Pesan Menyejukkan Menag untuk Warga yang Berlebaran Jumat: Tetap Hormati yang Berpuasa

- Jurnalis

Jumat, 20 Maret 2026 - 07:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menag Nasaruddin Umar. (Dok. NU)

Menag Nasaruddin Umar. (Dok. NU)

1TULAH.COM-Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan pesan menyejukkan terkait adanya perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah di Indonesia.

Menag meminta seluruh umat Islam untuk saling menghormati dan menjaga toleransi, terutama terhadap warga Muhammadiyah yang merayakan Idul Fitri lebih dulu pada Jumat, 20 Maret 2026.

Pesan ini disampaikan menyusul hasil Sidang Isbat yang menetapkan bahwa hari raya versi pemerintah jatuh pada Sabtu (21/3/2026). Menag mengingatkan agar perbedaan metode ini tidak menjadi pemicu keretakan sosial.

Jaga Toleransi bagi yang Berlebaran Lebih Awal

Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Kamis (19/3/2026), Nasaruddin Umar mengimbau agar mereka yang merayakan Lebaran besok tetap menghargai saudara muslim lainnya yang masih menunaikan ibadah puasa.

“Kepada rekan-rekan kita yang mungkin akan berlebaran besok, kami mohon supaya bertoleransi terhadap saudara-saudara yang masih melanjutkan puasanya sampai 30 hari sesuai hasil Sidang Isbat,” ujar Nasaruddin.

Baca Juga :  Diduga Peras Indomaret hingga Minta Diskon Rumah 70 Persen, Bupati Gowa Jadi Tersangka Korupsi

Beliau juga menekankan bahwa status sebagai sesama warga bangsa dan pemeluk agama Islam harus jauh lebih diutamakan daripada perbedaan tanggal merah di kalender.

Alasan Perbedaan: Pemerintah (Sabtu) vs Muhammadiyah (Jumat)

Perbedaan waktu Lebaran tahun ini disebabkan oleh perbedaan kriteria dan metode perhitungan yang digunakan oleh masing-masing pihak.

1. Keputusan Pemerintah: Sabtu, 21 Maret 2026

Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu berdasarkan hasil pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia. Hasil pemantauan menunjukkan posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Dalam standar MABIMS, hilal dinyatakan terlihat jika:

  • Tinggi minimal: 3 derajat.

  • Elongasi: 6,4 derajat.

Karena posisi hilal masih di bawah kriteria tersebut, maka bulan Ramadan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Baca Juga :  Heriyus: MTQ XI Harus Jadi Momentum Mengamalkan Nilai Al-Qur’an

2. Keputusan Muhammadiyah: Jumat, 20 Maret 2026

Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat (20/3). Perbedaan ini terjadi karena Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal.

Dalam metode ini, 1 Syawal dimulai asalkan hilal sudah “wujud” atau berada di atas ufuk saat matahari terbenam, meskipun secara kasat mata belum bisa terlihat (rukyat).

Dua Pendekatan Kementerian Agama

Kemenag sendiri menggunakan dua pendekatan sekaligus dalam menentukan awal bulan hijriah guna memastikan akurasi:

  1. Hisab: Perhitungan astronomi secara matematis untuk mengetahui posisi hilal.

  2. Rukyat: Pengamatan langsung ke langit yang melibatkan tim pemantau ahli di berbagai lokasi di seluruh Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa keragaman ini adalah bagian dari dinamika fikih di Indonesia. “Jangan karena perbedaan itu membuat kita berjarak satu sama lain,” pungkasnya. (Sumber: Suara.com)

Berita Terkait

Heriyus: MTQ XI Harus Jadi Momentum Mengamalkan Nilai Al-Qur’an
Diduga Peras Indomaret hingga Minta Diskon Rumah 70 Persen, Bupati Gowa Jadi Tersangka Korupsi
DPRD Kalteng Minta Pelayanan Kesehatan di Wilayah Terpencil Diprioritaskan, Jarak Jangan Jadi Penghalang
Komdigi Pastikan Surat Pemadaman Internet Nasional 25–27 September 2026 Adalah Hoaks
Usut Pungli Rp150 Ribu dan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, Ditjenpas Jabar Turunkan Tim Khusus
Gandeng BRIN dan Ilmuwan, BPGMN Siapkan AI dan Teknologi Water Injection Cegah Karhutla
KPK Terbitkan Sprindik Baru dalam Pengembangan Kasus Fadia Arafiq
Prabowo Siapkan Anggaran dan Alat Berat untuk Cegah Karhutla
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 16:30 WIB

Heriyus: MTQ XI Harus Jadi Momentum Mengamalkan Nilai Al-Qur’an

Jumat, 25 September 2026 - 16:10 WIB

Diduga Peras Indomaret hingga Minta Diskon Rumah 70 Persen, Bupati Gowa Jadi Tersangka Korupsi

Jumat, 25 September 2026 - 13:45 WIB

DPRD Kalteng Minta Pelayanan Kesehatan di Wilayah Terpencil Diprioritaskan, Jarak Jangan Jadi Penghalang

Jumat, 25 September 2026 - 06:10 WIB

Usut Pungli Rp150 Ribu dan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, Ditjenpas Jabar Turunkan Tim Khusus

Jumat, 25 September 2026 - 05:40 WIB

Gandeng BRIN dan Ilmuwan, BPGMN Siapkan AI dan Teknologi Water Injection Cegah Karhutla

Kamis, 24 September 2026 - 20:17 WIB

KPK Terbitkan Sprindik Baru dalam Pengembangan Kasus Fadia Arafiq

Kamis, 24 September 2026 - 20:16 WIB

Prabowo Siapkan Anggaran dan Alat Berat untuk Cegah Karhutla

Kamis, 24 September 2026 - 05:54 WIB

Presiden Prabowo Instruksikan Pembentukan Tim Khusus Wujudkan Kuliah Gratis di PTN

Berita Terbaru

DPRD Seruyan memberi perhatian terhadap krisis air bersih yang dialami masyarakat akibat musim kemarau di sejumlah wilayah. Wakil Ketua I DPRD Seruyan, Harsandi, mengapresiasi langkah Pemkab Seruyan yang dinilai masif menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa terdampak.

Seruyan

DPRD Apresiasi Bantuan Air Bersih

Jumat, 25 Sep 2026 - 15:10 WIB