1TULAH.COM-Satu nama kini menjadi pusat gempa politik nasional: Zulfadhli. Sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), ia tiba-tiba berubah dari seorang politisi regional menjadi figur paling kontroversial di Indonesia.
Penyebabnya adalah sebuah pernyataan yang menggegerkan, diucapkannya di hadapan ribuan demonstran: ia setuju Aceh pisah dari Indonesia.
Pernyataan ini bukan sekadar kesalahan bicara. Ini adalah pertaruhan politik tingkat tinggi yang kini menempatkan Zulfadhli di persimpangan jalan—apakah ia akan menjadi pahlawan bagi rakyatnya atau dicap sebagai musuh bagi negaranya. Kalimat yang mengguncang Istana ini lahir dari situasi yang sangat genting, saat ia dihadapkan pada lautan massa yang marah dan menuntut referendum.
Siapa Sebenarnya Zulfadhli?
Zulfadhli bukanlah politisi kemarin sore. Sebagai Ketua DPRA, ia adalah pemimpin legislatif di provinsi yang memiliki status otonomi khusus, sebuah status yang lahir dari sejarah konflik panjang. Ia dikenal sebagai politisi yang sangat memahami denyut nadi dan sentimen masyarakat Aceh.
Karakternya bisa dibaca sebagai seorang populis, seorang pemimpin yang lebih mengutamakan aspirasi langsung dari rakyatnya di atas segalanya, bahkan jika itu harus berbenturan dengan konstitusi negara. Zulfadhli adalah produk dari politik lokal Aceh yang sangat khas, di mana isu identitas dan sejarah perjuangan selalu menjadi bara dalam sekam.
Latar belakangnya sebagai mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1997 juga memberikan konteks pada pernyataannya. Setelah perdamaian Helsinki, ia memilih jalur politik dan berhasil menjabat sebagai Ketua DPRA, dipercaya oleh Partai Aceh.
Motif di Balik Pernyataan yang Viral
Pernyataan Zulfadhli ini melahirkan satu pertanyaan terbesar yang kini diperdebatkan di seluruh negeri: apakah ia tulus memperjuangkan aspirasi rakyat, atau ini hanya sebuah taktik politik untuk meredam amarah massa?
Dalam sebuah demonstrasi di depan gedung DPRA, Zulfadhli menghadapi massa yang menuntut penolakan pembangunan batalion baru di Aceh.
Alih-alih hanya meneken tuntutan, ia justru menantang massa untuk menambahkan poin “Aceh pisah dari pusat” agar ia bisa ikut menandatanganinya. Meskipun poin tersebut tidak ditambahkan oleh demonstran, kalimatnya sudah viral dan menimbulkan reaksi keras.
Apapun motifnya, Zulfadhli kini telah menempatkan dirinya di pusat perhatian publik. Ia akan menghadapi tekanan hebat dari Jakarta, sekaligus berpotensi dielu-elukan sebagai pahlawan oleh sebagian rakyat Aceh. Nasibnya, dan mungkin juga nasib Aceh, kini berada di ujung tanduk. (Sumber:Suara.com)
















![Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah (kanan) menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (10/7/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/07/jampidsus-kasus-360x200.jpg)







![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

