Potret IPM Tiga Barito: Antara Piagam dan Realita

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 06:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perhitungan data per kabupaten di 3 kabupaten di Kalimantan Tengah

Perhitungan data per kabupaten di 3 kabupaten di Kalimantan Tengah

Oleh : Fahmi R Kubra

Di Bulan Mei 2026 ini, dinding media sosial kita mungkin penuh dengan senyum sumringah para pejabat Kabupaten Barito Utara saat berfoto dengan piagam penghargaan. Narasi “Memborong Penghargaan” dalam Rakorda Stunting 2026, hingga “Juara 1 Penurunan Pengangguran se-Kalimantan”. Piagam menjadi bumbu penyedap yang nikmat di telinga masyarakat. Namun, jika kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk seremoni itu dan membuka dokumen Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kalimantan Tengah 2025, kita akan menemukan sebuah ironi yang getir.

Mari kita bicara tentang “Tiga Barito” — Utara, Selatan, dan Timur. Ketiganya bersaudara, berbagi aliran sungai yang sama, namun nasib IPM (Indeks Pembangunan Manusia) mereka bak bumi dan langit.

Si Bungsu yang “Kurang Ajar”

Jika pembangunan adalah soal usia, maka Barito Utara seharusnya adalah “sang guru”. Lahir pada tahun 1950, kabupaten ini sudah punya waktu 75 tahun untuk menata diri. Bandingkan dengan Barito Selatan (lahir 1959) atau si bungsu Barito Timur yang lahir melalui UU №5 Tahun 2002.

Namun, statistik tidak mengenal hormat pada yang tua. Di tahun 2025, si bungsu Barito Timur (usia 23 tahun) justru melakukan tindakan yang “kurang ajar” secara prestasi: mereka melesat ke Peringkat 3 se-Kalimantan Tengah dengan skor IPM 75,50. Ia sukses menyalip sang induk, Barito Selatan, yang berada di Peringkat 4.

Lalu di mana posisi sang kakak tertua, Barito Utara? Ia masih betah berteduh di Peringkat 9. Sebuah posisi yang sangat konsisten — atau mungkin lebih tepat disebut stagnan — karena selama lima tahun terakhir (2021–2025), peringkat ini seolah sudah dipatenkan oleh Barito Utara.

Ambruknya Masa Depan: Hilangnya Separuh Generasi

Baca Juga :  Penting, Mendesak, dan Ada Dananya

Di balik layar penghargaan, ada angka yang sangat mengkhawatirkan: Angka Partisipasi Murni (APM) SMA. Dalam setahun (2024–2025), angka ini ambruk dari 63 persen menjadi hanya 54 persen. Bayangkan: dari 100 anak usia 16–18 tahun di Barito Utara, 46 orang tidak lagi berada di bangku sekolah. Kehilangan hampir separuh generasi muda dari sistem pendidikan adalah alarm bahaya. Bagaimana mungkin kita bangga dengan piagam “Juara Terfavorit” kependudukan, sementara hampir separuh calon pemimpin masa depan kita berhenti sekolah? Ini bukan sekadar angka; ini adalah potensi SDM yang padam.

Ilusi Juara Favorit dan Raja yang Sebenarnya

Ada yang menggelitik saat Barito Utara mendapat gelar “Juara Terfavorit” dalam penilaian kinerja stunting atau kependudukan. Dalam bahasa keseharian, “Juara Favorit” sering kali menjadi pelipur lara bagi mereka yang tidak masuk tiga besar. Jika ingin melihat apa itu “memborong penghargaan” yang sesungguhnya, tengoklah Kabupaten Gunung Mas. Sama-sama lahir tahun 2002 (pecahan Kapuas), Gunung Mas tampil sebagai “Raja Jawara” dalam Rakorda Stunting 2026 dengan menyapu bersih Juara I di tiga kategori utama. Prestasi Gunung Mas berbanding lurus: administrasinya rapi, dan angka stunting riilnya adalah yang terendah se-Kalteng (14,1%). Sementara Barito Utara? Masih berkutat di angka 20,4%.

Begitu juga soal dompet. Pengeluaran riil per kapita warga Barito Utara (Rp11,53 juta) adalah yang paling cekak di antara Tiga Barito. Bandingkan dengan warga Barito Timur yang sudah punya daya beli Rp13,01 juta per tahun. Tampaknya, “memborong penghargaan” tidak otomatis membuat warga bisa memborong kebutuhan pokok.

Hantu Juru Kunci di Tahun 2030

Baca Juga :  Barito Utara 2026: Badai “Double Hit” dan Ancaman Resesi Lokal

Jika tren “jalan di tempat” ini dibiarkan, masa depan Barito Utara sedang dipertaruhkan. Musuh terbesarnya saat ini bukan lagi Barito Timur, melainkan Kabupaten Kapuas. Di tahun 2025, selisih IPM Barito Utara (73,58) dan Kapuas (73,47) hanya tinggal 0,11 poin.

Jika Barito Utara tidak segera bangun, dalam 2–3 tahun ke depan Kapuas akan menyalip, dan Barito Utara akan terlempar ke Peringkat 10. Jika kabupaten lain terus berakselerasi, predikat “Juru Kunci” bukan lagi sekadar mimpi buruk, melainkan kemungkinan statistik di tahun 2030. Peringkat yang melorot bukan sekadar angka; ia adalah indikator daya saing yang lumpuh, pelarian SDM unggul ke daerah tetangga, hingga investasi yang akan memilih menjauh.

Waktunya Berhenti Ber-kosmetik

Rakyat tidak makan piagam. Data BPS menunjukkan penduduk Barito Timur sudah hampir melahap bangku SMA (RLS 9,71 tahun), sedangkan di Barito Utara, rata-rata warganya masih tertahan di bangku SMP (8,93 tahun). Begitu juga soal dompet; pengeluaran warga Barito Utara adalah yang paling “hemat” di antara Tiga Barito.

IPM adalah rapor asli. Dan rapor Barito Utara di tahun 2025 dengan jelas berpesan: “Si Kakak perlu belajar banyak dari Si Bungsu.” Kita butuh transformasi fundamental — dari sekadar beasiswa seremonial menuju penguatan kualitas pendidikan vokasi, dan dari sekadar bantuan pangan menuju kemandirian ekonomi masyarakat.

Kita harus memilih: terus merasa nyaman dengan piagam di dinding kantor, atau mulai berkeringat memperbaiki fundamental di lapangan. Jangan sampai lima tahun lagi, peringkat 9 pun akan terasa seperti kemewahan yang mulai hilang karena kita tertidur saat anak-anak kita sudah mulai berlari. Wallahu a’lam bish-shawab…(*)

Berita Terkait

Barito Utara 2026: Badai “Double Hit” dan Ancaman Resesi Lokal
Penting, Mendesak, dan Ada Dananya
Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan
Hari Buruh 2026: Menguak Realita Beban Berlapis dan Ketimpangan Upah Pekerja Perempuan
Micro-Solar: Peluang Strategis di Tengah Krisis Iklim dan Geopolitik
UMK Barito Utara Tertinggi se-Kalteng: Berkah atau Bencana?
Ramadan Tanpa Adzan
[OPINI] Menuju Misi Perubahan PWI Barito Utara di Bawah Kepemimpinan H Deni Hariadi

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 06:05 WIB

Potret IPM Tiga Barito: Antara Piagam dan Realita

Senin, 11 Mei 2026 - 07:17 WIB

Barito Utara 2026: Badai “Double Hit” dan Ancaman Resesi Lokal

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:06 WIB

Penting, Mendesak, dan Ada Dananya

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:19 WIB

Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:36 WIB

Hari Buruh 2026: Menguak Realita Beban Berlapis dan Ketimpangan Upah Pekerja Perempuan

Kamis, 30 April 2026 - 08:26 WIB

Micro-Solar: Peluang Strategis di Tengah Krisis Iklim dan Geopolitik

Selasa, 28 April 2026 - 08:43 WIB

UMK Barito Utara Tertinggi se-Kalteng: Berkah atau Bencana?

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:06 WIB

Ramadan Tanpa Adzan

Berita Terbaru

Foto Ketua DPRD Kabupaten Barito Utara, Hj. Merry Rukaini

DPRD BARUT

Ketua DPRD Barito Utara Ikut Hadiri Kunjungan Pemkab ke KPK RI

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:34 WIB