1TULAH.COM-Pernahkah Anda meluangkan waktu berjam-jam berkeliling mal, mencoba sepatu, mengecek tekstur kain baju, atau bertanya detail produk kecantikan, namun berakhir dengan tangan hampa? Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini kini menjadi tren yang kian nyata di pusat perbelanjaan kota-kota besar.
Window shopping—kegiatan melihat-lihat tanpa niat membeli di tempat—telah bergeser fungsi. Mal tidak lagi sekadar tempat transaksi, melainkan berubah menjadi “katalog fisik” raksasa bagi konsumen sebelum mereka memutuskan untuk bertransaksi di marketplace atau toko daring.
Fenomena ROHANA dan ROJALI: Viral di Media Sosial
Di Indonesia, perilaku pengunjung mal ini melahirkan istilah unik yang sempat viral di media sosial:
-
ROJALI: Rombongan Jarang Beli.
-
ROHANA: Rombongan Hanya Nanya.
Istilah ini menggambarkan realitas sosial di mana kerumunan pengunjung pusat perbelanjaan sering kali hanya bertujuan untuk “mencuci mata” atau sekadar rekreasi. Fenomena ini semakin mencolok menjelang Hari Raya Lebaran. Di saat harga kebutuhan pokok dan barang sekunder mulai merangkak naik, konsumen menjadi lebih selektif dan berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Mengapa Pengunjung Mal Malas Belanja Langsung?
Berdasarkan data dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), kunjungan ke mal sebenarnya mengalami kenaikan sekitar 10% pada periode awal tahun 2025. Namun, kenaikan jumlah langkah kaki (foot traffic) ini tidak berbanding lurus dengan nilai transaksi di kasir toko.
Ada beberapa faktor utama yang mendorong bertambahnya populasi ROJALI dan ROHANA:
1. Selisih Harga yang Signifikan Kuzen, seorang karyawan toko kecantikan di mal Central Park, Jakarta Barat, mengungkapkan bahwa belanja daring menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif. “Online itu pastinya lebih murah. Kalau di toko fisik, ada biaya operasional yang membuat harga sulit bersaing dengan harga di aplikasi,” ujarnya.
2. Fleksibilitas Waktu dan Kepraktisan Belanja daring tidak mengenal jam operasional. Seseorang bisa membeli barang pukul dua pagi sambil berbaring, tanpa perlu memikirkan macet atau biaya parkir. Fleksibilitas ini menjadi daya tarik utama bagi generasi yang mengedepankan efisiensi.
3. Mal Sebagai Tempat Rekreasi, Bukan Toko Seorang pengunjung mal bernama Resty menyebutkan bahwa pergi ke mal tanpa membeli barang adalah hal yang sangat wajar. Menurutnya, fasilitas mal saat ini lebih berfungsi sebagai ruang publik untuk mencari keramaian atau sekadar menikmati pendingin ruangan dan dekorasi tematik, seperti dekorasi Lebaran, tanpa ada kewajiban untuk berbelanja.
Mal Sebagai “Showroom” Sebelum Checkout Online
Inilah dilema terbesar bagi pemilik merek (brand). Banyak konsumen datang ke mal untuk membandingkan harga, merasakan material produk, atau memastikan ukuran (sizing) yang pas. Setelah merasa cocok, mereka tidak menuju kasir, melainkan membuka ponsel dan mencari produk yang sama di toko resmi daring untuk mendapatkan diskon tambahan atau gratis ongkos kirim.
Dampak Nyata Bagi Karyawan dan Tenan
Meskipun bagi konsumen ini adalah strategi belanja cerdas, bagi karyawan toko seperti Kuzen, fenomena ini adalah tantangan besar.
“Pastinya berdampak banget, karena untuk pembelian secara offline ada target omzet harian yang harus terpenuhi,” kata Kuzen.
Ketika mal hanya menjadi tempat “tes produk”, omzet toko fisik menurun. Hal ini berisiko pada keberlangsungan toko retail serta kesejahteraan para staf yang bekerja berdasarkan target penjualan.
Polemik antara belanja daring vs luring terus berlanjut. Mal kini berada di persimpangan jalan: harus tetap menjadi tempat rekreasi yang menarik namun juga harus memutar otak agar pengunjung mau membuka dompet di tempat.
Di tengah kenaikan harga menjelang Lebaran ini, masyarakat cenderung lebih pragmatis. Mal mungkin tetap ramai sebagai tempat berkumpul, namun urusan transaksi, “keranjang kuning” di aplikasi masih menjadi juara. (Sumber:Suara.com)

![Perjalanan Cinta Roberto Carlos: Punya 11 Anak dari 7 Wanita Berbeda dan Menikah 4 Kali [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/08/bantah-mualaf-360x200.jpg)







![Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Prof M Nuh. [Suara.com/Lilis Varwati]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/08/prof-nuh-225x129.jpg)













![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

