Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber: Magnific.com

Sumber: Magnific.com

1TULAH.COM-Dunia busana bergerak dalam tempo yang sangat cepat. Tren fashion baru terus bermunculan dalam hitungan minggu, didukung oleh harga terjangkau yang memicu perilaku konsumtif. Fenomena yang dikenal sebagai fast fashion ini mengandalkan produksi massal dan perputaran gaya yang serba instan.

Namun, di tengah gempuran tren serba cepat ini, muncul pergeseran gaya hidup di kalangan anak muda. Generasi Z kini kian gencar beralih ke thrifting atau berburu pakaian bekas berkualitas. Mengapa thrifting kini bertransformasi dari sekadar tren belanja hemat menjadi gaya hidup populer?

Bukan Cuma Murah, Thrifting Kirim Pesan Keunikan Gaya Personal

Laporan dari Goodwill Industries International bertajuk “Thrift vs. Fast Fashion: Why Gen Z Is Choosing Secondhand” mengungkapkan bahwa ketertarikan Gen Z terhadap busana secondhand tidak hanya didorong oleh motif efisiensi finansial.

Ada beberapa faktor kunci yang membuat belanja pakaian bekas kian digandrungi:

  1. Gaya Unik dan Otentik: Berbeda dengan produk fast fashion yang diproduksi secara massal dan dipakai jutaan orang, pakaian bekas menawarkan kelangkaan (vintage/one-of-a-kind).

  2. Ekspresi Diri: Konsumen memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi gaya personal tanpa harus terlihat seragam dengan tren arus utama.

  3. Peran Media Sosial: Platform digital seperti TikTok, Instagram, dan Pinterest menjadi panggung utama budaya thrifting. Konten seperti thrift haul, panduan mix and match, hingga kreasi upcycling (mengubah pakaian lama menjadi model baru) terus meramaikan media sosial.

Baca Juga :  Kejagung Tetapkan 2 Tersangka Skandal Korupsi PT TPL Tbk, Negara Rugi Rp2 Triliun

Ancaman Fast Fashion terhadap Lingkungan Global

Di balik harganya yang terjangkau, industri fast fashion menyimpan dampak ekologis yang signifikan. Proses manufaktur busana membutuhkan konsumsi air, bahan baku, dan energi dalam jumlah masif yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Ketika pakaian dibuang dalam kurun waktu singkat hanya karena pergantian tren, tumpukan limbah tekstil pun tak terelakkan.

Data dari United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan:

  • Lonjakan Produksi: Produksi pakaian global meningkat dua kali lipat sepanjang rentang tahun 2000–2015.

  • Masa Pakai Menurun: Pada periode yang sama, durasi pemakaian satu potong pakaian justru merosot sebesar 36%.

  • Volume Limbah Tekstil: Diperkirakan terdapat sekitar 92 juta ton limbah tekstil yang dihasilkan di seluruh dunia setiap tahunnya.

  • Emisi Karbon: Sektor tekstil dan fashion menyumbang sekitar 2% hingga 8% emisi gas rumah kaca global.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite untuk Orang Kaya, Targetkan Kuartil 9 dan 10

Thrifting sebagai Implementasi Ekonomi Sirkular

Sebagai langkah untuk menekan kerusakan lingkungan, membeli pakaian bekas (secondhand) menjadi solusi praktis untuk memperpanjang usia pakai suatu produk (product lifespan).

Pakaian yang tak lagi digunakan oleh pemilik pertama diberikan “kehidupan kedua” saat berpindah tangan, sehingga meminimalkan risiko langsung terbuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

UNEP menegaskan bahwa perilaku berikut merupakan pilar penting dalam menerapkan ekonomi sirkular di sektor konsumen:

  • Membeli dan memakai pakaian secondhand.

  • Memperbaiki (repair) busana yang rusak ketimbang langsung dibuang.

  • Saling bertukar pakaian (clothing swap) antar sesama komunitas.

  • Memanfaat ulang (reuse/upcycle) kain menjadi produk fungsional lain.

Bagi Generasi Z, thrifting bukan lagi sekadar pilihan alternatif saat anggaran terbatas, melainkan bentuk kesadaran atas dampak konsumsi terhadap planet. Di tengah derasnya arus fast fashion, keputusan untuk memakai pakaian bekas membuktikan bahwa tampil bergaya dan relevan tidak harus selalu dengan membeli barang baru. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Pasca-Gempa Magnitudo 7,7 Flores: Waspada Informasi Hoaks dan Pahami Arahan Resmi BMKG
Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi
Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla
Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul
Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun
Kondisi Terbaru Andrie Yunus: Alami Kecemasan Berat dan Jalani Rawat Jalan Pasca-Penyiraman Air Keras
KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu
Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 10:28 WIB

Pasca-Gempa Magnitudo 7,7 Flores: Waspada Informasi Hoaks dan Pahami Arahan Resmi BMKG

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:14 WIB

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:09 WIB

Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:01 WIB

Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:40 WIB

Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:18 WIB

Kondisi Terbaru Andrie Yunus: Alami Kecemasan Berat dan Jalani Rawat Jalan Pasca-Penyiraman Air Keras

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:44 WIB

KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:43 WIB

Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027

Berita Terbaru