Tablet Penambah Darah vs Vitamin Zat Besi Sama-Sama Untuk Anemia, Begini Cara Membedakannya!

- Jurnalis

Minggu, 29 Desember 2024 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Gejala Anemia Pada Remaja Perempuan

Ilustrasi Gejala Anemia Pada Remaja Perempuan

1TULAH.COM – Tingginya jumlah anemia pada perempuan di Indonesia membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) gencar memberikan tablet penambah darah (TTD) pada remaja putri usia 12 hingga 18 tahun sejak 2014 silam. Lantas, bagaimana sih cara membedakan tablet tambah darah dengan multivitamin zat besi? Padahal sama-sama untuk Anemia.

Anemia adalah kondisi dimana tubuh kekurangan sel darah merah sehingga tubuh tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Tanda-tanda anemia biasanya terlihat wajah yang pucat, mudah lelah, pusing hingga sakit kepala.

Dari Data Survei Kesehatan Indonesia atau SKI 2023 menyebutkan bahwa ada 18 persen perempuan di Indonesia yang mengalami gejala Anemia. Ironisnya, mayoritas anemia dialami ibu hamil dengan usia 15 hingga 44 tahun, kondisi ini bisa membahayakan ibu dan juga perkembangan janin hingga bayi yang dilahirkan berisiko stunting.

Ilustrasi Anemia

Di sisi lain, alasan pemerintah memberikan Tablet Penambah Darah sejak remaja, karena anemia harus dicegah sejak awal khususnya apabila perempuan sudah mengalami menstruasi, karena pada kondisi ini perlu diintervensi secara jangka panjang.

Bukan cuma intervensi tablet tambah darah, perempuan yang berisiko anemia juga harus mendapat asupan zat besi yang tercukupi. Namun sayangnya, dengan gaya hidup dan kesibukan aktivitas perempuan kerap kekurangan zat besi dari makanan, sehingga sebaiknya dilengkapi dengan multivitamin zat besi.

Ini dikarenakan zat besi merupakan mikronutrian yang berperan penting dalam proses pembentukan hemoglobin atau sel darah merah, yang bertugas untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Orang yang mengalami anemia karena kekurangan zat besi disebut dengan anemia defisiensi besi.

dr. Helmin Agustina Silalahi yang merupakan Medical Manager Kalbe Consumer Health menjelaskan sama seperti tablet tambah darah, kinerja zat besi untuk mencegah anemia perlu diintervensi dalam jangka panjang karena butuh waktu setidaknya 3 sampai 6 bulan.

“Tapi untuk zat besi sendiri butuh 3 sampai 6 bulan. Apalagi sudah ada symptoms dan di konsumsi setiap hari setelah 6 bulan dianjurkan untuk cek darah, apakah sudah normal kembali. Kalau sudah normal mungkin dosisnya bisa dikurangi,” ujar dr. Helmin saat acara kampanye Ketika Wanita Bergerak, Dunia Bergerak: Tanpa Dibatasi oleh Anemia yang diadakan PT Saka Farma Laboratories, Sakatonik Activ di Jakarta, (23/12/2024).

Medical Manager Kalbe Consumer Health, dr. Helmin Agustina Silalahi dalam acara diskusi di Jakarta, Senin (23/12/2024).

dr. Helmin menjelaskan ada beberapa perbedaan mendasar fungsi tablet tambah darah dengan multivitamin zat besi untuk mencegah anemia, yaitu pada kandungan keduanya memiliki manfaat yang berbeda.

Kalau tablet tambah darah sudah jelas tujuannya untuk menambah darah pasti kandungannya itu zat besi, asam folat, vitamin B12 dan itu menjadi program pemerintah dan Kemenkes sedang menggaungkan itu karena prevalensi anemia di Indonesia masih sangat tinggi,” ungkapnya.

“Tapi jika kita membicarakan suplemen multivitamin adalah kombinasi dari beberapa vitamin dan mineral. Itu karena kita membutuhkan angka kecukupan gizi yang wajib yang harus dipenuhi oleh tubuh kita,” sambung dr. Helmin.

Meski mayoritas ibu hamil mengalami anemia, namun untuk langkah pencegahan remaja tetap diperbolehkan minum multivitamin zat besi seperti Sakatonik Activ yang mengandung zat besi, asam folat, vitamin C hingga vitamin B kompleks. Ini karena remaja sekarang memiliki aktivitas dan kegiatan yang padat seperti di sekolah maupun kegitan sosial.

“Karena biasanya mereka maunya yang enak walaupun tidak sehat. Karena mereka sedang di masa pertumbuhan dan aktivitasnya berbeda dari kita jadi mereka harus memenuhi semua,” ucap dr. Helmin.

 

Penulis : Wanda Hanifah Pramono

Berita Terkait

Modal Murah Hasil Mewah! Intip 7 Kegunaan Aloe Vera Pontianak untuk Kecantikan Wajah
BPJS PBI-JK Anda Nonaktif? Kini Masyarakat Bisa Melapor Lewat YLKI dan Kemensos
Legenda Film Laga Willy Dozan Bicara Soal Penuaan dan Pengapuran Tulang
Jeritan Pasien Gagal Ginjal! BPJS PBI Dicabut Sepihak, Nyawa Rakyat Kecil Diujung Tanduk
Cari Sandal yang Nyaman untuk Lansia? Ini 5 Merk Terbaik Pengganti Crocs
Mengenal Jenis dan Harga Botox Wajah 2026: Solusi Awet Muda Tanpa Operasi
Mengenal Food Genomics: Rahasia Diet Presisi Berdasarkan DNA Anda
Apa Itu Super Flu? Mengenal Varian Baru H3N2 yang Masuk ke Indonesia dan Bedanya dengan Flu Biasa

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 18:24 WIB

Modal Murah Hasil Mewah! Intip 7 Kegunaan Aloe Vera Pontianak untuk Kecantikan Wajah

Sabtu, 14 Februari 2026 - 06:28 WIB

BPJS PBI-JK Anda Nonaktif? Kini Masyarakat Bisa Melapor Lewat YLKI dan Kemensos

Minggu, 8 Februari 2026 - 07:00 WIB

Legenda Film Laga Willy Dozan Bicara Soal Penuaan dan Pengapuran Tulang

Kamis, 5 Februari 2026 - 05:39 WIB

Jeritan Pasien Gagal Ginjal! BPJS PBI Dicabut Sepihak, Nyawa Rakyat Kecil Diujung Tanduk

Jumat, 23 Januari 2026 - 13:24 WIB

Cari Sandal yang Nyaman untuk Lansia? Ini 5 Merk Terbaik Pengganti Crocs

Selasa, 20 Januari 2026 - 14:25 WIB

Mengenal Jenis dan Harga Botox Wajah 2026: Solusi Awet Muda Tanpa Operasi

Minggu, 18 Januari 2026 - 15:41 WIB

Mengenal Food Genomics: Rahasia Diet Presisi Berdasarkan DNA Anda

Rabu, 7 Januari 2026 - 07:56 WIB

Apa Itu Super Flu? Mengenal Varian Baru H3N2 yang Masuk ke Indonesia dan Bedanya dengan Flu Biasa

Berita Terbaru

Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Percepatan Penurunan Stunting yang digelar di Aula A Kantor Bupati Mura, Senin (20/4/2026).

Berita

Tekan Angka Stunting, Pemkab Mura Perkuat Kolaborasi 

Senin, 20 Apr 2026 - 20:48 WIB