Rupiah Melemah, DPRD Kalteng: Pengusaha Ekspor Untung, Rakyat Kecil Tercekik Harga Pokok

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 06:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah. (Istimewa)

Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah. (Istimewa)

1TULAH.COM-Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memicu dampak ganda yang berlawanan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Kondisi ekonomi ini bagai buah simalakama: memberikan keuntungan finansial bagi perusahaan ekspor berskala besar, tetapi di saat bersamaan mencekik perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah.

Fenomena tersebut mendapat sorotan tajam dari Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah. Ia menilai tingginya nilai dolar AS berpotensi melebarkan jurang ketimpangan ekonomi di daerah jika tidak diantisipasi dengan kebijakan stabilisasi yang tepat.

“Saat rupiah melemah, pendapatan perusahaan besar dan pengusahanya memang naik karena nilai dolar lebih mahal. Tapi untuk masyarakat kebanyakan, seperti petani sawit swadaya, petani pangan, nelayan, pedagang kecil, hingga pekerja harian, beban yang mereka tanggung justru makin berat,” ujar Siti Nafsiah di Gedung DPRD Kalteng, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga :  Satgas PKH Tegaskan Lahan Bekas Karhutla Dilarang Jadi Kebun Sawit, Sanksi Pidana Menanti

Biaya Produksi Pertanian dan Perikanan Melonjak

Sebagai daerah penghasil komoditas utama seperti kelapa sawit, batu bara, dan karet, Kalteng memang meraup devisa dari sektor ekspor berbasis dolar. Namun, di tingkat tapak, masyarakat justru harus menghadapi kenaikan biaya modal kerja akibat ketergantungan pada bahan baku impor.

Siti Nafsiah menjelaskan bahwa lonjakan biaya produksi menjadi pukulan telak bagi para pelaku usaha mikro dan petani mandiri:

  • Pupuk & Obat Pertanian: Harga sarana produksi pertanian membumbung tinggi karena bahan bakunya didatangkan dari luar negeri (impor).

  • Pakan Ternak & Ikan: Komponen pakan impor memicu pembengkakan biaya modal budidaya sektor perikanan dan peternakan lokal.

  • Harga Jual Tidak Seimbang: Peningkatan modal produksi ini sayangnya tidak diikuti oleh kenaikan harga jual hasil panen petani yang sepadan.

Efek Domino ke Biaya Logistik dan Bahan Pokok

Efek domino dari pelemahan rupiah juga menjalar hingga ke sektor transportasi dan distribusi logistik. Mahalnya suku cadang kendaraan angkut serta alat berat memicu kenaikan ongkos kirim barang antarpulau.

Baca Juga :  Pangdam XXII/Tambun Bungai Lantik Dandim 1020/Murung Raya dan Komandan Denzipur 16

Mengingat sebagian besar pasokan kebutuhan pokok di Kalteng masih dipasok dari luar pulau, biaya logistik yang melonjak secara otomatis mengerek harga eceran barang di tingkat konsumen akhir, terutama di wilayah pedalaman.

Komoditas bahan pokok yang terdampak antara lain:

  1. Beras dan tepung

  2. Minyak goreng

  3. Barang kebutuhan harian lainnya

“Sebagian besar barang kebutuhan kita masih didatangkan dari luar pulau, sehingga biaya logistik makin mahal. Biaya akhir yang dibayar warga otomatis makin tinggi sampai ke pelosok desa. Meskipun mereka tidak secara langsung menggunakan dolar, dampaknya sangat mereka rasakan,” pungkas Siti Nafsiah. (Ingkit)

Berita Terkait

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel
Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan
Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati
Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?
Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan
Reses Tajeri di Sei Rahayu II, Warga Sampaikan Keluhan Infrastruktur, Kesehatan, dan Pertanian
Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026
Di Balik Transaksi Rp26,1 Triliun PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Kedaulatan Ekonomi atau Pindah Tangan Oligarki Tambang?

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Reses Tajeri di Sei Rahayu II, Warga Sampaikan Keluhan Infrastruktur, Kesehatan, dan Pertanian

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:21 WIB

Di Balik Transaksi Rp26,1 Triliun PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Kedaulatan Ekonomi atau Pindah Tangan Oligarki Tambang?

Senin, 26 Oktober 2026 - 23:35 WIB

Karhutla Meluas, Baznas Kerahkan Personel ke Sejumlah Wilayah Indonesia

Berita Terbaru