Kerugian Rp 1.822 Triliun: Riset Desak Pemerintah Pensiunkan 20 PLTU Batu Bara Berbahaya

- Jurnalis

Selasa, 4 November 2025 - 17:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi bahaya penundaan mempensiunkan PLTU yang digelar oleh Trend Asia, Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Centre for Research on Energy and Clean Air (Crea). [Suara.com/Yaumal Adi Asri Hutasuhut].

Diskusi bahaya penundaan mempensiunkan PLTU yang digelar oleh Trend Asia, Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Centre for Research on Energy and Clean Air (Crea). [Suara.com/Yaumal Adi Asri Hutasuhut].

1TULAH.COM-Sikap “galau” Pemerintah Indonesia dalam memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dinilai membahayakan ratusan ribu nyawa dan merugikan perekonomian nasional hingga triliunan rupiah.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru berjudul Toxic Twenty: Daftar Hitam 20 PLTU Paling Berbahaya di Indonesia, hasil riset kolaborasi Trend Asia, Center of Economic and Law Studies (Celios), dan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA).

Laporan yang diluncurkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Selasa (4/10/2025) ini merangkum 20 PLTU yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Bali yang dianggap paling berbahaya.

Berdasarkan analisis menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP), riset tersebut memproyeksikan negara akan menanggung kerugian kumulatif sebesar Rp 1.822 triliun apabila 20 PLTU berbahaya ini terus beroperasi hingga tahun 2050.

Peneliti Celios, Atina Rizqiana, memerinci kerugian ekonomi per tahun di masa mendatang mencapai Rp 52,4 triliun, dengan potensi berkurangnya pendapatan masyarakat secara agregat sebesar Rp 48,4 triliun.

Baca Juga :  Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z

Dampak negatif juga meluas ke sektor ketenagakerjaan. Atina menyebut, beroperasinya 20 PLTU tersebut berpotensi mengurangi sebanyak 1,45 juta tenaga kerja. Angka ini merupakan akumulasi dari tergerusnya lahan pertanian subur, perkebunan, dan perikanan yang terdampak pencemaran lingkungan.

“Kehadiran PLTU tidak hanya memberikan dampak negatif secara makro terhadap perekonomian, tapi juga menghancurkan ekonomi di sektor-sektor strategis yang selama ini menjadi mata pencaharian warga,” ujar Atina.

Ancaman Kematian Dini dan Dampak Kesehatan

Selain kerugian ekonomi, laporan tersebut juga menyoroti dampak kesehatan yang mengancam. Pemerintah dianggap sedang mempertaruhkan 156.000 nyawa yang berpotensi mengalami kematian dini akibat polusi dari 20 PLTU yang masih beroperasi.

Analis dari CREA, Katherine Hasan, menjelaskan bahwa cemaran polusi akibat pembakaran energi fosil di PLTU berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, di antaranya kelahiran prematur, kelahiran dengan berat badan kurang, asma pada anak, stroke, dan ketidakhadiran bekerja.

Baca Juga :  Sule Diduga Jadi Sosok Host Senior yang Lempar Naskah ke Muka Tim Kreatif Ini Talkshow, Ini Pemicunya

“Belakangan, kita sering mendengar berita kenaikan angka akibat ISPA di Jakarta pada tahun 2025. Salah satu penyebab dari ISPA yakni cemaran polutan lintas batas dari PLTU batu bara di sekitar Jakarta,” kata Katherine.

Mendesak Pensiun Dini PLTU

Menyikapi temuan ini, Pengampanye Energi Trend Asia, Novita Indri Pratiwi, menegaskan bahwa pemensiunan dini PLTU harus segera dilakukan pemerintah. Menurutnya, langkah ini justru menjadi solusi untuk menyelamatkan keuangan negara di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

“Negara-negara pemberi modal dan pemerintah harus berhenti menawarkan solusi palsu untuk menunda pemensiunan PLTU, melainkan benar-benar melakukan transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan,” tegas Novita. Ia juga berharap hasil riset ini dapat menyadarkan investor bahwa pembangunan PLTU bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menghancurkan lingkungan dan kesehatan masyarakat. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Haji Isam Investasi Rp6,3 Triliun Bangun Smelter Nikel Pertama di Kalsel
Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Mess Jetty, Pria Asal Jingah Diduga Akhiri Hidup
Harumkan Nama Daerah, Tim Balogo Barito Timur Sabet Juara di FBIM 2026 Palangka Raya
Negosiasi Alot Berhasil! Pemerintah Pulangkan 9 Relawan Indonesia yang Ditahan Israel
Polisi Bekuk Empat Terduga Pengguna Sabu di Kota Palu Sulteng
Bareskrim Polri Ungkap Dugaan Peredaran Narkoba di THM New Zone Medan
AS dan Iran di Ambang Kesepakatan Gencatan Senjata 60 Hari, Selat Hormuz Bakal Dibuka Kembali
Prabowo Bentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia Jadi Single Exporter, Ekonom Khawatirkan Hal Ini
Tag :

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 17:12 WIB

Haji Isam Investasi Rp6,3 Triliun Bangun Smelter Nikel Pertama di Kalsel

Senin, 25 Mei 2026 - 07:53 WIB

Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Mess Jetty, Pria Asal Jingah Diduga Akhiri Hidup

Senin, 25 Mei 2026 - 07:17 WIB

Harumkan Nama Daerah, Tim Balogo Barito Timur Sabet Juara di FBIM 2026 Palangka Raya

Senin, 25 Mei 2026 - 03:55 WIB

Negosiasi Alot Berhasil! Pemerintah Pulangkan 9 Relawan Indonesia yang Ditahan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:30 WIB

Polisi Bekuk Empat Terduga Pengguna Sabu di Kota Palu Sulteng

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:26 WIB

Bareskrim Polri Ungkap Dugaan Peredaran Narkoba di THM New Zone Medan

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:40 WIB

AS dan Iran di Ambang Kesepakatan Gencatan Senjata 60 Hari, Selat Hormuz Bakal Dibuka Kembali

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:10 WIB

Prabowo Bentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia Jadi Single Exporter, Ekonom Khawatirkan Hal Ini

Berita Terbaru

Wabup Rahmanto menyerahkan bantuan di Pondok Pesantren Nailul Authar, Desa Danau Usung, Senin (25/5/2026).

Daerah

Pemkab Murung Raya Salurkan 80 Ekor Sapi Kurban

Senin, 25 Mei 2026 - 15:03 WIB