Obat Mahal di Indonesia: Mimpi Buruk Pasien, Kenyataan Pahit Industri Farmasi?

- Jurnalis

Kamis, 4 Juli 2024 - 09:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrai apotek, harga obat. [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Ilustrai apotek, harga obat. [Suara.com/Angga Budhiyanto]

1TULAH.COM-Jika ada yang beralasan bahwa berobat di dalam negeri, biayanya bisa lebih mahal dibandingkan luar negeri. Pernyataan ini ada benarnya.

Hal ini dipicu lantaran tidak hanya biaya berobat di rumah sakit yang mahal, harga obat di Indonesia juga labih mahal dibandingkan Negara tetangga Malaysia.

Harga obat di Indonesia yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan India kembali menjadi sorotan. Sebab, harga obat yang mahal dinilai menjadi salah satu hambatan terhadap akses pelayanan kesehatan di Indonesia.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, dalam keterangannya mengungkapkan betapa perlunya langkah konkret untuk mengatasi masalah ini.

Prof. Tjandra, yang bertugas di kantor WHO Asia Tenggara di New Delhi dari 2015 hingga pensiun pada tahun 2020, menceritakan pengalamannya selama berada di India.

“Saya mengkonsumsi berbagai obat rutin dan selalu membeli obat di New Delhi. Kesehatan saya terjaga dengan baik selama lima tahun di India,” ujarnya. Ia juga sering membawakan obat untuk rekan-rekan dokternya di Indonesia, yang menunjukkan bahwa kualitas obat di India tidak diragukan lagi.

Baca Juga :  KPK Bakal Tahan Dua Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

Prof. Tjandra menyoroti dua keuntungan utama dari sistem harga obat di India. Pertama, harga obat selalu tercetak di kemasan, sehingga masyarakat tahu persis berapa harga yang harus dibayar. Kedua, harga tersebut sama di seluruh negara karena dikontrol ketat oleh pemerintah.

Prof. Tjandra memberikan beberapa contoh konkret mengenai perbandingan harga obat antara Indonesia dan India. Misalnya, harga satu tablet Atorvastatin 20 mg di apotek di Jakarta adalah Rp. 6.160, sementara di India hanya 4,9 Indian Rupees atau sekitar Rp 1.000.

Ini berarti harga obat tersebut di Indonesia enam kali lebih mahal. Contoh lainnya adalah Clopidogrel 75 mg yang di Jakarta dihargai Rp. 7.835 per tablet, sedangkan di India hanya 7,7 Indian Rupees atau sekitar Rp 1.540.

“Harga obat kita lebih dari lima kali lebih mahal dibandingkan harga di India,” tegas Prof. Tjandra yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.

Prof. Tjandra juga mengungkapkan bahwa tingginya harga obat di Indonesia tidak hanya berdampak pada biaya obat, tetapi juga pada harga pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

Baca Juga :  KPK Buka Peluang Panggil Dirjen Bea Cukai Terkait Dugaan Suap

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri, di mana biaya tindakan kesehatan tertentu jauh lebih murah.

“Kita tunggu langkah konkret yang akan dilakukan pemerintah, sehingga obat yang masyarakat kita konsumsi dapat menjadi jauh lebih murah, sama seperti yang dinikmati rakyat Malaysia dan India,” tutup Prof. Tjandra.

Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa harga obat di Indonesia bisa tiga hingga lima kali lebih mahal dibandingkan Malaysia, salah satunya karena inefisiensi dalam perdagangan.

Pernyataan ini disampaikan setelah rapat internal dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, yang membahas industri alat kesehatan dan obat-obatan.

“Pajak kan gampangnya paling berapa, pajak kan 20 persen, 30 persen, nggak mungkin, bagaimana menjelaskan bedanya 300 persen, 500 persen. Sesudah kita lihat ada itu tadi, inefisiensi dalam perdagangannya, jual belinya, banyaklah masalah tata kelola, pembeliannya,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin seperti dikutip dari ANTARA baru-baru ini. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Polisi Amankan Tiga Pelaku Penipuan Modus Hipnotis di Kelapa Gading
KPK Periksa Para Pejabat Pemkab Tulungagung Terkait Dugaan Korupsi
KPK Segera Jadwalkan Pemeriksaan Pengusaha Rokok M Suryo Kasus Suap
Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z
Resmi Jadi Anggota KONI, ORADO Mura Siap Cetak Prestasi
Polisi Bongkar Kasus Peredaran 2,3 Kg Sabu di Denpasar Bali
KPK Buka Peluang Panggil Dirjen Bea Cukai Terkait Dugaan Suap
Mengintip Deretan Mobil Mewah Harvey Moeis di BPA Fair Kejagung, Siap Dilelang?
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:48 WIB

Polisi Amankan Tiga Pelaku Penipuan Modus Hipnotis di Kelapa Gading

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:46 WIB

KPK Periksa Para Pejabat Pemkab Tulungagung Terkait Dugaan Korupsi

Jumat, 22 Mei 2026 - 21:23 WIB

KPK Segera Jadwalkan Pemeriksaan Pengusaha Rokok M Suryo Kasus Suap

Kamis, 21 Mei 2026 - 20:18 WIB

Resmi Jadi Anggota KONI, ORADO Mura Siap Cetak Prestasi

Kamis, 21 Mei 2026 - 20:01 WIB

Polisi Bongkar Kasus Peredaran 2,3 Kg Sabu di Denpasar Bali

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:59 WIB

KPK Buka Peluang Panggil Dirjen Bea Cukai Terkait Dugaan Suap

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:07 WIB

Mengintip Deretan Mobil Mewah Harvey Moeis di BPA Fair Kejagung, Siap Dilelang?

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:59 WIB

DPRD Kalteng Minta Program Gerakan Pangan Murah Tidak Sekadar Seremonial

Berita Terbaru