Fenomena El Nino Tahun Ini Diperkirakan Tidak Separah Tahun Sebelumnya, BMKG: Oktober Sudah Mulai Turun Hujan

- Jurnalis

Selasa, 1 Agustus 2023 - 08:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Kekeringan saat musim kemarau

Ilustrasi: Kekeringan saat musim kemarau

1TULAH.COM-Puncak kemarau yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia akan terjadi mulai Agustus hingga September 2023. Dampak fenomena El Nino ini akan berdampak pada kekeringan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Akan tetapi, kekeringan sebagai dampak El Nino pada tahun ini diperkirakan tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Sebab, pada bulan Oktober 2023, sejumlah wilayah yang sempat terjadi kekeringan sudah akan mulai turun hujan.

Fenomena El Nino turut berpengaruh terhadap pola cuaca global, termasuk di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino di Indonesia akan bertahan hingga Desember 2023.

“El Nino masih akan bertahan sampai akhir tahun. Tapi dampaknya seiring dengan datangnya musim hujan makin berkurang. Sebab November sudah ada mulai hujan,” kata Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, A Fachri Radjab, Senin (31/7/2023).

El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik. Suhu menjadi yang lebih hangat dari biasanya ini mengakibatkan pengurangan udara basah di wilayah sekitarnya yang pada akhirnya ikut menaikan suhu.

“Artinya fenomena ini bersifat global. Dampaknya tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi di Indonesia dampak yang paling kuat dirasakan adalah berkurangnya curah hujan. Ketika kita di musim kemarau ditambah El Nino jadi makin kering wilayah kita. Itu dampaknya yang jelas terjadi,” jelas Fachri.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kalteng Dorong Barito Utara Optimalkan Potensi Daerah di Usia ke-76

BMKG mencatat fenomena El Nino telah beberapa kali terjadi di Indonesia, termasuk pada tahun 2015 dengan intensitas kuat dan pada tahun 2019 dengan intensitas lemah.

Pada tahun ini, menurut analisis BMKG, fenomena itu telah mengakibatkan kemarau di 63 persen wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.

“Diperkirakan musim kemarau ini akan lebih kering dibandingkan tiga tahun sebelumnya,” ucap Fachri.

Kendati fenomena El Nino diprediksi akan bertahan hingga akhir tahun 2023. Namun sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan mulai Oktober mendatang.

“Oktober sebagian wilayah Indonesia sudah mulai ada yang hujan seperti Sumatra. Tapi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa terutama bagian timur itu masih kemarau,” ungkap Fachri.

Dampak a El Nino di Indonesia, atau di wilayah lain, biasanya dicirikan oleh kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menyiapkan sejumlah langkah dalam mengantisipasinya.

“Dalam langkah mengatasi kekeringan kami memberikan imbauan kepada daerah-daerah untuk memastikan ketersediaan air, khususnya di daerah-daerah yang biasanya timbul kekeringan. Mumpung sekarang masih bisa mendatangkan hujan,” ujar Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Minta Kasus Penganiayaan Yuvita Diusut Tuntas

Suharyanto juga mengatakan, modifikasi cuaca juga dilakukan pemerintah untuk mendatangkan hujan di wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak El Nino.

“Kami bekerja sama dengan BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, menggelar operasi teknologi modifikasi cuaca, yaitu mendatangkan hujan untuk mengisi danau, embung, sungai, serta sumur,” jelasnya.

Potensi Karhutla akibat dampak El Nino turut menjadi sorotan BNPB. Sesuai Instruksi Presiden No 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Karhutla ada enam provinsi yang menjadi prioritas yaitu Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Dalam menangani karhutla BNPB telah bersiaga melalui operasi darat.”Apabila operasi karhutla membesar dan tidak bisa diatasi oleh operasi darat. BNPB menyiapkan langkah terakhir dengan menggelar operasi udara dengan menggunakan helikopter yang melakukan water bombing,” ucap Suharyanto.

Sementara itu secara terpisah, dosen program studi meteorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Joko Wiratmo mengatakan dampak El Nino diprediksi bakal lebih banyak dirasakan di Indonesia bagian timur.

“Di Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh Samudra Pasifik itu adalah Indonesia bagian timur. Kalau El Nino itu makin ke arah barat relatif berkurang dampaknya. Biasanya El Nino berkaitan dengan curah hujan yang makin menurun atau berkurang bahkan kekeringan,” katanya. (Sumber:voaindonesia.com)

 

Berita Terkait

Dukung Program MBG, Polri Targetkan Bangun 1.500 SPPG
Polda Metro Jaya Catat 2.216 Kasus Kejahatan 3C Hingga Juni 2026
Piala Dunia 2026: Maroko Depak Belanda, Jalanan Amsterdam dan Utrecht Diwarnai Kerusuhan
Eropa Membara! Gelombang Panas Ekstrem Tewaskan 1.300 Orang, Suhu Jerman Pecah Rekor 41,7°C
Legislator Kalteng Ingatkan Program Koperasi Merah Putih Jangan Korbankan Pembangunan Fisik Desa
Sering Pemadaman Bergilir, DPRD Kalteng Desak Pemerintah Genjot Pembangunan PLTS
Pemkab Murung Raya Dukung Semangat Pembangunan di Hari Jadi Barito Utara
Harganas ke-33: DPRD Kalteng Tekankan Peran Strategis Keluarga Bentuk Karakter dan Kepedulian Lingkungan
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 21:28 WIB

Dukung Program MBG, Polri Targetkan Bangun 1.500 SPPG

Rabu, 1 Juli 2026 - 21:26 WIB

Polda Metro Jaya Catat 2.216 Kasus Kejahatan 3C Hingga Juni 2026

Rabu, 1 Juli 2026 - 05:46 WIB

Piala Dunia 2026: Maroko Depak Belanda, Jalanan Amsterdam dan Utrecht Diwarnai Kerusuhan

Rabu, 1 Juli 2026 - 05:38 WIB

Eropa Membara! Gelombang Panas Ekstrem Tewaskan 1.300 Orang, Suhu Jerman Pecah Rekor 41,7°C

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:26 WIB

Legislator Kalteng Ingatkan Program Koperasi Merah Putih Jangan Korbankan Pembangunan Fisik Desa

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:00 WIB

Sering Pemadaman Bergilir, DPRD Kalteng Desak Pemerintah Genjot Pembangunan PLTS

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:13 WIB

Pemkab Murung Raya Dukung Semangat Pembangunan di Hari Jadi Barito Utara

Selasa, 30 Juni 2026 - 04:08 WIB

Harganas ke-33: DPRD Kalteng Tekankan Peran Strategis Keluarga Bentuk Karakter dan Kepedulian Lingkungan

Berita Terbaru