Cara Mengatur Haid Selama Haji dengan Obat Hormonal yang Tepat

- Jurnalis

Selasa, 6 Mei 2025 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi haji (Unsplash)

Ilustrasi haji (Unsplash)

1TULAH.COM – Mengatur jadwal menstruasi saat menjalankan ibadah haji menjadi perhatian penting bagi jemaah perempuan.

Salah satu solusi yang banyak digunakan adalah menunda haid dengan bantuan obat hormonal, agar ibadah dapat berlangsung lancar tanpa gangguan perdarahan.

Menurut dr. Cepi Teguh Pramayadi, Sp.OG(K)FER, MARS, dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RS Universitas Indonesia, obat penunda haid bekerja dengan mengubah fase siklus menstruasi agar pendarahan tidak terjadi selama masa ibadah. Obat ini biasanya mengandung hormon progesteron dan efektif jika dikonsumsi pada waktu yang tepat.

Waktu ideal untuk mulai mengonsumsi obat tersebut adalah sekitar 14 hari sebelum haid yang diperkirakan datang, yakni di pertengahan siklus haid. Aplikasi pencatat siklus menstruasi sangat membantu dalam menentukan waktu yang tepat.

Baca Juga :  Sering Pakai HP? Ini Risiko Sebenarnya yang Perlu Diketahui

Misalnya, jika haid diperkirakan datang pada 30 Mei, maka obat perlu mulai diminum sejak 16 Mei sebanyak dua kali sehari, dan dilanjutkan sampai seluruh rangkaian ibadah selesai.

Jika obat dihentikan lebih awal, risiko haid datang lebih cepat bisa terjadi. Selain itu, dalam beberapa kasus, walaupun obat sudah diminum sesuai anjuran, bisa muncul bercak darah atau spotting.

Bila ini terjadi, dosis bisa ditingkatkan menjadi tiga kali sehari sampai bercak berhenti, lalu kembali ke dosis semula.

Baca Juga :  Jaga Stamina Jelang Haji, Ini Latihan Fisik yang Dianjurkan

Spotting tidak termasuk menstruasi sehingga tidak membatalkan ibadah, karena umumnya disebabkan penipisan lapisan rahim akibat hormon.

Obat hormonal penunda haid umumnya tergolong aman, meski bisa menimbulkan efek samping ringan seperti mual atau pusing, terutama di awal pemakaian.

Efek ini biasanya tidak mengganggu aktivitas. Namun, bagi perempuan dengan kondisi medis tertentu, seperti hipertensi atau riwayat stroke, konsultasi dokter sangat disarankan.

Meski tidak dilarang bagi penderita tekanan darah tinggi, penggunaan obat tetap perlu diawasi agar sesuai dengan kondisi tubuh dan tetap aman.

Penulis : Laili R

Berita Terkait

Jaga Stamina Jelang Haji, Ini Latihan Fisik yang Dianjurkan
Sering Pakai HP? Ini Risiko Sebenarnya yang Perlu Diketahui
BNN Usulkan Larangan Vape di Indonesia, Samakan Perangkatnya dengan ‘Bong’ Sabu
Waspada! Lonjakan Kasus Campak di Indonesia Awal 2026: 58 Wilayah Berstatus KLB
Ketahui Bahaya Konsumsi Teh Susu Berlebihan
Dugaan Malpraktik RSUD Doris Sylvanus: Suyuti Syamsul Sebut Tuduhan Mudah Dipatahkan
Dugaan Malpraktik RSUD Doris Sylvanus Memanas, Suyuti Syamsul Siap Lakukan Serangan Balik ke Suriansyah Halim
Berapa Durasi Ideal Olahraga Sebelum Berbuka Puasa Saat Ramadan? Ini Penjelasannya
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 12:55 WIB

Jaga Stamina Jelang Haji, Ini Latihan Fisik yang Dianjurkan

Senin, 13 April 2026 - 22:25 WIB

Sering Pakai HP? Ini Risiko Sebenarnya yang Perlu Diketahui

Selasa, 7 April 2026 - 18:58 WIB

BNN Usulkan Larangan Vape di Indonesia, Samakan Perangkatnya dengan ‘Bong’ Sabu

Senin, 6 April 2026 - 15:33 WIB

Waspada! Lonjakan Kasus Campak di Indonesia Awal 2026: 58 Wilayah Berstatus KLB

Minggu, 5 April 2026 - 20:10 WIB

Ketahui Bahaya Konsumsi Teh Susu Berlebihan

Selasa, 24 Maret 2026 - 17:42 WIB

Dugaan Malpraktik RSUD Doris Sylvanus: Suyuti Syamsul Sebut Tuduhan Mudah Dipatahkan

Senin, 23 Maret 2026 - 16:52 WIB

Dugaan Malpraktik RSUD Doris Sylvanus Memanas, Suyuti Syamsul Siap Lakukan Serangan Balik ke Suriansyah Halim

Jumat, 20 Februari 2026 - 11:14 WIB

Berapa Durasi Ideal Olahraga Sebelum Berbuka Puasa Saat Ramadan? Ini Penjelasannya

Berita Terbaru