Krisis Guru Hantui Sekolah Rakyat! Sorotan pada Kesejahteraan Pendidik di Indonesia

- Jurnalis

Kamis, 17 Juli 2025 - 18:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah siswa di sekolah rakyat beraktivitas di hari pertama sekolah di Sentra Efata, Naibonat, Kabupaten Kupang, NTT, Senin (14/7/2025). [ANTARA FOTO/Fauzan/rwa]

Sejumlah siswa di sekolah rakyat beraktivitas di hari pertama sekolah di Sentra Efata, Naibonat, Kabupaten Kupang, NTT, Senin (14/7/2025). [ANTARA FOTO/Fauzan/rwa]

1TULAH.COM-Sekolah Rakyat (SR), sebuah program pendidikan inklusif yang digadang-gadang sebagai terobosan baru, resmi diluncurkan dengan harapan besar untuk pemerataan akses pendidikan di Indonesia. Namun, belum genap seumur jagung, program ini sudah dihadapkan pada kendala fundamental yang seolah menjadi “lagu lama” dalam dunia pendidikan: kekurangan guru.

Tantangan Awal Sekolah Rakyat: Pengakuan Menteri Sosial

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), secara terbuka mengakui tantangan ini. Saat berada di UGM pada Kamis (17/7/2025) Gus Ipul mengungkapkan, “Ya sedang diusahakan [memenuhi kebutuhan guru di SR]. Ada kekurangan guru, misalnya ada guru yang mengundurkan diri.” Alasan pengunduran diri tersebut, menurut Gus Ipul, salah satunya adalah karena lokasi mengajar yang jauh dari tempat tinggal guru, sebuah alasan yang ia maklumi.

Pernyataan lugas ini sejatinya membuka “kotak pandora” yang lebih besar. Masalahnya bukan sekadar “jarak”, melainkan potret buram dari isu menahun yang tak kunjung usai: kesejahteraan guru.

Puncak Gunung Es Masalah Kesejahteraan Guru di Indonesia

Kasus guru yang mundur dari Sekolah Rakyat karena lokasi yang jauh hanyalah sebuah gejala. Akarnya jauh lebih dalam dan merupakan cerminan dari sebuah sistem yang belum sepenuhnya mampu memberikan jaminan kesejahteraan, keamanan, dan dukungan yang layak bagi para pendidik. Terutama, ini berdampak signifikan pada mereka yang bersedia mengabdi di daerah terpencil.

Baca Juga :  Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan

Solusi jangka pendek pemerintah untuk menggunakan daftar guru cadangan, seperti yang disampaikan Gus Ipul, “Tetapi Dikdasmen dan kita punya cadangan sangat banyak guru,” memang bisa menjadi penambal sulam sementara. Namun, pendekatan ini tidak menyelesaikan masalah utamanya. Selama profesi guru belum dianggap sebagai sebuah panggilan yang didukung penuh oleh negara—baik dari segi finansial, fasilitas, maupun jenjang karier—maka “krisis guru” akan terus berulang di setiap program pendidikan baru.

Ironi Nasib Guru Honorer dan Perjuangan Menuju PPPK

Di satu sisi, pemerintah membutuhkan lebih banyak guru untuk program rintisan seperti Sekolah Rakyat. Namun di sisi lain, ribuan guru honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun justru masih berjuang di jalan terjal untuk mendapatkan pengakuan dan status yang layak melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Faktanya, banyak guru honorer menghadapi berbagai kendala sistemik:

  • Pendapatan di Bawah Upah Minimum: Sebagian besar guru honorer masih menerima gaji yang jauh dari layak, seringkali dibayarkan per tiga bulan.
  • Ketidakpastian Karier: Tanpa status kepegawaian yang jelas, mereka kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan, jaminan hari tua, dan jenjang karier yang pasti.
  • Kendala Birokrasi PPPK: Proses pengangkatan menjadi PPPK masih sarat masalah. Ini termasuk pemerintah daerah yang tidak mengajukan formasi sesuai kebutuhan, hingga kasus guru yang sudah mengabdi belasan tahun namun tidak terdata di database BKN, sehingga kesempatan mereka untuk diangkat menjadi sirna.
Baca Juga :  Rotasi Kepemimpinan Polres Barsel: AKBP Jecson R. Hutapea Pamit dan Ajak Sinergi Tetap Guard

Kondisi ini menciptakan sebuah ironi yang menyakitkan: negara membutuhkan guru berdedikasi, namun para guru yang sudah membuktikan dedikasinya selama ini justru dibiarkan berjuang sendiri dalam labirin birokrasi.

Membangun ekosistem pendidikan yang kokoh berarti lebih dari sekadar memberikan gaji; guru membutuhkan fasilitas yang memadai, akses untuk pengembangan diri, dan rasa aman dalam menjalankan tugas mulianya. Program PPPK adalah langkah awal yang baik untuk menjamin kesejahteraan ekonomi, namun eksekusinya harus diperbaiki secara menyeluruh.

Program mulia seperti Sekolah Rakyat membutuhkan fondasi yang kokoh, dan fondasi itu adalah guru yang sejahtera dan dihargai. Jika masalah mendasar ini terus diabaikan, program pendidikan sebagus apapun hanya akan menjadi menara gading yang rapuh dan sulit mencapai tujuan utamanya. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun
Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta
Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap
Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik
Manchester City Rekrut Enzo Fernandez, Gelandang Argentina Jadi Amunisi Baru
Rahasia Sains di Balik Fenomena Matahari Berwarna Merah Saat Bencana Karhutla
KPK Duga Pemerasan Izin Tinggal WNA di Ditjen Imigrasi Masih Marak Pasca-OTT
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 17:02 WIB

Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta

Rabu, 2 September 2026 - 13:39 WIB

Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap

Rabu, 2 September 2026 - 13:31 WIB

Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik

Rabu, 2 September 2026 - 12:43 WIB

Manchester City Rekrut Enzo Fernandez, Gelandang Argentina Jadi Amunisi Baru

Rabu, 2 September 2026 - 12:12 WIB

Rahasia Sains di Balik Fenomena Matahari Berwarna Merah Saat Bencana Karhutla

Rabu, 2 September 2026 - 12:04 WIB

KPK Duga Pemerasan Izin Tinggal WNA di Ditjen Imigrasi Masih Marak Pasca-OTT

Berita Terbaru