Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fahmi R Kubra

Fahmi R Kubra

Oleh : Fahmi R Kubra

Agroindustrial Development (IPB), Local Economic Resourses Development (IUJ-Japan),Post Harvest Technology (IPB), Agriculture Engineering (IPB)

Kabupaten Barito Utara baru saja menorehkan prestasi membanggakan. Peringkat I Regional Kalimantan untuk kategori penurunan tingkat pengangguran, lengkap dengan insentif Rp3 miliar dari Kementerian Dalam Negeri. Bupati Shalahuddin dan seluruh jajaran layak menerima apresiasi setinggi-tingginya. Ini adalah bukti nyata bahwa kerja keras kita bersama mulai membuahkan hasil.

Tapi izinkan saya mengajak kita semua — bukan untuk meragukan prestasi itu, melainkan untuk memanfaatkan momen ini sebagai pijakan, bukan batu sandungan. Karena sejarah sering mencatat: Piala justru menjadi akhir dari semangat perubahan, bukan awal dari babak baru.

Prestasi yang Tak Terbantahkan

Data tidak bohong. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Barito Utara turun dari 5,14% (2021) menjadi 4,54% (2025). Lebih dari 22 ribu warga terserap kerja dalam empat tahun. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja juga meningkat signifikan. Program pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK), bantuan alat berat untuk dua kecamatan, serta optimalisasi sektor tambang dan perkebunan mulai menunjukkan dampak di lapangan.

Penghargaan dari Kemendagri adalah validasi eksternal yang tidak bisa kita abaikan. Ini modal berharga. Tapi modal harus dikelola, bukan disimpan di etalase.

Di Balik Piala, Ada Pekerjaan Rumah yang Menggunung

Mari kita buka lembar data lain yang tidak kalah penting. Tujuh dari sepuluh pengangguran di Barito Utara (70,74%) adalah lulusan SMA dan SMK. Enam dari sepuluh pengangguran (64,09%) adalah anak muda usia 15–24 tahun. Tingkat Pengangguran Terbuka perempuan mencapai 7,98% — tiga kali lipat laki-laki yang hanya 2,73%. Lebih dari separuh pekerja kita (51,21%) masih bergulat di sektor informal, dengan upah yang naik turun tanpa jaminan sosial. Dan 53,66% jalan kita masih rusak berat — menghambat petani menjual hasil panen, menghambat mobilitas tenaga kerja.

Baca Juga :  Hari Buruh 2026: Menguak Realita Beban Berlapis dan Ketimpangan Upah Pekerja Perempuan

Inilah yang saya sebut sebagai “pekerjaan rumah yang tidak terlihat dari piala”. Para lulusan SMA/SMK kita kebingungan setelah lulus sekolah. Anak-anak SMK dilatih menjadi operator komputer, teknisi akuntansi perkantoran, sementara industri tambang dan perkebunan di sekitar kita justru berteriak kehausan akan operator alat berat dan teknisi mesin pengolah sawit. Perempuan-perempuan kita masih menghadapi diskriminasi halus dalam rekrutmen. Petani kita terpaksa menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga murah karena jalan rusak membuat biaya angkut membengkak.

Piala tidak akan menyelesaikan semua itu. Hanya kerja keras lanjutan yang bisa.

Jangan Terbuai Piala, Mari Lanjutkan Perjuangan.

Karena itu, dengan penuh hormat kepada seluruh jajaran Pemkab yang telah berhasil meraih apresiasi ini, saya menyampaikan beberapa rekomendasi sebagai agenda lanjutan pasca-piala. Bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengingatkan bahwa perjuangan sejati justru dimulai setelah penghargaan diraih.

Pertama, evaluasi kurikulum SMK dalam 90 hari ke depan. Libatkan langsung pengusaha tambang, perkebunan, dan industri pengolahan. Hentikan pelatihan usang. Ganti dengan teknik mesin alat berat, otomotif, dan pengolahan hasil kebun. BLK yang sedang dibangun harus menjadi jembatan kompetensi, bukan sekadar monumen. Ini kunci menjawab 70,74% pengangguran lulusan SMA/SMK.

Kedua, tetapkan target baru yang lebih ambisius dan inklusif. Turunkan TPT perempuan menjadi di bawah 5% dalam dua tahun. Kurangi pekerja informal menjadi di bawah 45% melalui formalisasi usaha mikro dan insentif bagi perusahaan yang memberikan jaminan sosial penuh. Pastikan setiap kecamatan memiliki akses pelatihan berbasis kebutuhan industri — bisa melalui mobile training unit jika BLK tetap terpusat.

Ketiga, bentuk Pos Pengaduan Ketenagakerjaan yang berani dan mudah diakses. Kita tidak bisa menutup mata pada praktik penahanan ijazah dan dugaan pelanggaran Upah Minimum Kabupaten yang pernah diungkap oleh Pj Bupati dan temuan inspeksi mendadak DPRD. Libatkan lembaga adat sebagai mitra pengawas, sesuai dengan Misi 6 visi-misi kita. Beri sanksi tegas kepada perusahaan nakal. Penghargaan dari pusat harus diikuti dengan penegakan aturan yang konsisten di daerah.

Baca Juga :  Micro-Solar: Peluang Strategis di Tengah Krisis Iklim dan Geopolitik

Keempat, wajibkan kebijakan ramah gender di setiap perusahaan besar. Instruksikan perusahaan tambang dan perkebunan untuk menyusun laporan triwulan tentang proporsi tenaga kerja perempuan, kebijakan cuti melahirkan, fleksibilitas jam kerja, dan bukti tidak adanya diskriminasi dalam rekrutmen. Beri insentif fiskal bagi yang memenuhi target. Ini adalah wujud nyata dari Misi 7 visi-misi kita tentang peningkatan pemberdayaan perempuan.

Kelima, arahkan program bantuan alat berat untuk membuka akses pertanian dan perkebunan rakyat. Jangan hanya untuk proyek-proyek pemerintah. Ketika jalan desa membaik, petani tidak lagi terpaksa menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga murah. Lapangan kerja akan tumbuh dari desa, bukan hanya dari kota.

Penutup: Piala sebagai Awal, Bukan Akhir

Sekali lagi, selamat atas Peringkat I Regional Kalimantan. Insentif Rp3 miliar adalah amanah yang harus digunakan untuk mempercepat BLK dan pelatihan-pelatihan yang relevan. Apresiasi dari Kemendagri adalah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan.

Tapi ingat: Piala hanya satu malam. Pekerjaan rumah adalah setiap hari. Rakyat tidak sekadar butuh angka TPT turun di atas kertas. Mereka butuh kepastian bahwa setelah lulus SMA/SMK, ada pekerjaan layak yang menanti. Mereka butuh jaminan bahwa perempuan tidak lagi didiskriminasi. Mereka butuh jalan mulus agar hasil panen tidak sia-sia. Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan. Justru di sinilah perjuangan sesungguhnya dimulai.

Barito Utara yang Maju, Tumbuh Pesat, Sejahtera dan Berkeadilan — bukan hanya slogan di papan reklame dan bukan hanya hiasan di piala. Tapi kenyataan yang dirasakan setiap warganya, setiap hari.

Mari kita rayakan piala. Tepuk tangan sejenak. Lalu segera kembali bekerja. Karena masih ada 70 persen masalah yang menunggu untuk diurai. Wallahu a’lam bish-shawab…

Berita Terkait

Hari Buruh 2026: Menguak Realita Beban Berlapis dan Ketimpangan Upah Pekerja Perempuan
Micro-Solar: Peluang Strategis di Tengah Krisis Iklim dan Geopolitik
UMK Barito Utara Tertinggi se-Kalteng: Berkah atau Bencana?
Ramadan Tanpa Adzan
[OPINI] Menuju Misi Perubahan PWI Barito Utara di Bawah Kepemimpinan H Deni Hariadi
Feri Amsari Bongkar Dugaan Niat Tersembunyi di Balik Pemilihan Penyelenggara Pemilu Bermasalah
Catatan Represi Aparat Warnai Demo Tolak UU TNI: Demokrasi Terancam?
Kebebasan Pers Terancam, Demokrasi Indonesia Dipertanyakan?

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:19 WIB

Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:36 WIB

Hari Buruh 2026: Menguak Realita Beban Berlapis dan Ketimpangan Upah Pekerja Perempuan

Kamis, 30 April 2026 - 08:26 WIB

Micro-Solar: Peluang Strategis di Tengah Krisis Iklim dan Geopolitik

Selasa, 28 April 2026 - 08:43 WIB

UMK Barito Utara Tertinggi se-Kalteng: Berkah atau Bencana?

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:06 WIB

Ramadan Tanpa Adzan

Jumat, 14 November 2025 - 11:18 WIB

[OPINI] Menuju Misi Perubahan PWI Barito Utara di Bawah Kepemimpinan H Deni Hariadi

Selasa, 29 April 2025 - 05:47 WIB

Feri Amsari Bongkar Dugaan Niat Tersembunyi di Balik Pemilihan Penyelenggara Pemilu Bermasalah

Minggu, 6 April 2025 - 09:38 WIB

Catatan Represi Aparat Warnai Demo Tolak UU TNI: Demokrasi Terancam?

Berita Terbaru

Fahmi R Kubra

Opini

Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:19 WIB