1TULAH.COM – Kualitas tidur memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan otak serta risiko berkembangnya demensia, sebagaimana disoroti dalam sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Neurology.
Penelitian itu mengungkapkan bahwa individu berusia 30 hingga 40 tahun yang mengalami gangguan tidur berat memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif, termasuk daya ingat kerja, kemampuan eksekutif, dan kecepatan pemrosesan informasi dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Para peneliti menyoroti pentingnya tidur nyenyak dan fase tidur REM dalam menjaga kesehatan otak. Kurangnya kedua fase tersebut dapat menyebabkan penyusutan jaringan otak yang menyerupai perubahan awal pada penderita Alzheimer.
Tidur terdiri dari empat tahap, yakni dua fase tidur ringan, tidur dalam (gelombang lambat), dan fase REM. Setiap siklus tidur berlangsung sekitar 90 menit dan berulang beberapa kali sepanjang malam.
Menurut Matthew Pase dari Monash University, tidur dalam dan REM mendukung pemulihan otak dari kelelahan dan stres, membantu konsolidasi memori, serta mengatur sistem metabolisme dan hormon tubuh.
Pada fase tidur dalam, otak membersihkan limbah, termasuk protein amiloid yang kerap dikaitkan dengan Alzheimer, sementara fase REM berfungsi mengolah emosi dan informasi yang diterima selama terjaga.
Jika proses pembersihan otak terganggu dalam jangka panjang—dikenal sebagai kegagalan glimfatik—maka risiko demensia dapat meningkat secara signifikan.
Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa durasi tidur REM yang singkat serta keterlambatan memasuki fase tersebut dapat menjadi indikator awal kemungkinan demensia.
Meskipun masih sulit menentukan apakah gangguan tidur menyebabkan demensia atau sebaliknya, para peneliti meyakini bahwa pola tidur yang buruk memperburuk penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia.
Penuaan alami sendiri memang sudah meningkatkan risiko demensia, dan pada saat yang sama turut mengganggu kualitas tidur.
Para ahli menyarankan untuk menjaga durasi tidur sekitar tujuh jam setiap malam guna memberikan kesempatan bagi otak menjalani siklus tidur yang optimal.
Konsistensi waktu tidur dan bangun, serta melakukan aktivitas otak seperti mempelajari keterampilan baru, diyakini dapat meningkatkan kebutuhan akan tidur dalam yang memulihkan.
Selain itu, olahraga teratur dan pengelolaan stres turut membantu memperlancar sirkulasi darah ke otak dan mendukung proses pembersihan internal.
Memberikan waktu istirahat yang cukup memungkinkan otak bekerja secara optimal untuk menjaga fungsi kognitif jangka panjang.
Penulis : Laili R

![Penyanyi Rossa melaporkan 78 akun medsos yang memfitnah dirinya oplas ke Bareskrim Polri, Jumat (17/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/rossa-360x200.jpg)


![Twibbon Idul Fitri 1447 H. [kolase Twibbonize]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/tiwbbon-lebaran-360x200.jpg)
![Vidi Aldiano meninggal dunia, pidato Sheila Dara viral: suami saya selamanya. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/03/vidi-aldioano-istri-360x200.jpg)


![ilustrasi penangkapan, borgol. [Envato Elements]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/golkar-tewas-225x129.jpg)

![Viral! Siswa SMAN 1 Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru, Berujung Satu Kelas Minta Maaf. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/minta-maaf-pelajar-225x129.jpg)






![ilustrasi penangkapan, borgol. [Envato Elements]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/04/golkar-tewas-360x200.jpg)








