Fundamental Ekonomi Kokoh, BI Optimis Rupiah Tetap Resilien Melawan Gejolak Geopolitik

- Jurnalis

Kamis, 23 April 2026 - 09:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Bank Indonesia. [Suara.com]

Ilustrasi Bank Indonesia. [Suara.com]

1TULAH.COM-Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa Bank Indonesia tetap berada di garda terdepan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Meski saat ini Rupiah tengah menghadapi tekanan hebat akibat ketidakpastian pasar keuangan internasional dan gejolak geopolitik, BI memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kokoh.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar secara virtual pada Rabu (22/4/2026), Perry meyakinkan pasar bahwa BI memiliki “amunisi” yang sangat memadai untuk melakukan intervensi dan stabilisasi.

Cadangan Devisa: Fondasi Kuat Ketahanan Eksternal

Salah satu poin utama yang ditegaskan oleh Perry Warjiyo adalah posisi cadangan devisa (Cadev) Indonesia yang berada di angka 148,2 miliar dolar AS. Angka ini dinilai jauh di atas standar kecukupan internasional.

“Kami terus melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Cadangan devisa kami sebesar 148,2 miliar dolar AS masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi ini,” ujar Perry.

Cadangan devisa tersebut berfungsi sebagai jaring pengaman untuk:

  • Intervensi Pasar: Menjaga pasokan dolar di pasar domestik guna meredam volatilitas berlebih.

  • Ketahanan Eksternal: Memastikan Indonesia mampu menghadapi dampak dari ketegangan geopolitik dunia yang tidak menentu.

Baca Juga :  Pemkab Bartim Mediasi Sengketa Lahan Warga Desa Unsum dengan PT Bartim Coalindo dan PT MUTU

Strategi BI: Optimalkan SRBI dan Tarik Modal Asing

Selain mengandalkan intervensi fisik di pasar valas, Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan moneter melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Selama sebulan terakhir, BI telah melakukan penyesuaian pada struktur imbal hasil (yield) instrumen tersebut. Langkah strategis ini bertujuan untuk:

  1. Menarik Aliran Modal Asing (Portfolio Inflow): Dengan imbal hasil yang lebih kompetitif, investor asing diharapkan kembali masuk ke pasar domestik.

  2. Memperkuat SBN: Tidak hanya melalui SRBI, aliran modal juga diarahkan untuk memperkokoh posisi Surat Berharga Negara (SBN).

  3. Likuiditas Terjaga: Memastikan ketersediaan likuiditas yang sehat di pasar keuangan nasional.

Analisis BI: Rupiah Saat Ini Masih Undervalued

Secara teknis, Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa posisi kurs Rupiah hari ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Namun, dengan melihat data makroekonomi, BI optimis Rupiah akan segera menemukan titik keseimbangan baru yang lebih kuat.

Faktor Pendukung Penguatan Rupiah:

  • Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi: Indonesia tetap menunjukkan performa pertumbuhan yang solid di tengah perlambatan global.

  • Inflasi Rendah: Terjaganya daya beli masyarakat karena laju inflasi yang terkendali dalam sasaran.

  • Daya Tarik Investasi: Indonesia masih menjadi destinasi utama bagi investor yang mencari pertumbuhan jangka panjang.

Baca Juga :  Hati-hati! Ini 9 Saham Sultan dengan Kepemilikan Terpusat Versi Bursa Efek Indonesia

“Secara fundamental, nilai tukar Rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat. Hal ini didukung oleh komitmen penuh Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas,” tambah Perry.

Sinergi Kebijakan: Kunci Menghadapi Guncangan Eksternal

Bank Indonesia tidak berjalan sendiri. Perry menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah. Koordinasi yang erat ini menjadi tameng utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional dari risiko guncangan eksternal.

Masyarakat dan pelaku pasar diminta untuk tetap optimis. Proyeksi ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 tetap berada di jalur positif, didukung oleh instrumen moneter yang resilien dan manajemen risiko yang terukur.

Optimisme Bank Indonesia didasarkan pada data konkret dan instrumen yang sudah teruji. Bagi investor, penguatan struktur imbal hasil SRBI menjadi peluang menarik di tengah volatilitas global, sementara bagi masyarakat umum, cadangan devisa yang jumbo menjadi jaminan bahwa stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas utama otoritas moneter. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Polda Riau Amankan 39 Tersangka Penyelewengan Puluhan Ton BBM Subsidi
Hati-hati! Ini 9 Saham Sultan dengan Kepemilikan Terpusat Versi Bursa Efek Indonesia
Pesan Mendalam Apristini Arton di Hari Kartini 2026 untuk Perempuan Kalimantan Tengah
Polri Ungkap Peran Tersangka pada Kasus Impor Ilegal Ponsel Asal China
UKW di Muara Teweh Ditutup Pendaftarannya, Peserta Membludak
KPK Sita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Soal Kasus Bea Cukai
Menkeu Purbaya Ancam Pecat Pegawai Lambat: “Tak Kerja, Siap-siap Angkat Koper!”
Harga Pangan Hari Ini 22 April 2026: Kelompok Cabai dan Minyak Goreng Melonjak Tajam
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 11:48 WIB

Polda Riau Amankan 39 Tersangka Penyelewengan Puluhan Ton BBM Subsidi

Kamis, 23 April 2026 - 09:48 WIB

Fundamental Ekonomi Kokoh, BI Optimis Rupiah Tetap Resilien Melawan Gejolak Geopolitik

Kamis, 23 April 2026 - 09:39 WIB

Hati-hati! Ini 9 Saham Sultan dengan Kepemilikan Terpusat Versi Bursa Efek Indonesia

Rabu, 22 April 2026 - 15:17 WIB

Polri Ungkap Peran Tersangka pada Kasus Impor Ilegal Ponsel Asal China

Rabu, 22 April 2026 - 15:16 WIB

UKW di Muara Teweh Ditutup Pendaftarannya, Peserta Membludak

Rabu, 22 April 2026 - 14:37 WIB

KPK Sita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Soal Kasus Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 - 13:33 WIB

Menkeu Purbaya Ancam Pecat Pegawai Lambat: “Tak Kerja, Siap-siap Angkat Koper!”

Rabu, 22 April 2026 - 11:22 WIB

Harga Pangan Hari Ini 22 April 2026: Kelompok Cabai dan Minyak Goreng Melonjak Tajam

Berita Terbaru

MotoGP (Instagram/@motogp)

Olahraga

MotoGP 2026 Kembali Digelar di Jerez Spanyol Akhir Pekan Ini

Kamis, 23 Apr 2026 - 11:03 WIB