Inflasi Awal Tahun 2023 Capai 5,28 Persen, Tertinggi Ada di Kalsel

- Jurnalis

Jumat, 3 Februari 2023 - 10:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang pedagang (kanan) menjual peralatan dapur bekas menunggu pelanggan di pasar barang bekas di Surabaya, 1 Februari 2023. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Seorang pedagang (kanan) menjual peralatan dapur bekas menunggu pelanggan di pasar barang bekas di Surabaya, 1 Februari 2023. (JUNI KRISWANTO/AFP)

1TULAH.COM-Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Indonesia pada Januari 2023 mencapai 5,28 persen secara tahunan. Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) merupakan salah satu yang mengalami inflasi tertinggi dari 80 kota se-Indonesia. Inflasi di Kotabaru, Kalsel mencapai 7,78 persen.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan kenaikan harga kelompok makanan, minuman, tembakau memiliki andil besar atas inflasi pada Januari 2023. BPS menghitung inflasi pada Januari 2023 mencapai 5,28 persen secara tahunan atau 0,34 persen secara bulanan.

Menurut Margo, inflasi terjadi di 80 kota, tertinggi di Kotabaru (Kalimantan Selatan) sebesar 7,78 persen dan terendah di Sorong (Papua Barat) sebesar 3,23 persen.

“Inflasi Januari 2023 (secara bulanan) relatif lebih rendah kalau dibandingkan dengan inflasi Januari tahun sebelumnya yang sebesar 0,56 persen,” kata Margo Yuwono dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (1/2/2023).

Margo menambahkan terdapat sejumlah kebijakan pemerintah yang mempengaruhi tingkat inflasi Januari 2023. Salah satunya yaitu kebijakan kenaikan tarif cukai rokok yang mendorong peningkatan harga rokok.

Pantauan BPS, kenaikan harga rokok tersebut terjadi sepanjang tahun sebagai akibat kebijakan ini. Selain itu, yaitu kebijakan tentang harga BBM dan kenaikan suku bunga pada Januari 2023 yang juga mempengaruhi inflasi.

Baca Juga :  Pemkab Murung Raya Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Bersama KPK

“Kita patut untuk optimistis namun tetap waspada di tengah ketidakpastian melihat kondisi global yang belum pasti pemulihannya,” tambahnya.

Margo menjelaskan di tengah ketidakpastian global, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,4 persen pada 2022 menjadi 2,9 persen pada 2023. Sementara rantai pasok yang belum sepenuhnya pulih, kata dia, juga akan menyebabkan inflasi global masih tinggi.

Meskipun, menurut BPS, inflasi global diperkirakan akan turun dari 8,8 persen pada 2022 menjadi 6,6 persen pada 2023. Namun, angka ini masih lebih tinggi dari rata-rata inflasi pada 2017-2019 yakni 3,5 persen.

Karena itu, Margo menyarankan pemerintah mewaspadai sejumlah hal yang dapat berdampak pada inflasi di Tanah Air. Antara lain perkembangan nilai tukar rupiah yang dapat mempengaruhi harga barang impor dan dinamika iklim-cuaca.

Selain itu, BPS menilai perlu ada penguatan koordinasi antara pusat dan daerah dalam hal manajemen stok dan distribusi pangan antar wilayah.

Baca Juga :  Kesenjangan Gender Masih Ada, Pemkab Mura Perkuat Strategi PUG

“Kebijakan menaikkan harga komoditas yang diatur pemerintah berdampak pada inflasi sehingga perlu dilakukan secara cermat.”

Pengamat: Pemerintah Harus Waspada Inflasi Tinggi pada Awal Tahun

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira meminta pemerintah mewaspadai inflasi pada awal tahun yang tinggi yakni 5,28 persen.

Ia beralasan pada umumnya inflasi pada Januari terbilang rendah atau sampai deflasi karena rendahnya permintaan setelah Natal dan Tahun Baru. Karena itu, Bhima menyarankan pemerintah mengambil kebijakan yang tepat dengan segera seperti mengembalikan harga BBM subsidi seperti semula.

“Dengan penurunan harga minyak mentah dunia seharusnya pemerintah segera menyesuaikan BBM jenis subsidi solar dan pertalite. Karena ini salah satu komponen menyumbang inflasi sepanjang 2022,” ujar Bhima.

Bhima menambahkan pemerintah juga perlu menjaga stabilitas harga pangan untuk bisa menekan inflasi. Utamanya menjelang Ramadan 2023, harga komoditas seperti beras dan minyak goreng harus stabil. Salah satu caranya dengan memperkuat koordinasi pemerintah pusat, daerah, dan BUMN untuk dapat mengintervensi harga pangan.(Sumber:voaindonesia.com)

 

 

Berita Terkait

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi
Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla
Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul
Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun
Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?
Kondisi Terbaru Andrie Yunus: Alami Kecemasan Berat dan Jalani Rawat Jalan Pasca-Penyiraman Air Keras
KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu
Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:14 WIB

Kebakaran Gedung Biro Kesra, Ketua DPRD Kalteng Minta Instalasi Listrik Bangunan Tua Segera Dievaluasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:09 WIB

Waspada Partikel PM2.5! Udara Tampak Jernih Tak Jamin Bebas Bahaya Karhutla

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:01 WIB

Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:40 WIB

Puluhan PNS Mura Raih Penghargaan atas Pengabdian 10, 20 hingga 30 Tahun

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:27 WIB

Menolak Fast Fashion: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Thrifting dan Pakaian Bekas?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:44 WIB

KPK Sita 3 Koper dari Rumah ASN Dinas PUPR Kota Bengkulu

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:43 WIB

Presiden Prabowo Targetkan 100.000 Sekolah Bakal Diperbaiki pada 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:40 WIB

KPK Ungkap 27 Pihak dan 313 PIHK Terima Aliran Dana Kasus Kuota Haji

Berita Terbaru