Mitos ‘Baseload’ Runtuh: IESR Sebut PLTU Kini Sama Tidak Stabilnya dengan Energi Hijau

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 03:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IESR menyatakan bahwa krisis pasokan batubara domestik menyebabkan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia. Foto: Warga Kabupaten Bandung, Jawa Barat menyalakan lilin akibat pemadaman bergilir pada Juni 2026. [Antara]

IESR menyatakan bahwa krisis pasokan batubara domestik menyebabkan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia. Foto: Warga Kabupaten Bandung, Jawa Barat menyalakan lilin akibat pemadaman bergilir pada Juni 2026. [Antara]

1TULAH.COM-Gelombang pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia baru-baru ini memicu sorotan tajam dari para pengamat energi. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai bahwa fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara tidak lagi menjamin kestabilan penuh, melainkan kini mulai menunjukkan sifat intermiten (tidak konsisten).

Seretnya pasokan batubara domestik untuk hulu pembangkit dituding sebagai biang kerok utama di balik rapuhnya sistem kelistrikan nasional saat ini.

Dampak Pemotongan Kuota RKAB 2026 terhadap Pasokan DMO

Manajer Riset dan Transisi Berkeadilan IESR, Martha Jesica Solomasi Mandrofa, mengungkapkan bahwa kelangkaan batubara di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh kebijakan hulu, salah satunya adalah penurunan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan pada tahun 2026.

“Kalau dari pengamatan IESR, salah satu alasan terbesarnya karena kurangnya pasokan batubara untuk PLTU, terutama dampak dari penurunan RKAB di tahun 2026 ini. Walaupun itu dibantah, tapi kita tunggu apa alasan sebenarnya,” ujar Martha di Jakarta, dikutip Jumat (26/6/2026).

Baca Juga :  Kuasai 80 Persen UMKM, Perempuan Didorong Dobrak Keterbatasan Sektoral

Menurut analisis IESR, pembatasan kuota RKAB tersebut awalnya ditujukan sebagai strategi untuk menjaga harga batubara agar tetap kompetitif di pasar internasional. Namun, kebijakan ini justru membawa dampak domino yang menekan volume pasokan untuk kebutuhan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO). Akibatnya, pembangkit dalam negeri harus berebut pasokan yang kian menipis.

Mitos Baseload Runtuh: PLTU Sama Saja dengan Energi Terbarukan?

Selama ini, PLTU selalu digadang-gadang sebagai penyedia listrik beban dasar (baseload) yang andal dan stabil karena tidak bergantung pada faktor eksternal seperti cuaca. Namun, krisis energi pada Juni 2026 ini membalikkan asumsi tersebut.

Ketika cadangan komoditas fosilnya menipis akibat hambatan rantai pasok, performa PLTU terbukti sama tidak konsistennya dengan energi terbarukan (seperti PLTS atau PLTB) yang kerap dikritik karena sifat intermitennya.

Perbandingan Karakteristik Intermiten

Karakteristik Energi Terbarukan (Solar/Angin) PLTU Batubara (Kondisi Krisis)
Penyebab Intermitensi Faktor alam & cuaca (mendung/tanpa angin) Gangguan rantai pasok & regulasi kuota (RKAB)
Prediktabilitas Dapat diprediksi melalui teknologi cuaca Tergantung pada dinamika pasar & birokrasi
Solusi Teknologi penyimpanan baterai (BESS) Diversifikasi energi & reformasi tata kelola DMO
Baca Juga :  Alami Masalah Pencernaan, KPK Bantarkan Penahanan Yaqut Cholil Qoumas

“Kita jadi belajar banyak, kami melihatnya PLTU bisa menjadi intermiten juga kalau cadangan batubaranya berkurang. Kekurangan pasokan domestik membuat kondisi PLTU ini seolah-olah intermiten,” jelas Martha lebih lanjut.

Momentum Titik Balik Transisi Energi Indonesia

IESR menegaskan bahwa rentetan pemadaman listrik bergilir ini harus menjadi wake-up call atau titik balik bagi pemerintah dalam memetakan arah pengadaan pembangkit listrik di masa depan. Dinamika rantai pasok dan volatilitas harga komoditas fosil saat ini membuktikan bahwa PLTU tidak bisa lagi diklaim secara mutlak sebagai solusi energi paling murah dan aman.

Selain masalah keandalan, aspek keekonomian juga sudah mulai bergeser. Biaya teknologi energi terbarukan yang terus turun membuat opsi bersih ini semakin kompetitif secara bisnis jika dibandingkan dengan risiko operasional PLTU batubara.

“Sinyal dari kondisi saat ini memperlihatkan bahwa transisi energi bukan lagi hanya soal menekan emisi, melainkan karena sisi ekonomis energi terbarukan yang sekarang sudah semakin bersaing,” pungkas Martha. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Kuasai 80 Persen UMKM, Perempuan Didorong Dobrak Keterbatasan Sektoral
DPRD Kalteng Gelar Paripurna Pertanggungjawaban APBD 2025: Pemprov Raih WTP 12 Kali Beruntun
Pemprov DKI Jakarta Siapkan Pembangunan 11 Rusun Baru pada APBD 2027
Alami Masalah Pencernaan, KPK Bantarkan Penahanan Yaqut Cholil Qoumas
Wagub Edy Pratowo Resmi Buka MTQ VIII KORPRI Kalteng di Murung Raya
Wagub Kalteng Resmikan Bazar Produk Unggulan MTQ VIII KORPRI di Murung Raya
Tak Sampai 2 Jam, Polisi Tangkap Pelaku Penggelapan Motor Ojol di Tanjung Priok
Komisi I DPRD Kalteng Puji Kinerja Bank Kalteng yang Kian Positif dan Sehat
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 03:36 WIB

Kuasai 80 Persen UMKM, Perempuan Didorong Dobrak Keterbatasan Sektoral

Sabtu, 27 Juni 2026 - 03:27 WIB

Mitos ‘Baseload’ Runtuh: IESR Sebut PLTU Kini Sama Tidak Stabilnya dengan Energi Hijau

Kamis, 25 Juni 2026 - 18:07 WIB

Pemprov DKI Jakarta Siapkan Pembangunan 11 Rusun Baru pada APBD 2027

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:02 WIB

Alami Masalah Pencernaan, KPK Bantarkan Penahanan Yaqut Cholil Qoumas

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:08 WIB

Wagub Edy Pratowo Resmi Buka MTQ VIII KORPRI Kalteng di Murung Raya

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:17 WIB

Wagub Kalteng Resmikan Bazar Produk Unggulan MTQ VIII KORPRI di Murung Raya

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:49 WIB

Tak Sampai 2 Jam, Polisi Tangkap Pelaku Penggelapan Motor Ojol di Tanjung Priok

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:24 WIB

Komisi I DPRD Kalteng Puji Kinerja Bank Kalteng yang Kian Positif dan Sehat

Berita Terbaru