kuansing, Menhut Raja Juli Antoni Buka Suara Soal Aliran Dana HPT

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:13 WIB

KPK Sita Ratusan Juta Rupiah dalam Kasus OTT Bupati Langkat

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:12 WIB

Mabes Polri Dukung Kejagung Usut Dugaan Korupsi Program MBG

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:52 WIB

Pemprov Kalteng Perkuat GERMAS, ASN Diajak Terapkan Pola Hidup Sehat untuk Wujudkan SDM Unggul

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:19 WIB

Pemprov Kalteng Perkuat Kelembagaan Kedamangan, Dorong Pelestarian Budaya dan Hukum Adat Dayak

Berita Terbaru