Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dampak kabut asap karhutla pada kesehatan tubuh. [Suara.com/Syahda]

Ilustrasi dampak kabut asap karhutla pada kesehatan tubuh. [Suara.com/Syahda]

1TULAH.COM-Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bukan sekadar persoalan jarak pandang yang terbatas atau udara keruh. Di balik pekatnya warna kelabu di udara, tersimpan campuran gas berbahaya dan mikropartikel yang dapat merusak organ tubuh manusia secara permanen jika terhirup.

Pemerintah mencatat hingga Agustus 2026, luasan lahan yang terdampak karhutla telah mencapai 107 ribu hektare, tersebar mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga kawasan pegunungan di Jawa dan Nusa Tenggara Barat. Enam provinsi pun telah ditetapkan dalam status siaga karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Apa Saja Kandungan Toksik dalam Kabut Asap Karhutla?

Asap kebakaran hutan merupakan toxic mix atau campuran racun kompleks dari material vegetasi yang terbakar. Menurut Environmental Protection Agency (EPA) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), komponen utama dalam kabut asap meliputi:

  • Particulate Matter (PM2.5): Partikel padat/cair berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil (sepertiga puluh diameter rambut manusia).

  • Gas Berbahaya: Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Oksida ($\text{NO}_2$), dan Ozon ($\text{O}_3$).

  • Senyawa Organik Volatil: Hidrokarbon, Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH), metoksi fenol, dan levoglukosan.

+-------------------------------------------------------------------+
|               KOMPOSISI BAHAYA KABUT ASAP KARHUTLA                |
+-------------------------------------------------------------------+
|  [PM2.5] -----------> Tembus Paru-Paru & Masuk Pembuluh Darah     |
|  [Karbon Monoksida] -> Menurunkan Kapasitas Oksigen Darah         |
|  [Nitrogen Oksida] -> Mengiritasi Saluran Pernapasan & Alveolus   |
|  [Senyawa PAH] -----> Memicu Inflamasi Sistemik & Kanker          |
+-------------------------------------------------------------------+

Mengapa PM2.5 Paling Berbahaya bagi Tubuh?

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa PM2.5 adalah komponen paling krusial karena ukurannya yang mikro.

Baca Juga :  Upacara Hari Jadi ke-24 Kabupaten Barito Timur: Momentum Perkuat Sinergi Menuju Bartim SEGAH

“Karena kecilnya partikel ini, maka dapat masuk jauh ke dalam paru ke bagian yang disebut alveolus paru. Dari alveolus—tempat pertukaran udara dan darah—dampaknya menyebar melalui peredaran darah dan mencetuskan inflamasi atau peradangan sistemik,” jelas Prof. Tjandra.

Artinya, hilangnya kabut secara kasatmata tidak menjamin udara sudah bersih. Partikel PM2.5 tetap melayang di udara meski langit tampak jernih, sehingga indikator keamanan harus merujuk pada alat ukur konsentrasi partikulat seperti Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Dampak Kesehatan: Akut vs. Kronis

Paparan polutan karhutla dapat menyerang organ tubuh secara bertahap, mulai dari gejala ringan hingga komplikasi berat pada sistem kardiorespirasi.

Kategori Paparan Gejala & Dampak pada Tubuh
Dampak Akut (Jangka Pendek) Mata perih/berair, iritasi tenggorokan, batuk, pusing, mudah lelah, dan napas berbunyi (wheezing).
Dampak Kronis (Jangka Panjang) Penurunan fungsi paru permanen, kambuhnya Asma dan PPOK, serta peningkatan risiko gangguan jantung dan stroke.

Kelompok Paling Rentan

Risiko tertinggi dialami oleh populasi sensitif yang membutuhkan perlindungan ekstra:

  1. Bayi dan Anak-Anak: Frekuensi napas lebih cepat dan organ pernapasan masih berkembang.

  2. Lansia & Ibu Hamil: Rentan terhadap komplikasi sirkulasi darah dan janin.

  3. Penderita Disease Komorbid: Pasien asma, bronkitis, paru kronis, dan gangguan jantung.

  4. Pekerja Luar Ruangan: Memiliki durasi pemaparan (exposure) polutan tertinggi.

Baca Juga :  Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?

Melonjaknya Kasus ISPA di Wilayah Terdampak

Hubungan antara memburuknya kualitas udara dan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terlihat jelas di beberapa daerah terdampak karhutla sepanjang 2026:

  • Kalimantan Tengah: Tercatat 2.052 kasus ISPA di 14 kabupaten/kota hanya dalam rentang 5 hari (7–11 Agustus 2026). Kota Palangka Raya dan Kotawaringin Barat menyumbang angka tertinggi.

  • Kayong Utara (Kalbar): Dinas Kesehatan mencatat 934 kasus ISPA periode Juni hingga awal Agustus 2026.

  • Sumatra Selatan: Meski sempat mengalami tren penurunan di awal tahun, kota Palembang mencatat akumulasi tertinggi mencapai 85.032 kasus ISPA.

Panduan Perlindungan Diri dari Kabut Asap

Untuk meminimalkan risiko dampak kesehatan akibat kabut asap, langkah-langkah mitigasi berikut sangat dianjurkan:

  1. Gunakan Masker yang Tepat: Masker kain atau bedah biasa kurang efektif menahan PM2.5. Gunakan respirator standar (seperti N95/KN95) jika terpaksa beraktivitas di luar rumah.

  2. Batasi Aktivitas Fisik Luar Ruangan: Hindari olahraga berat di luar gedung karena mempercepat laju inhalasi polutan ke paru-paru.

  3. Pantau Nilai ISPU: Cek status kualitas udara secara berkala. Kategori 101–200 (Tidak Sehat) memerlukan pembatasan aktivitas luar gedung.

  4. Jaga Kualitas Udara Dalam Rumah: Tutup ventilasi saat asap pekat dan manfaatkan air purifier berfilter HEPA.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera kunjungi fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas menetap, nyeri dada, atau batuk parah yang memburuk, terutama pada anak-anak dan lansia. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi
Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul
Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun
Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?
Kondisi Terbaru Andrie Yunus: Alami Kecemasan Berat dan Jalani Rawat Jalan Pasca-Penyiraman Air Keras
KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu
Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027
KPK Ungkap 27 Pihak dan 313 PIHK Terima Aliran Dana Kasus Kuota Haji
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:14 WIB

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:09 WIB

Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:01 WIB

Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:40 WIB

Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:27 WIB

Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:44 WIB

KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:43 WIB

Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:40 WIB

KPK Ungkap 27 Pihak dan 313 PIHK Terima Aliran Dana Kasus Kuota Haji

Berita Terbaru