Strategi BI Percepat Penyaluran Kredit: Siapkan Insentif Likuiditas Rp427,5 Triliun

- Jurnalis

Minggu, 1 Maret 2026 - 17:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi kredit tanpa agunan (Gemini AI)

ilustrasi kredit tanpa agunan (Gemini AI)

1TULAH.COM-Pertumbuhan kredit perbankan nasional masih menghadapi tantangan meski arah kebijakan moneter mulai melonggar.

Bank Indonesia (BI) baru-baru ini membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan transmisi penurunan suku bunga ke sektor riil belum berjalan maksimal. Salah satu sorotan utamanya adalah pemberian special rate atau bunga spesial bagi para deposan besar.

Suku Bunga Kredit Baru Sudah Turun 88 Bps

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah proaktif dengan menurunkan suku bunga acuan sejak September 2024. Upaya ini mulai membuahkan hasil pada sisi bunga kredit baru (lending rate).

“Kita lihat memang lending rate belakangan untuk kredit baru sudah turun lumayan, sebesar 88 basis poin (bps). Ini artinya perbankan sebenarnya sudah mulai siap dan memiliki lending appetite yang tinggi,” ujar Destry dalam peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan No. 46, Minggu (1/3/2026).

Meskipun minat bank untuk menyalurkan kredit meningkat, penurunan suku bunga secara keseluruhan masih terganjal oleh struktur biaya dana (cost of fund) di internal perbankan sendiri.

Baca Juga :  Tok! Presiden Prabowo Teken PP Gaji Ke-13 2026: Cair Juni, Ini Rincian Nominal PNS, PPPK, & Pejabat

Hambatan Utama: ‘Special Rate’ untuk Deposan Besar

BI mengidentifikasi bahwa salah satu penyebab utama suku bunga kredit sulit turun lebih dalam adalah kebijakan perbankan yang masih memberikan suku bunga tinggi atau special rate kepada nasabah kakap (deposan besar).

Kondisi ini menciptakan dilema; di satu sisi bank ingin menurunkan bunga kredit, namun di sisi lain mereka harus membayar bunga simpanan yang mahal untuk menjaga likuiditas dari nasabah besar. Destry meminta perbankan untuk segera menyesuaikan special rate tersebut agar transmisi kebijakan moneter dapat berjalan efektif ke masyarakat luas.

Strategi BI: Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)

Untuk mempercepat penyaluran dana ke sektor riil, Bank Indonesia memperkuat kebijakan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Melalui instrumen ini, BI memberikan ‘hadiah’ bagi bank yang patuh.

Dua Jalur Insentif BI:

  1. Lending Channel: Diberikan kepada bank-bank yang fokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah.

  2. Interest Rate Channel: Insentif berupa potongan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 1% bagi bank yang cepat menyesuaikan suku bunga kreditnya sejalan dengan kebijakan BI.

Hingga minggu pertama Februari 2026, realisasi insentif yang telah dinikmati perbankan mencapai angka yang fantastis, yakni Rp427,5 triliun.

Baca Juga :  Strategi Menhut Raja Juli Antoni Perkuat Pasar Karbon Nasional: Transparan dan Terintegrasi Global

Sinergi BI dan OJK untuk Dorong Ekonomi

Penurunan suku bunga tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja. BI menekankan pentingnya sinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawal perilaku perbankan di lapangan.

“Kami bersama-sama mendorong bank; ayo, mari kita turunkan dulu itu special rate untuk dana, supaya nanti di lending rate-nya juga bisa turun,” pungkas Destry.

Dengan suku bunga kredit yang lebih rendah, diharapkan roda perekonomian dapat bergerak lebih cepat, investasi meningkat, dan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.

Ringkasan Poin Penting:

Faktor Detail
Penurunan Bunga Kredit Baru Turun 88 bps sejak September 2024
Penghambat Utama Pemberian Special Rate kepada deposan besar
Insentif BI (KLM) Potongan GWM 1% bagi bank yang turunkan bunga
Total Insentif Likuiditas Rp427,5 Triliun (per Februari 2026)

Apakah Anda berencana mengambil kredit dalam waktu dekat? Simak terus perkembangan suku bunga perbankan terkini untuk mendapatkan penawaran terbaik. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan
Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS
BMKG Imbau Warga Waspada Pasca Gempa Magnitudo 6,0 di Timor Tengah Utara
Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat
Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak
Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi
Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!
Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 19:04 WIB

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan

Selasa, 21 April 2026 - 18:35 WIB

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 April 2026 - 13:55 WIB

BMKG Imbau Warga Waspada Pasca Gempa Magnitudo 6,0 di Timor Tengah Utara

Selasa, 21 April 2026 - 13:40 WIB

Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat

Selasa, 21 April 2026 - 12:49 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak

Selasa, 21 April 2026 - 09:41 WIB

Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi

Selasa, 21 April 2026 - 05:57 WIB

Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!

Selasa, 21 April 2026 - 05:47 WIB

Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’

Berita Terbaru

Perwakilan karyawan PT AKT usai audiensi dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kabupaten Murung Raya di Puruk Cahu, Senin (20/4/2026).

Berita

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 Apr 2026 - 18:35 WIB