Fenomena Antariksa Langka, Lubang Hitam ‘Piatu’ Terdeteksi Memangsa Bintang

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Satelit NASA Swift merekam aksi pembantaian bintang oleh lubang hitam supermasif pengembara di pinggiran galaksi jauh. (NASA)

Satelit NASA Swift merekam aksi pembantaian bintang oleh lubang hitam supermasif pengembara di pinggiran galaksi jauh. (NASA)

1TULAH.COM-Para astronom berhasil mencatat sejarah baru dalam dunia ilmu pengetahuan antariksa. Teleskop Swift milik NASA bersama fasilitas pengamatan Zwicky Transient Facility (ZTF) di California Selatan mengonfirmasi fenomena langka berupa penyerapan bintang (tidal disruption event) oleh sebuah lubang hitam supermasif pengembara.

Uniknya, peristiwa pembantaian bintang oleh monster gravitasi berukuran jutaan kali massa Matahari ini terjadi jauh di area pinggiran galaksi, bukan di bagian inti tempat mereka seharusnya berada. Peristiwa ini terjadi pada galaksi yang berjarak 750 juta tahun cahaya dari Bumi dan pertama kali terdeteksi oleh ZTF pada November 2025.

Peran Kecerdasan Buatan dan Konfirmasi Spektrum Panas

Pencarian objek misterius di luar pusat galaksi ini berhasil berkat bantuan kecerdasan buatan (AI). Dari setengah juta kilatan cahaya yang dideteksi ZTF setiap malam, algoritma baru berhasil menyaring kilatan terang yang dipicu oleh kehancuran total bintang tersebut.

Ledakan materi akibat tarikan gravitasi ekstrem menghasilkan radiasi inframerah hingga ultraviolet yang sangat kuat, bahkan mampu mengalahkan terang seluruh galaksi inangnya selama beberapa bulan.

  • Suhu Ekstrem: Konfirmasi spektrum energi panas mencatatkan angka mencapai 30.000 derajat Celsius.

  • Kolaborasi Teleskop: Data validasi diperoleh melalui kerja sama antara teleskop darat SOAR di Cili dan fasilitas UVOT pada satelit NASA Swift.

Baca Juga :  Mengenal 3 Pria yang Pernah Mengisi Hati Shandy Aulia: Dari Aktor hingga Mantan Suami

Mengapa Lubang Hitam Supermasif Bisa Terlempar ke Pinggiran?

Secara umum, setiap galaksi hanya menampung satu lubang hitam supermasif tepat di pusat strukturnya. Peristiwa pembantaian bintang pun secara statistik hanya terjadi sekali setiap 100.000 tahun pada suatu galaksi.

Para peneliti yang dipimpin oleh Robert Stein dari Universitas Maryland dan Goddard Space Flight Center NASA menduga bahwa lubang hitam “piatu” ini terlempar akibat interaksi galaksi di masa lalu.

  1. Penggabungan Galaksi (Galactic Merger): Lubang hitam tersebut diduga berasal dari galaksi kecil kerdil yang bergabung dengan galaksi besar yang terlihat saat ini.

  2. Dorongan Gravitasi: Tabrakan atau dorongan gravitasi dari penggabungan tiga galaksi memberikan efek “tendangan” yang melempar lubang hitam hingga berada 30.000 tahun cahaya dari pusat galaksi utama.

Baca Juga :  DPRD Kalteng Minta Program Pasar Murah Diperluas ke Seluruh Kabupaten

Misi Penyesuaian Orbit dan Masa Depan Observasi Kosmik

Perburuan lubang hitam pengembara sempat tertahan sementara karena satelit NASA Swift membutuhkan dorongan penyesuaian orbit (orbit raise). Beroperasi sejak tahun 2004, pesawat ruang angkasa tersebut mengalami penurunan ketinggian akibat gesekan atmosfer Bumi. Penyesuaian ini sangat krusial untuk memperpanjang masa operasional instrumen UVOT dan XRT milik Swift.

Masa depan pemetaan populasi lubang hitam pengembara diprediksi akan semakin tajam. Dukungan dari observatorium canggih seperti Vera C. Rubin Observatory dan Roman Space Telescope milik NASA siap memperluas pemetaan hingga menembus 9 miliar tahun sejarah kosmik untuk menguak seberapa umum keberadaan monster antariksa tak bertuan ini di alam semesta. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?
Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal
Rencana Pembayaran Gaji PNS Lewat Koperasi: Peluang, Risiko, dan Tantangan Realisasinya
Atasi Kabut Asap Karhutla hingga Singapura, Pemerintah Indonesia Dampingi Aksi Lapangan dengan Diplomasi
Heriyus Tegaskan Pelantikan Sekda Murung Raya Mengacu pada Regulasi ASN
Lynda Kristiane Dilantik Jadi Sekda, Heriyus Tekankan Peran Strategis Sekretaris Daerah
Juara Tingkat Provinsi, Heriyus Apresiasi Prestasi Kepala Sekolah PAUD Murung Raya
Persiapan Pemilu 2029: Komisi II DPR Bentuk Panja RUU Pemilu dan Adminduk, Buka Ruang Masukan Masyarakat
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Rencana Pembayaran Gaji PNS Lewat Koperasi: Peluang, Risiko, dan Tantangan Realisasinya

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 05:44 WIB

Atasi Kabut Asap Karhutla hingga Singapura, Pemerintah Indonesia Dampingi Aksi Lapangan dengan Diplomasi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:20 WIB

Heriyus Tegaskan Pelantikan Sekda Murung Raya Mengacu pada Regulasi ASN

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:18 WIB

Lynda Kristiane Dilantik Jadi Sekda, Heriyus Tekankan Peran Strategis Sekretaris Daerah

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Juara Tingkat Provinsi, Heriyus Apresiasi Prestasi Kepala Sekolah PAUD Murung Raya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 05:46 WIB

Persiapan Pemilu 2029: Komisi II DPR Bentuk Panja RUU Pemilu dan Adminduk, Buka Ruang Masukan Masyarakat

Berita Terbaru