Zaman sudah berubah, masalah perjodohan pun tak lagi seperti kisah Siti Nurbaya. Perjodohan yang didasarkan atas paksaan orang tua. Kebebasan berpendapat dan memilih jalan hidup pribadi merupakan hak azasi manusia yang sangat dasar. Semakin maju perkembangan teknologi dan industri turut menjadikan pria wanita lebih mudah bertemu dan berinteraksi secara offline ataupun online.
Interaksi offline ataupun online dapat berlanjut menjadi kenalan pada suatu kelompok hobi, kelompok profesi, kelompok suku, kelompok ibadah dan masih banyak wadah-wadah yang memberi peluang mencari jodoh.
Namun jika melihat sekeliling, masih terdapat jumlah signifikan pria wanita yang mengeluh dalam usahanya mencari jodoh. Pencarian jodoh memang dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingg acara atau ruang perkenalan sangat terbuka tidak berbanding lurus dengan penemuan pasangan/jodoh menujup ernikahan. Seperti fenomena banyak terjadi dan banyak dibincangkan kawula muda saat ini adalah, “pacaran dengan siapa, eh nikahnya malah dengan yang lain”. Begitulah misteri perjodohan, hanyaTuhan Sang pemilik kehidupan mengetahuinya. Walau demikian usaha dan upaya adalah jalan penting untuk tetap dilakukan dalam menemukan jodoh.
Bagi pria-wanita single di Kalimantan Tengah yang berusia 16-30 tahun atau didefinisikan sebagai pemuda, peluang mencari jodoh dapat kita petakan menurut data dan analisisnya. Bahkan dari Badan Pusat Statistik, data tahun 2019 menunjukkan sebanyak 53,73% persen jumlah pemuda berstatus lajang/single/belum kawin (jumlahpria-wanita), sementara 44,76% berstatus kawin.
Selainituterdapat 1,51% sudah pernah kawin tetapi mengalami cerai mati atau cerai hidup, sehingga dapat dikategorikan juga sebagai pemuda single. Dari data tersebut, jumlah pemuda (priawanita) di Kalimantan Tengah berstatus lajang atau belum memiliki pasangan ada sebanyak 55,24% dan sedang proses menemukan pasangan hidup.Hal itu didukung pula dari penelitian Karel pada tahun 2016 bahwa ada sekitar 83,20% pria wanita single yang memili kisi kappositif terhadap pernikahan atau mengingikan pernikahan.
Jika kita petakan jumlah pemuda atau pria wanita single berdasarkan jenis kelamin, maka terdapat sebanyak 68,66% pria single dan 40,6% wanita single yang masih mencari atau menemukan pasangan hidup. Dari data ini dapat kita artikan secara proporsi wanita usia 16-30 tahun cenderung lebih banyak yang sudah kawin dibanding dengan pria. Lalu apakah ini dapat menandakan bahwa jumlah pria single lebih besar dibanding wanita single?Memahami data proposi ini harus berhati-hati karena kesimpulan seperti itu bisa saja salah. Mengapa? membandingkan diantara wanita dan pria mana yang lebih banyak single tentu harus disesuaikan dengan data jumlah absolut pria wanita itu sendiri.
Karena itu, jika kita telisik lebih dalam terkait data yang ada, jumlah pemuda(pria-wanita) di Kalimantan Tengah ada sebanyak 686.921 jiwa. Rasio jenis kelamin pemuda(pria-wanita) sebesar 109, yang berarti setiap 109 pria terdapat 100 wanita. Dari informasi jumlah absolut, pemuda (pria-wanita) dan rasio jenis kelamin ini kita dapat membuat persamaan yang nanti akan menghasilkan estimasi jumlah pria dan jumlah wanita. Persamaan matematis yang terbentuk, misalkan L ada jumlah pra dan P adalah jumlah wanita maka L + P = 686.921. Lalu persamaan kedua adalah atau bisa di sederhanakan menjadi L = 1,09 P. Dengan metode subtitusi yang pernah diajarkan dibangku Sekolah Menengah Pertama(SMP), maka diperoleh jumlah wanita kurang lebih sekitar 328.670 jiwa sedangkan jumlah pria sekitar 358.251 jiwa.
Dari jumlah pria-wanita inilah kita dapat melihat manakah diantara keduanya yang lebih banyak single. 68,66% dari 358.251 jiwa akan menghasilkan kurang lebih 245,975 jiwa pria yang single. Sedangkan untuk wanita, 40.6% dari 328.670 jiwa menghasilkan kurang lebih ada sebanyak 133,440 jiwa wanita single. Dari sini kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa wanita single berpeluang besar(52,25%) mendapatkan pria single di Kalimantan Tengah.
Jika melihat kondisi ini, wanita single di Kalimantan Tengah memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pasangan dibanding pria single. Tentu hal ini dapat menjadi satu berita baik bagi kaum wanita single di Kalimantan Tengah. Namun kesimpulan ini hanya didasarkan pada angka statistik peluang kuantitatif. Sebab dalam perjodohan atau pun dalam proses membentuk sebuah rumah tangga sangat ditentukan oleh banyak faktor, termasuk faktor budaya, agama, suku, kebiasaan, latar belakang pendidikan, status sosial, dan banyak hal lagi. Meski pasangan hidup seperti sebuah misteri yang sulitter prediksikan, penulis berharap bahwa pria wanita single dapat menemukan pasangan hidup masing-masing.
Penulis : Rosalinda Nainggolan, SST, M.Stat
Pegawai Badan Pusat Statistik RI
Isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.








![Gelombang panas ekstrem melanda wilayah timur laut Amerika Serikat, dengan Central Park, New York, mencatat suhu mendekati 38 derajat Celsius. [NY Post]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/07/gelombang-panas-225x129.jpg)








![Gelombang panas ekstrem melanda wilayah timur laut Amerika Serikat, dengan Central Park, New York, mencatat suhu mendekati 38 derajat Celsius. [NY Post]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/07/gelombang-panas-360x200.jpg)





![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

