Kisah Haru Pria Yordania yang Bebas dari Penjara Selama 38 Tahun di Suriah usai Jatuhnya Assad

- Jurnalis

Selasa, 10 Desember 2024 - 21:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi tahanan (sumber: freepik)

Ilustrasi tahanan (sumber: freepik)

1TULAH.COM – Seorang pria asal Yordania sudah kembali ke negara asalnya usai habiskan selama 38 tahun di penjara Suriah, ungkap seorang pejabat pada hari Selasa, setelah jatuhnya presiden Bashar al-Assad mengakhiri penantian yang menyakitkan bagi pihak keluarganya. Pria itu bernama Osama Bashir Hassan al-Bataynah. Ditemukan di Suriah “tidak sadarkan diri dan menderita kehilangan ingatan”, ungkap Kementerian Luar Negeri Yordania Soufian al-Kodat kepada AFP.

Kodat mengatakan jika kerabat pria ini melaporkan hilangnya pria itu pada tahun 1986, ketika ia baru berusia 18 tahun dan bahwa ia telah menetap di penjara sejak usia tersebut.

“Ia dipindahkan dari Damaskus ke perbatasan Jaber (dengan Yordania) di mana ia diserahkan kepada penjaga perbatasan,” sambung Kodat, umumkan bahwa pria tersebut sudah bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarganya pada Selasa pagi. Para pemberontak yang menyingkirkan Assad dari kekuasaan pada hari Minggu juga telan membuka penjara lainnya serta membebaskan sebanyak ribuan tahanan. Kelompok masyarakat setempat telah lama menuduh bahwa Assad memimpin rezim brutal yang melakukan penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan, bahkan pembunuhan di penjara.

Tak sedikit jumlah warga negara asing yang ditahan, termasuk Suheil Hamawi yang berasal dari Lebanon dan kembali ke negaranya pada hari Senin usai dikurung selama 33 tahun. Organisasi Arab untuk Hak Asasi Manusia di Yordania ungkapkan pada hari Selasa bahwa masih ada 236 warga negara Yordania yang ditahan di Suriah.

Amnesty International sudah mendokumentasikan ribuan tragedi pembunuhan di penjara Saydnaya, yang namanya sudah menjadi sinonim dengan kekejaman terburuk dari pemerintahan Assad, dan menjulukinya sebagai “rumah jagal manusia”.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia memperkirakan sekitar tahun 2022 bahwa lebih dari 100.000 orang sudah tewas di penjara-penjara tersebut sejak dimulainya pemberontakan pada tahun 2011 yang menyebabkan perang saudara.

Penulis : Wanda Hanifah Pramono

Sumber Berita : Suara.com

Berita Terkait

Sengit! Kylian Mbappe Samai Rekor Lionel Messi di Puncak Top Skor Piala Dunia 2026
Lumpuh Akibat Cuaca Ekstrem, Gelombang Panas AS Tekan Jaringan Listrik dan Transportas
Piala Dunia 2026: Maroko Depak Belanda, Jalanan Amsterdam dan Utrecht Diwarnai Kerusuhan
Eropa Membara! Gelombang Panas Ekstrem Tewaskan 1.300 Orang, Suhu Jerman Pecah Rekor 41,7°C
Banjir Kritik! Jet Pribadi Presiden FIFA Terbangkan 516 Ton Emisi Karbon di Piala Dunia 2026
Bungkam Keraguan, Timnas Jepang Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Tanpa Kekalahan!
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Tembus 589 Jiwa, Ratusan Gempa Susulan Masih Mengancam!
Selat Hormuz Diblokade Lagi, Pertemuan Damai JD Vance dan Iran di Swiss Tegang
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 17:47 WIB

Sengit! Kylian Mbappe Samai Rekor Lionel Messi di Puncak Top Skor Piala Dunia 2026

Jumat, 3 Juli 2026 - 06:44 WIB

Lumpuh Akibat Cuaca Ekstrem, Gelombang Panas AS Tekan Jaringan Listrik dan Transportas

Rabu, 1 Juli 2026 - 05:46 WIB

Piala Dunia 2026: Maroko Depak Belanda, Jalanan Amsterdam dan Utrecht Diwarnai Kerusuhan

Rabu, 1 Juli 2026 - 05:38 WIB

Eropa Membara! Gelombang Panas Ekstrem Tewaskan 1.300 Orang, Suhu Jerman Pecah Rekor 41,7°C

Senin, 29 Juni 2026 - 06:14 WIB

Banjir Kritik! Jet Pribadi Presiden FIFA Terbangkan 516 Ton Emisi Karbon di Piala Dunia 2026

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:33 WIB

Bungkam Keraguan, Timnas Jepang Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Tanpa Kekalahan!

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:37 WIB

Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Tembus 589 Jiwa, Ratusan Gempa Susulan Masih Mengancam!

Senin, 22 Juni 2026 - 07:09 WIB

Selat Hormuz Diblokade Lagi, Pertemuan Damai JD Vance dan Iran di Swiss Tegang

Berita Terbaru