Indonesia Rawan Bencana: Peringkat Kedua Dunia, BNPB Ingatkan Kesiapsiagaan Megathrust Sumbar

- Jurnalis

Kamis, 8 Mei 2025 - 05:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi rawan bencana. [Dok. ChatGPT]

Ilustrasi rawan bencana. [Dok. ChatGPT]

1TULAH.COM-BNPB kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi kedua di dunia setelah Filipina. Ancaman megathrust di Sumatera Barat menjadi perhatian utama.

Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia, tepat setelah Filipina.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam kuliah umum di Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat (Sumbar), pada Rabu (7/5/2025).

“Indonesia adalah satu dari 35 negara dengan tingkat potensi risiko bencana paling tinggi di dunia,” tegas Letjen TNI Suharyanto, menggarisbawahi betapa rentannya wilayah Indonesia terhadap berbagai ancaman alam.

Peringkat yang cukup mengkhawatirkan ini menunjukkan bahwa kondisi geografis dan geologis Indonesia menjadi faktor utama kerentanan terhadap beragam jenis bencana alam. Mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, hingga bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, semuanya berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam laporan Bank Dunia yang sama, negara-negara lain yang berada di bawah Indonesia dalam hal risiko bencana meliputi India, Meksiko, Kolombia, Myanmar, Mozambik, Rusia, Bangladesh, dan China. Sementara itu, 10 negara dengan tingkat paparan bencana tertinggi secara global adalah China, Meksiko, Jepang, Filipina, Indonesia, Amerika Serikat, India, Kolombia, Australia, dan Rusia.

Ancaman Megathrust Sumatera Barat Jadi Sorotan Utama

Menurut Suharyanto, data ini menjadi pengingat yang sangat kuat bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana. Terutama bagi wilayah-wilayah rawan seperti Sumatera Barat, yang terletak di kawasan patahan megathrust. Patahan ini merupakan sumber gempa bumi besar yang berpotensi memicu terjadinya tsunami dahsyat.

Baca Juga :  Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

BNPB Dukung Revisi UU Penanggulangan Bencana

Dalam pemaparannya, Kepala BNPB juga menyampaikan dukungan lembaganya terhadap rencana revisi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Revisi ini dinilai penting untuk menyesuaikan regulasi dengan perkembangan zaman dan tantangan penanggulangan bencana yang semakin kompleks.

Dampak Bencana di Indonesia: Ribuan Jiwa Terdampak dan Kerugian Infrastruktur

Suharyanto juga memaparkan data dampak bencana yang terjadi di Indonesia. Sepanjang tahun 2024 hingga Mei 2025, tercatat 1.464 kejadian bencana yang mengakibatkan 482 orang meninggal dunia dan 180 orang mengalami luka-luka. Lebih dari 3 juta jiwa (3.146.674 orang) terdampak bencana, dengan ribuan lainnya terpaksa mengungsi.

Kerusakan infrastruktur akibat bencana juga menjadi perhatian serius. Data mencatat 2.152 rumah mengalami rusak berat, 2.728 rusak sedang, dan 9.925 rusak ringan. Selain itu, 78 satuan pendidikan, 58 rumah ibadah, dan sembilan fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan akibat berbagai bencana.

Memahami Ancaman Gempa Megathrust

Megathrust merupakan istilah ilmiah yang merujuk pada jenis gempa bumi dengan mekanisme patahan naik pada zona subduksi lempeng tektonik. Gempa jenis ini memiliki potensi untuk menghasilkan kekuatan yang sangat besar dan memicu gelombang tsunami yang dahsyat.

Meskipun potensi terjadinya gempa megathrust telah diketahui secara ilmiah, hingga saat ini belum ada ilmuwan di dunia yang dapat memprediksi dengan pasti kapan gempa tersebut akan terjadi.

“Tidak perlu panik berlebihan. Yang penting adalah kesiapsiagaan. BNPB selalu berkeliling ke berbagai daerah untuk memberikan pemahaman bahwa waktu kejadian megathrust tidak bisa diprediksi. Seperti halnya kematian, kita hanya bisa mempersiapkan diri,” tegas Suharyanto.

Baca Juga :  Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia

Mitigasi dan Edukasi Jadi Kunci Utama

Langkah mitigasi dinilai sebagai kunci utama dalam menekan angka korban jiwa dan kerugian jika terjadi bencana besar. Edukasi masyarakat terus digencarkan agar mereka memahami tindakan-tindakan yang harus dilakukan dalam situasi darurat.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang, Suaidi Ahadi, juga menegaskan bahwa patahan megathrust di wilayah Sumatera Barat berpotensi memicu gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8,9 yang dapat disertai tsunami. Penjelasan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya edukasi, bukan untuk menimbulkan ketakutan.

“Kami sampaikan ini agar masyarakat memahami pentingnya mitigasi. Ini bukan untuk menakuti, tapi untuk menyadarkan,” ujarnya.

Dengan potensi risiko bencana yang sangat besar, BNPB menekankan bahwa kesadaran dan kesiapsiagaan menjadi satu-satunya cara efektif untuk memperkecil risiko dan dampak bencana. Indonesia, sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi kedua di dunia, tidak memiliki pilihan lain selain membangun budaya siaga dan tangguh bencana sejak dini.

BNPB Minta Sumbar Tingkatkan Kesiapsiagaan Terhadap Megathrust

Secara khusus, BNPB meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) untuk segera meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, terutama terkait ancaman gempa megathrust. Pemerintah daerah setempat telah menyatakan komitmennya untuk menyelenggarakan pelatihan siaga bencana kepada masyarakat.

“Pemerintah provinsi sudah sepakat akan melakukan pelatihan kepada masyarakat, sehingga apabila bencana itu benar-benar terjadi, mereka sudah mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan,” pungkas Suharyanto. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan Dua Anggota DPRD Kota Bengkulu
Speedboat Bawa 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda, Termasuk Jurnalis Media Nasional
Program Makan Bergizi Gratis Bermasalah, Pemerintah Minta Waktu Pembenahan 2 Bulan
Komisi II DPRD Kalteng Dorong Hilirisasi Perikanan demi Kesejahteraan Nelayan
Prabowo Ber Mandat Bantuan Beras Dilanjutkan hingga Desember 2026
PT Indomuro Kencana Cepat Tanggap Berkontribusi dalam Penanganan Karhutla
Bahaya Kabut Asap, DPRD Kalteng Minta Pemda Batasi Kegiatan di Ruang Terbuka
Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 22:22 WIB

KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan Dua Anggota DPRD Kota Bengkulu

Selasa, 8 September 2026 - 19:41 WIB

Speedboat Bawa 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda, Termasuk Jurnalis Media Nasional

Selasa, 8 September 2026 - 19:23 WIB

Komisi II DPRD Kalteng Dorong Hilirisasi Perikanan demi Kesejahteraan Nelayan

Selasa, 8 September 2026 - 18:32 WIB

Prabowo Ber Mandat Bantuan Beras Dilanjutkan hingga Desember 2026

Selasa, 8 September 2026 - 13:17 WIB

PT Indomuro Kencana Cepat Tanggap Berkontribusi dalam Penanganan Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 16:01 WIB

Bahaya Kabut Asap, DPRD Kalteng Minta Pemda Batasi Kegiatan di Ruang Terbuka

Senin, 7 September 2026 - 14:03 WIB

Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar

Senin, 7 September 2026 - 09:02 WIB

Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sekolah PJJ, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara

Berita Terbaru