Waspada! Ancaman Serangan Siber Masih Bisa Terjadi, Pembayaran Tebusan: Solusi Tepat atau Justru Memperparah Keadaan?

- Jurnalis

Selasa, 2 Juli 2024 - 10:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Serangan siber oleh peretas asing telah melumpuhkan Pusat Data Nasional di Indonesia dan peretas meminta sejumlah uang tebusan (foto: ilustrasi).

Serangan siber oleh peretas asing telah melumpuhkan Pusat Data Nasional di Indonesia dan peretas meminta sejumlah uang tebusan (foto: ilustrasi).

1TULAH.COM-Pusat Data Nasional (Pusdatnas) Indonesia menjadi korban serangan siber oleh peretas asing. Akibatnya, lebih dari 200 instansi pemerintah dan swasta, termasuk sektor keuangan dan imigrasi, mengalami kelumpuhan. Para peretas pun menuntut tebusan senilai US$8 juta untuk membuka kembali akses data.

Pemerintah Indonesia masih terus berupaya mengatasi serangan siber yang melumpuhkan terhadap Pusat Data Nasional dan tuntutan tebusan atau ransomware. Peretasan data pemerintah ini masih bisa saja terjadi. Oleh, karenanya semua pihak dalam sistem pemerintah harus tetap mewaspdainya.

Para pakar siber memproyeksikan ancaman serangan siber pada pemerintah dan lembaga-lembaga internasional akan terus meningkat di masa-masa mendatang, dan memberi pandangan pro dan kontra soal pembayaran tebusan.

Hampir dua pekan sejak Pusat Data Nasional Indonesia diretas oleh kriminal siber, lebih dari 200 instansi pemerintah dan swasta, temasuk sektor finansial dan imigrasi, nyaris lumpuh. Hingga hari Sabtu (29/6/2024) layanan imigrasi masih belum pulih dan antrean panjang pemeriksaan imigrasi terjadi di bandara internasional Soekarno Hatta, meski sempat berfungsi sebagian.

Untuk membuka kembali akses data nasional dan mengaktifkan kembali operasi, para peretas menuntut uang tebusan US$8 juta.

Pakar pertahanan keamanan siber di Indonesia, Kevin Yehezkiel Gurning, mengatakan belum dapat memastikan berapa besar dampak peretasan ini pada publik.

“Sampai saat ini masih belum ada data. Namun kurang lebihnya belajar dari behavior (perilaku), si ransomware ini mengunci dan menginfeksi data-data tersebut sehingga tidak bisa diakses oleh pengelola.”

Baca Juga :  Bosan dengan Gaya Simpel? Contek 4 Cara Lisa BLACKPINK Pakai Crop Top Agar Lebih Chic

Serangan Siber Retas Pusat Data Indonesia, Minta Tebusan

Pakar keamanan siber AS, yang juga pimpinan eksekutif perusahaan keamanan siber untuk layanan kesehatan, Clearwater Security, Bob Chaput, memperkirakan serangan siber dan ransomware canggih seperti ini akan terus meningkat di masa depan. Penulis dua buku mengenai keamanan siber itu menyebut tiga akar penyebab.

“Yang pertama adalah ketidaktahuan akan resiko, penyebab kedua adalah kegagalan para pimpinan atau eksekutif dan dewan direktur untuk terlibat dalam masalah ini, secara cepat dan bertanggung jawab. Tidak ada pertanggung jawaban pada tingkat pimpinan mengenai masalah-masalah IT, mengangapnya sebagai hal yang tidak harus mereka khawatirkan. Alasan ketiga adalah adanya pandangan bahkan pada organisasi yang memahami resiko mereka memandang serangan siber hanya sebagai pengalaman buruk,” jelasnya.

Pakar keamanan siber Amerika lainnya, Diane M. Janosek, yang juga CEO Janos LLC mengutip data statista.com yang mengatakan berdasarkan laporan pada bulan Februari 2024, secara global ada 317,59 juta upaya serangan ransomware sepanjang tahun 2023, atau berarti meningkat 93 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih jauh mantan anggota senior Intelijen Pertahanan, Badan Keamanan Nasional AS itu mengatakan berdasarkan data rata-rata uang tebusan yang dibayar dari tahun 2022-2024, Amerika merupakan negara pembayar uang tebusan terbanyak pada ransomeware. Bisa jadi, tambahnya, karena besarnya dampak serangan itu terhadap layanan yang diberikan pada publik.

Baca Juga :  Sikap Pinkan Mambo Saat Dihujat Netizen Karena Ngamen di Jalan: "Yang Penting Gak Minta Sama Kalian"

Diane M. Janosek menambahkan belajar dari pengalaman insiden ransomware di AS, pemerintah Indonesia memerlukan tindakan yang terkoordinasi.

“Bermitra bersama para pakar di bidangnya, yang di AS dikenal sebagai kemitraan publik dan swasta, untuk melakukan penilaian, menyelidiki kerugian dan memulihkan kembali layanan-layanan yang sangat dibutuhkan oleh penduduk Indonesia.”

Menkominfo Indonesia Budi Arie Setiadi sebelumnya mengatakan akan menolak membayar tuntutan para kriminal siber ini.

Ancaman Ransomware Diprediksi Terus Meningkat, Pakar: Perlu Koordinasi Penanganan

Diane M. Janosek melihat pro dan kontra soal membayar uang tebusan ini. “Pro dari pembayaran tebusan adalah ketika yang diserang berada di bawah radar, tidak terlalu disorot dan ingin segera kembali normal, kontra dari tidak membayar adalah memerlukan waktu yang lama untuk memulihkan sistem agar berfungsi dan harus membuat keputusan menerima sistem tidak berfungsi.”

Para pakar siber sepakat perlunya beberapa tindakan guna mencegah terulangnya insiden ransomware. Tindakan pengamanan oleh setiap individu dan pengguna, serta pengelola siber, termasuk developer program dalam mematuhi protokol dan langkah-langkah keamanan siber.

Upaya tersebut juga harus diikuti dengan pemantauan potensi masuknya virus secara berkala, pengujian piranti lunak dan dimatikannya program remote yang tidak lagi digunakan. Kevin Yehezkiel Gurning juga melihat bahwa back up data secara berkala dapat ikut membantu mengurangi dampak serangan siber. (Sumber:voaindonesia.com)

Berita Terkait

Fantastis! Doktif Mengaku Ditawari Uang ‘Bawah Tanah’ Puluhan Miliar Jelang Putusan Praperadilan
HPN 2026: Menjaga Nurani Jurnalisme di Tengah Ancaman Disrupsi AI dan Algoritma
Polisi Samarinda Tertibkan Balap Liar, 32 Motor Diamankan
KPK Perdalam Peran Importir terkait Kasus Suap Bea Cukai
Presiden Prabowo Rencanakan Bangun 1.000 Kamar Kampung Haji Indonesia di Makkah
Polisi Usut Kasus Kematian Pria Wajah Terbungkus Plastik di Kos Bandarlampung
Satu Kolam Isinya Jenazah Semua, dr Gia Pratama Ceritakan Ngerinya Praktikum Anatomi di FK
Kurs Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.869, Intip Pergerakannya di Awal Pekan
Tag :

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 14:02 WIB

Fantastis! Doktif Mengaku Ditawari Uang ‘Bawah Tanah’ Puluhan Miliar Jelang Putusan Praperadilan

Senin, 9 Februari 2026 - 13:51 WIB

HPN 2026: Menjaga Nurani Jurnalisme di Tengah Ancaman Disrupsi AI dan Algoritma

Senin, 9 Februari 2026 - 13:51 WIB

Polisi Samarinda Tertibkan Balap Liar, 32 Motor Diamankan

Senin, 9 Februari 2026 - 13:42 WIB

KPK Perdalam Peran Importir terkait Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 9 Februari 2026 - 10:11 WIB

Polisi Usut Kasus Kematian Pria Wajah Terbungkus Plastik di Kos Bandarlampung

Senin, 9 Februari 2026 - 10:07 WIB

Satu Kolam Isinya Jenazah Semua, dr Gia Pratama Ceritakan Ngerinya Praktikum Anatomi di FK

Senin, 9 Februari 2026 - 09:50 WIB

Kurs Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.869, Intip Pergerakannya di Awal Pekan

Minggu, 8 Februari 2026 - 07:00 WIB

Legenda Film Laga Willy Dozan Bicara Soal Penuaan dan Pengapuran Tulang

Berita Terbaru

Nasional

Polisi Samarinda Tertibkan Balap Liar, 32 Motor Diamankan

Senin, 9 Feb 2026 - 13:51 WIB

Ilustrasi Gedung KPK.

Nasional

KPK Perdalam Peran Importir terkait Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 9 Feb 2026 - 13:42 WIB