Cerita Warga Gaza di Tengah Gempuran Rudal Israel 

- Jurnalis

Senin, 16 Oktober 2023 - 21:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Roket yang ditembakkan militan Palestina dicegat oleh sistem rudal pertahanan Iron Dome Israel di Kota Gaza, Palestina, Sabtu (7/10/2023). [Mohammed ABED / AFP]

Roket yang ditembakkan militan Palestina dicegat oleh sistem rudal pertahanan Iron Dome Israel di Kota Gaza, Palestina, Sabtu (7/10/2023). [Mohammed ABED / AFP]

1tulah.com – Dentuman keras suara bom Israel  menghantam bangunan-bangunan yang ada dijalur Gaza. Siituasi di Jalur Gaza semakin mencekam ketika listrik terputus. Dalam suasana gelap gulita di malam hari makin mengerikan bagi warga yang hidup di tengah serangan bom zionis Israel yang bertubi-tubi.

Fatma Aly (36), seorang warga Palestina yang tinggal bersama keluarganya di daerah utara Jabalia, mengatakan, malam pertamanya tanpa listrik.

Dentuman keras suara bom Israel yang menghantam bangunan-bangunan hampir menenggelamkannya. “Gaza dalam kegelapan total sekarang,” ujar Fatma , Minggu (15/10/2023).

Dia gemetar ketakutan.

“Kami bahkan tidak memiliki lilin untuk penerangan. Toko-toko tutup dan satu-satunya yang kami miliki adalah lampu LED kecil yang biasanya hanya bertahan selama lima jam,” kata Fatma dengan suara bergetar.

Dia menggambarkan situasi tanpa pasokan listrik sebagai tindakan yang tidak manusiawi.

Dengan tidak adanya pasokan listrik mempengaruhi pasokan air untuk minum dan mandi warga. “Tidak ada listrik berarti tidak ada air yang dipompa ke kami,” katanya.

Listrik terputus di seluruh wilayah Gaza pada Rabu (11/10) sekitar pukul 14.00 atau pukul 10.00 WIB. Putusnya listrik ini hanya dua hari setelah Israel memerintahkan ‘pengepungan total’ terhadap Gaza pada 9 Oktober.

Fatma dan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia saat ini hanya mengandalkan dua tong air yang mereka simpan sebelum serangan Israel.

“Tidak ada listrik berarti tidak ada pendingin, sehingga pasokan makanan pun terbatas,” ucapnya.

“Makanan di lemari es sudah habis dan kami membuangnya ke tempat sampah,” katanya, seraya menambahkan bahwa keluarganya merasa sangat sulit, bahkan bersuci untuk salat lima waktu.

Bergantung Pada Buah Zaitun

Untuk mengatasi pemadaman listrik, Fatma, dan hampir semua tetangga berusaha untuk mencari cadangan makanan dan air yang sudah menipis.

“Kami tidak memiliki makanan, kecuali sedikit persediaan tersisa yang kami punya sebelum perang dimulai. Kami hanya mengandalkan Za’tar (bumbu rempah) dan beberapa buah zaitun,” ungkapnya.

Namun, katanya, anak-anaklah yang paling terdampak.

“Keponakan-keponakan saya yang tinggal bersama saudara-saudara saya di lantai lain di gedung yang sama. Mereka yang paling menderita,” katanya.

Baca Juga :  Penanganan Karhutla Butuh Sinergi Lintas Sektor: WALHI Tegaskan Perusahaan Konsesi Tak Boleh Lepas Tangan

Fatma menangis ketika dia menceritakan bagaimana tidak ada tempat yang aman bagi mereka untuk bermain, atau bahkan menikmati masa kecil.

Saat aku tiba di kamp pengungsi Jabalia yang padat di timur laut Gaza, orang-orang berlarian meninggalkan rumah mereka yang hancur. Mereka yang paling beruntung adalah yang sempat mengambil selimut atau pakaian bersamanya.

Hampir tidak mungkin bisa tinggal di kamp tersebut, karena sudah berulang kali dihantam bom Israel.

“Kami tidak punya air, makanan, atau bahkan udara [bersih],” kata seorang pria sambil terisak di tengah-tengah kamp.

Dia menambahkan, “Kehidupan macam apa ini?”

Seorang pria lain yang berdiri di sampingnya berteriak, “Ini bukan perang biasa, ini adalah perang penumpasan.”

Puluhan orang Palestina di kamp tersebut setuju bahwa situasinya sangat mengerikan.

Abu Saqr Abu Rokba, seorang warga Palestina berusia 70-an tahun, telah kehilangan ketiga anaknya.

Dia menangis saat menceritakan situasinya kepada ku. “Saya telah kehilangan semua keluarga saya.

Ketika aku pergi ke pemakaman untuk menguburkan anak-anak saya, aku kembali dan mendapati rumah saya telah luluh lantak. “Saya tidak tahu ke mana harus pergi.”

Sejumlah pengungsi yang ada di kamp tersebut tiba beberapa hari lalu, setelah menghindari bom di wilayah lain.

Layla, bukan nama aslinya, mengaku berasal dari Beit Hanoun, yang berada di tepi timur laut Jalur Gaza.

Tapi ia justru menemukan situasi yang lebih buruk di Jabalia.

“Saya kehilangan suami dan putra saya. Anak saya yang lainnya mengalami cidera. Setiap hari kami menghadapi tembakan. Benar-benar setiap hari,” katanya sambil tak bisa menahan air mata yang tumpah.

Dengan kurangnya makanan dan air bersih, para pengungsi mengatakan bahwa mereka mengandalkan stok sendiri yang terbatas, dan bantuan badan amal.

Mereka mengatakan kepada saya, persediaan makanan dan air bersih diperkirakan habis awal minggu depan.

Beberapa orang harus menggunakan sumur-sumur di sekitar mereka untuk mendapatkan persediaan air yang minim.

Yang lain berencana untuk menggunakan metode tradisional – seperti menyalakan lilin – untuk tetap bisa melihat di malam hari, karena listrik terus berkurang di Gaza.

Baca Juga :  Mengurai Jalinan Bisnis Jhonlin Group dan Bank Mandiri di Balik Mega Akses Saham BYAN Rp26 Triliun

Kekurangan Bahan Bakar

Ini menjadi lebih sulit, dan semakin sulit menemukan bahan bakar untuk menyalakan generator.

Tidak ada tempat berlindung bagi sebagian besar pengungsi, yang pernah menganggap kamp Jabalia sebagai satu-satunya rumah mereka selama bertahun-tahun.

Kepulan asap hitam terlihat di langit. Banyak yang mengatakan, bahwa pagi mereka dimulai dengan bau menyengat mesiu dan membuat mereka batuk.

Fasilitas pengolahan sampah tidak berfungsi, tanpa listrik.

Ketika saya berjalan di sekitar kamp yang suram dan penuh sesak, tumpukan sampah sudah mulai menggunung dan menyebar ke area lainnya.

Sampah-sampah ini mendatangkan kuman, menimbulkan pemikiran di benak saya tentang kemungkinan wabah penyakit.

 

Di dalam gedung yang dulunya merupakan sekolah Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di kamp tersebut, ratusan orang berdesakan di ruang-ruang kelas yang kecil.

 

Gedung sekolah kini menjadi hunian sementara yang sudah penuh sesak dengan pengungsi yang kehilangan rumah, atau menyelamatkan jiwa masing-masing.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan baru saja membangun tenda darurat untuk melindungi keluarganya.

“Saya mengumpulkan sejumlah nilon, plastik, dan kayu untuk membuat tenda tambahan di sekolah. Tidak ada tempat untuk pergi,” katanya, sambil menunjukkan tenda buatan tangannya yang nampak primitif .

Kondisi Anak-anak Mengerikan

Tepat di depan sekolah, saya melihat pria dengan tergesa-gesa menggendong anak kecil ke dalam ambulans.

Paramedis mengambil anak itu dari pria tersebut.

Dia mengatakan kepada saya, layanan darurat sudah banyak menangani kasus anak-anak dan perempuan yang menderita sesak napas akibat asap dan debu karena pengeboman.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, pemutusan listrik telah berdampak buruk terhadap kemampuan rumah sakit dalam menenangi pasien.

Menurut laporannya, terdapat 1.100 pasien gagal ginjal – termasuk 38 anak-anak – terancam, karena pasokan listrik terputus.

Kemenkes juga mengatakan terbatasnya listrik mengancam nyawa 100 bayi dalam inkubator yang tak bisa lagi menjalankan fungsinya. (suara.com)

 

Berita Terkait

9 Cara Mengatasi Flek Hitam Menahun di Pipi Usia 45 Tahun ke Atas akibat Sinar Matahari
Kerusakan Hutan & Konflik Agraria: WALHI Sebut Satgas PKH Hanya “Ganti Pemain” ke BUMN
Polda Kalsel Sidik 13 Korporasi Karhutla: Terlibat Modal Asing, Tersebar di 4 Kabupaten
Prakiraan Cuaca BMKG 24 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang di Kota-Kota Ini
Mengurai Jalinan Bisnis Jhonlin Group dan Bank Mandiri di Balik Mega Akses Saham BYAN Rp26 Triliun
Menjelang Pencairan Tali Asih, Pembeli Lahan Angkat Bicara
Bupati Eddy Raya Tegaskan Komitmen Pemkab Barsel dalam Penanganan Karhutla di Kalteng
Rencana Gaji PNS dan ASN Lewat Koperasi Merah Putih Menuai Sorotan: Anggota DPRD Kalteng Wanti-wanti Kesiapan Sistem
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:10 WIB

9 Cara Mengatasi Flek Hitam Menahun di Pipi Usia 45 Tahun ke Atas akibat Sinar Matahari

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Kerusakan Hutan & Konflik Agraria: WALHI Sebut Satgas PKH Hanya “Ganti Pemain” ke BUMN

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:40 WIB

Prakiraan Cuaca BMKG 24 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang di Kota-Kota Ini

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:18 WIB

Mengurai Jalinan Bisnis Jhonlin Group dan Bank Mandiri di Balik Mega Akses Saham BYAN Rp26 Triliun

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:30 WIB

Menjelang Pencairan Tali Asih, Pembeli Lahan Angkat Bicara

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:31 WIB

Bupati Eddy Raya Tegaskan Komitmen Pemkab Barsel dalam Penanganan Karhutla di Kalteng

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Rencana Gaji PNS dan ASN Lewat Koperasi Merah Putih Menuai Sorotan: Anggota DPRD Kalteng Wanti-wanti Kesiapan Sistem

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Usut Tuntas Karhutla: Polri Identifikasi 97 Perusahaan Terlibat Kasus Pembakaran Hutan di Sumatra dan Kalimantan

Berita Terbaru