Kejagung Sita Rp1 Miliar di Kantor Jakarta Terkait Kasus Korupsi Tambang Ilegal PT AKT di Murung Raya, Kalteng

- Jurnalis

Selasa, 31 Maret 2026 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kejaksaan Agung RI menggeledah Kantor PT AKT terkait kasus dugaan tambang ilegal. [Foto:Istimewa]

Kejaksaan Agung RI menggeledah Kantor PT AKT terkait kasus dugaan tambang ilegal. [Foto:Istimewa]

1TULAH.COM-Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI terus bergerak cepat dalam mengusut kasus dugaan korupsi tambang batu bara ilegal yang menyeret PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT). Terbaru, tim penyidik berhasil menyita uang tunai senilai kurang lebih Rp1 miliar dalam bentuk pecahan dolar Amerika Serikat (AS).

Penyitaan ini dilakukan saat tim Korps Adhyaksa menggeledah kantor PT AKT yang berlokasi di Jakarta. Temuan ini menjadi bukti kuat dalam pengembangan kasus yang diduga merugikan negara akibat aktivitas pertambangan tanpa izin selama hampir satu dekade.

Penggeledahan di 14 Lokasi Berbeda

Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, mengonfirmasi bahwa uang tersebut ditemukan dalam kondisi terikat rapi di meja kerja saat penggeledahan berlangsung.

“Iya itu di perusahaan AKT. Kurang lebih 1 miliar rupiah di kantor Jakarta,” ujar Syarief kepada media, Senin (30/3/2026).

Selain di Jakarta, Kejagung melakukan operasi penggeledahan besar-besaran di 14 titik yang tersebar di tiga provinsi, yakni:

  1. Jakarta & Jawa Barat (10 Lokasi): Meliputi kantor PT AKT, kantor afiliasi PT MCM, serta kediaman pribadi tersangka Samin Tan.

  2. Kalimantan Tengah (3 Lokasi): Fokus pada area operasional dan administrasi di wilayah tambang.

  3. Kalimantan Selatan (1 Lokasi): Lokasi strategis terkait alur logistik dan dokumen perusahaan.

Baca Juga :  Gagalkan Penyelundupan 1,6 Ton Ketamin dari Malaysia, Sufmi Dasco Apresiasi Kerja Cepat Polri dan BNN

Samin Tan Ditetapkan Sebagai Tersangka

Dalam kasus ini, Kejaksaan Agung telah menetapkan ST alias Samin Tan sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai beneficial owner (pemilik manfaat) dari PT AKT.

Samin Tan diduga kuat mengendalikan aktivitas tambang ilegal di lahan yang seharusnya sudah tidak memiliki izin operasional atau menyalahi ketentuan hukum sejak tahun 2016 hingga 2025. Selama periode tersebut, PT AKT ditengarai mengeruk hasil bumi secara masif tanpa memberikan kontribusi legal yang sah kepada negara.

Barang Bukti yang Diamankan

Selain uang tunai senilai Rp1 miliar, penyidik “Gedung Bundar” juga mengamankan sejumlah aset dan dokumen penting lainnya:

  • Dokumen Perusahaan: Arsip transaksi keuangan dan laporan operasional tambang.

  • Barang Bukti Elektronik: Komputer dan alat komunikasi untuk menelusuri jejak digital instruksi ilegal.

  • Alat Berat: Sejumlah unit mesin tambang di lokasi Kalimantan juga ikut disita sebagai barang bukti tindak pidana.

Baca Juga :  Siap Diterapkan 2027, Kebijakan Tidak Naik Kelas Kembali Diberlakukan

Membidik Keterlibatan Penyelenggara Negara

Kejaksaan Agung memberikan sinyal kuat bahwa kasus ini tidak hanya berhenti di pihak swasta. Syarief Sulaeman menegaskan bahwa konstruksi perkara ini adalah tindak pidana korupsi, yang secara implisit menunjukkan adanya kongkalikong antara pengusaha dan oknum pejabat.

“Ini masuk tindak pidana korupsi karena diduga ada kerja sama dengan penyelenggara negara,” tegas Syarief.

Meskipun hingga saat ini belum ada pejabat negara yang resmi ditetapkan sebagai tersangka, penyidik terus mendalami keterkaitan pemberian izin atau pembiaran aktivitas ilegal PT AKT oleh pihak otoritas terkait.

Kasus PT AKT menjadi sorotan publik sebagai salah satu skandal tambang terbesar di awal tahun 2026. Ketegasan Kejagung dalam menyita aset dan mengejar keterlibatan penyelenggara negara diharapkan menjadi shock therapy bagi praktik mafia tambang di Indonesia. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Viral Wartawan Wanita Dihalau Polisi di Bundaran HI, Polda Metro Akui Petugas Kurang Paham
Pemprov Kalteng Matangkan Ranperda RPPLH untuk Perkuat Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan
SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!
Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto
Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?
Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung
Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel
Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Viral Wartawan Wanita Dihalau Polisi di Bundaran HI, Polda Metro Akui Petugas Kurang Paham

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Pemprov Kalteng Matangkan Ranperda RPPLH untuk Perkuat Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47 WIB

SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati

Berita Terbaru