Oleh : Fahmi R Kubra
Setiap tanggal 2 Mei, kita rutin mengenang Ki Hadjar Dewantara (KHD) yang berpesan: “Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun sebagai anggota masyarakat.” Tapi, mari jujur: pendidikan kita hari ini berutang besar pada dua raksasa, KHD dan KH Ahmad Dahlan. Jika KHD adalah “roh” kebangsaan, maka Ahmad Dahlan adalah “mesin” pembaruan yang mendahului zamannya.
Dua Pilar, Satu Muara
KH Ahmad Dahlan sejak 1911 sudah “berani” memasukkan meja, kursi, dan ilmu sains ke dalam madrasah. Beliau paham bahwa religiusitas tanpa intelektual modern itu pincang. Prinsip utama beliau sangat tegas: “Kasih sayang dan kerja sama adalah dasar pendidikan; jadilah guru sekaligus murid yang terus belajar.” Beliau juga menekankan pentingnya akal dengan berkata, “Mestinya pemimpin-pemimpin rakyat itu mempunyai pengetahuan yang luas dan hati yang bersih.”
Sebaliknya, KHD melalui Taman Siswa (1922) mengingatkan melalui filosofi Among — Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani — bahwa kepintaran otak tanpa akar budaya dan kemandirian jiwa adalah penjajahan gaya baru. Sintesis pemikiran keduanya sangat jelas: Pendidikan adalah alat pembebasan. Bukan sekadar agar bisa membaca dan berhitung, tapi agar manusia Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri (mandiri), memiliki karakter luhur (budi pekerti), dan berwawasan luas (modern).
Menyoal Penutupan Prodi: Kampus Bukan Vendor Buruh
Belakangan, muncul wacana pemerintah menutup prodi-prodi yang dianggap “tidak relevan” dengan dunia usaha dan industri (DUDI). Namun, kebijakan ini menuai kritik keras karena dianggap terlalu pragmatis. Pakar pendidikan dari UM Surabaya, Radius Setiyawan, mengingatkan agar institusi pendidikan jangan menjadi pabrik tenaga kerja yang hanya melayani kepentingan pasar modal. Senada dengan itu, dalam sebuah diskusi kritis bertajuk “Repolitisasi Pendidikan” yang melibatkan tokoh seperti Rocky Gerung, disoroti bahwa jika standar “relevansi” hanya diukur dari permintaan pabrik hari ini, maka kita sedang mereduksi derajat manusia menjadi sekadar “onderdil” industri.
Industri bersifat fluktuatif; hari ini butuh operator A, besok bisa jadi digantikan robot B. Jika pendidikan hanya mengejar kebutuhan teknis sesaat, kita akan kehilangan sosok inovator dan penggerak sosial. Prodi ilmu murni, filsafat, sejarah, atau sastra mungkin dianggap “tidak laku” di bursa kerja, tapi merekalah penjaga nalar dan kemanusiaan kita agar tidak menjadi “kuli intelek” yang patuh namun kehilangan daya kritis.
Belajar dari Dunia, Berakar di Nusantara
Untuk meningkatkan mutu tanpa kehilangan jati diri, Indonesia bisa berkaca pada Model Pendidikan Jepang dan Finlandia. Jepang sukses mengintegrasikan teknologi tinggi dengan etika bushido dan tradisi yang kuat — sebuah paralel dengan cita-cita Ahmad Dahlan tentang modernitas yang religius. Sementara Finlandia membuktikan bahwa otonomi guru yang tinggi dan ketiadaan standarisasi yang kaku justru menciptakan manusia yang merdeka — selaras dengan sistem Among KHD.
Saran perbaikan ke depan bukanlah dengan menutup prodi, melainkan:
1. Integrasi Karakter dan Sains: Mengadopsi disiplin dan etika kerja Jepang tanpa meninggalkan nilai pesantren dan kearifan lokal.
2. Otonomi Kurikulum Lokal: Memberikan ruang bagi daerah untuk mengembangkan kurikulum yang relevan dengan potensi sumber daya alamnya (seperti agroindustri), sehingga lulusan tidak perlu “merantau ke Jawa” hanya untuk menjadi buruh.
3. Kesejahteraan Guru: Seperti di Finlandia, menempatkan guru sebagai profesi terhormat dan sejahtera, karena mutu pendidikan tidak akan pernah melampaui mutu gurunya.
Pendidikan Seutuhnya: Kembali ke Khittah 1945
Ahmad Dahlan mengajarkan kita untuk progresif, dan KHD mengajarkan kita untuk humanis. Kombinasi keduanya menegaskan bahwa tujuan sekolah dan kuliah adalah membentuk “Manusia Seutuhnya”. Sesuai Pembukaan UUD 1945, cita-cita kita adalah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Perhatikan katanya: Kehidupan Bangsa, bukan sekadar Kebutuhan Industri. Kecerdasan hidup mencakup kemampuan beradaptasi, berempati, dan berdaulat secara berpikir.
Pesan untuk Hardiknas 2026
Mari merayakan Hardiknas bukan dengan sekadar pamer piala atau statistik daya serap kerja. Mari berefleksi: Apakah pendidikan kita sudah memanusiakan manusia? Apakah kita mendidik anak muda untuk jadi penurut industri, atau menjadi pemecah masalah bagi bangsanya? Relevansi itu penting, tapi jangan sampai kita menggadaikan jiwa pendidikan demi mengejar angka pengangguran jangka pendek. Ingat pesan KH Ahmad Dahlan: “Jadilah manusia yang berarti bagi orang lain.”
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026!

![Presiden Prabowo Subianto dan Bahlil Lahadalia di resepsi pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju pada Minggu, 26 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/kondangan-360x200.jpg)
![El Rumi dan Syifa Hadju [Instagram/elrumi]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/EL-RUMI-NIKAH-360x200.jpg)
![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)






![Ilustrasi LPG 3 kg. [Dok Pertamina]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2025/02/ELPIJI-225x129.jpg)






![Ilustrasi LPG 3 kg. [Dok Pertamina]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2025/02/ELPIJI-360x200.jpg)




![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)



