Apa Itu Eco-Anxiety? Bukan Penyakit Mental, Tapi Emosi Moral Pendorong Aksi Iklim

- Jurnalis

Sabtu, 22 November 2025 - 11:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi seseorang di tengah hutan (Unsplash.com/Maia Habegger)

Ilustrasi seseorang di tengah hutan (Unsplash.com/Maia Habegger)

1TULAH.COM-Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, muncul fenomena emosional yang semakin marak: semakin banyak orang yang mengaku merasa cemas dan takut secara mendalam mengenai masa depan bumi.

Berita tentang banjir besar yang kian sering, musim kemarau panjang, kebakaran hutan, dan naiknya permukaan air laut memenuhi linimasa media sosial dan pemberitaan setiap hari.

Anak muda khususnya, sering merasa masa depan mereka suram, bahkan mempertanyakan apakah masih layak merencanakan karier, pendidikan, atau keluarga di tengah ancaman krisis iklim yang nyata. Kondisi ini dikenal sebagai eco-anxiety atau kecemasan iklim.

Sayangnya, sebagian masyarakat dan profesional kesehatan mental menganggap eco-anxiety sebagai sesuatu yang patologis, tidak sehat, atau berlebihan.

Padahal, urgensi pembahasan mengenai eco-anxiety semakin penting. Di tengah krisis iklim yang kian nyata, meremehkan atau menekan emosi ini justru dapat memperburuk ketidakpedulian publik.

🔬 Perspektif Baru Psikologi: Mengapa Eco-Anxiety itu Penting

Sebuah penelitian penting berjudul “Eco-Anxiety: What It Is and Why It Matters” oleh Kurth dan Pihkala (2022) menawarkan sudut pandang baru. Mereka menjelaskan bahwa eco-anxiety bukanlah penyakit mental atau tanda kelemahan psikologis.

Justru, penelitian tersebut menemukan bahwa eco-anxiety dapat menjadi emosi moral yang bernilai dan memiliki potensi kuat untuk mendorong tindakan nyata terhadap krisis iklim.

Peneliti bahkan menyebut bahwa dunia tidak cukup banyak orang yang mengalami kecemasan ini, padahal kesadaran emosional seperti inilah yang mampu memicu perubahan sosial yang konstruktif.

Baca Juga :  Heboh Kartu Merah Balogun di Piala Dunia, Nama Lionel Messi Ikut Terseret Kontroversi

Mengenal Eco-Anxiety Lebih Dekat: Respons Realistis, Bukan Gangguan

Secara definisi, eco-anxiety adalah bentuk kecemasan yang muncul sebagai respons terhadap ancaman kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan ketidakpastian masa depan planet.

Berbeda dengan gangguan kecemasan klinis yang kerap muncul tanpa alasan jelas, eco-anxiety justru berakar pada data ilmiah dan pengalaman langsung masyarakat yang terdampak bencana. Emosi ini adalah respons manusiawi yang sehat dalam menghadapi ancaman eksistensial yang nyata.

🚀 Dari Takut Pasif Menuju Aksi: Practical Eco-Anxiety

Penelitian menunjukkan bahwa eco-anxiety tidak hanya muncul sebagai ketakutan pasif yang melumpuhkan, tetapi juga dapat hadir sebagai practical eco-anxiety.

Jenis kecemasan yang berorientasi pada solusi dan tindakan ini sangat penting. Practical eco-anxiety membantu seseorang mengambil keputusan, memotivasi perubahan gaya hidup (seperti mengurangi konsumsi daging atau plastik), dan menumbuhkan partisipasi dalam gerakan lingkungan.

Dengan kata lain, eco-anxiety tidak selalu melemahkan, melainkan menjadi bahan bakar keterlibatan sosial dan aksi nyata.

Mengapa Eco-Anxiety Adalah Tanda Kepedulian Moral?

Kurth dan Pihkala menegaskan bahwa eco-anxiety adalah tanda kepedulian moral. Orang yang merasakan kecemasan ini biasanya memiliki kepekaan tinggi terhadap:

  • Penderitaan makhluk hidup lain.

  • Ketidakadilan lingkungan (environmental injustice).

  • Rasa tanggung jawab antar generasi.

Dalam kerangka psikologi moral, emosi ini mirip dengan empati atau rasa bersalah yang sehat. Ini bukan sesuatu yang harus disingkirkan, tetapi dipahami dan diarahkan.

Baca Juga :  Gresini Racing Rombak Skuad, Joan Mir dan Dani Holgado Jadi Andalan Baru untuk MotoGP 2027

Di saat banyak orang memilih bersikap apatis atau menyangkal (disebut eco-apathy atau eco-denial), eco-anxiety justru menunjukkan kesadaran etis bahwa bumi sedang berada dalam kondisi darurat.

Para peneliti menekankan bahwa kita justru membutuhkan lebih banyak eco-anxiety, karena tanpa keterlibatan emosional, sulit membangun kehendak kolektif untuk perubahan skala besar.

💡 Mengubah Rasa Takut Menjadi Harapan dan Keberanian

Banyak aktivis lingkungan mengaku bahwa aksi mereka lahir dari rasa takut akan masa depan bumi. Ketika eco-anxiety diarahkan dengan dukungan sosial dan pengetahuan yang tepat, ia berubah menjadi dorongan positif untuk bergerak.

Namun, kecemasan iklim akan menjadi beban berat bila seseorang merasa sendirian atau tidak memiliki kontrol atas situasi. Oleh karena itu, solusi terbaik bukan menghilangkan eco-anxiety, tetapi:

  1. Mengembangkan Ruang Dialog: Menciptakan komunitas di mana perasaan ini diakui dan divalidasi.

  2. Meningkatkan Kontrol Diri: Mengolah kecemasan menjadi energi kolektif melalui tindakan nyata, sekecil apa pun.

  3. Pendidikan yang Tepat: Menghubungkan ketakutan dengan solusi dan harapan.

Alih-alih menstigmatisasi eco-anxiety sebagai gangguan psikologis, kita perlu melihatnya sebagai respons yang wajar, sehat, dan sangat penting. Rasa takut terhadap masa depan bumi bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kepedulian dan kesadaran.

Dunia bukan membutuhkan lebih banyak ketidakpedulian, melainkan lebih banyak orang yang cukup peduli dan bertindak.

Karena mungkin saja, masa depan planet ini bergantung pada mereka yang berani merasakan rasa sakit melihat bumi terluka. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Skandal Korupsi Batu Bara PLTU Naik Sidik, Polri Selidiki Keterkaitan dengan Kasus Blackout
Mengapa Pendapatan Driver Ojol Stagnan Padahal Potongan Aplikasi Sudah Turun Jadi 8 Persen?
Dikritik “Cari Aman”, Indonesia Hanya Utus Dubes ke Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran
Lebih dari Sekadar Tren: Mengapa Work-Life Balance Jadi Kebutuhan Mutlak bagi Gen Z
Polri Terima Penghargaan dari Kemenhaj atas Kontribusi dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026
Polda Lampung Gagalkan Penyelundupan 5 Kg Sabu dan Ekstasi di Bakauheni
Sengit! Kylian Mbappe Samai Rekor Lionel Messi di Puncak Top Skor Piala Dunia 2026
Sempat Hilang Beberapa Hari, Aiptu Sumaryanto Ditemukan Gugur di Sungai Rantau Asem Katingan
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 07:24 WIB

Skandal Korupsi Batu Bara PLTU Naik Sidik, Polri Selidiki Keterkaitan dengan Kasus Blackout

Senin, 6 Juli 2026 - 14:29 WIB

Mengapa Pendapatan Driver Ojol Stagnan Padahal Potongan Aplikasi Sudah Turun Jadi 8 Persen?

Senin, 6 Juli 2026 - 13:00 WIB

Dikritik “Cari Aman”, Indonesia Hanya Utus Dubes ke Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran

Senin, 6 Juli 2026 - 10:12 WIB

Lebih dari Sekadar Tren: Mengapa Work-Life Balance Jadi Kebutuhan Mutlak bagi Gen Z

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:40 WIB

Polri Terima Penghargaan dari Kemenhaj atas Kontribusi dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:36 WIB

Polda Lampung Gagalkan Penyelundupan 5 Kg Sabu dan Ekstasi di Bakauheni

Minggu, 5 Juli 2026 - 17:47 WIB

Sengit! Kylian Mbappe Samai Rekor Lionel Messi di Puncak Top Skor Piala Dunia 2026

Minggu, 5 Juli 2026 - 14:17 WIB

Sempat Hilang Beberapa Hari, Aiptu Sumaryanto Ditemukan Gugur di Sungai Rantau Asem Katingan

Berita Terbaru

Nanda Persada Sebut Ruben Onsu Punya Bukti Kuat dalam Gugatan Hak Asuh. Instagram @ruben_onsu

Entertainment

Sahabat Ungkap Alasan Ruben Onsu Gugat Hak Asuh Anak dari Sarwendah

Senin, 6 Jul 2026 - 20:25 WIB