Buntut Liputan Film ‘Pesta Babi’, Jurnalis Floresa di Labuan Bajo Alami Teror Fisik dan Doxing

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan aktivis Front Rakyat Indonesia untuk West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua melakukan aksi unjuk rasa bertema

Puluhan aktivis Front Rakyat Indonesia untuk West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua melakukan aksi unjuk rasa bertema "No Press Freedom in Papua" di depan pintu gerbang masuk Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta.

1TULAH.COM-Komite Perlindungan Jurnalis atau Committee to Protect Journalists (CPJ) mengecam keras aksi intimidasi dan teror yang menimpa media independen lokal, Floresa.

Serangkaian tekanan fisik maupun digital tersebut diduga kuat berkaitan erat dengan pemberitaan mereka mengenai film dokumenter kontroversial berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.

Merespons situasi ini, Direktur Regional Asia-Pasifik CPJ, Beh Lih Yi, mendesak aparat penegak hukum di Indonesia untuk segera turun tangan mengusut tuntas kasus ini demi menjamin keselamatan jurnalis dan menegakkan kebebasan pers.

“Pihak berwenang harus mengambil tindakan untuk menunjukkan bahwa jenis pelecehan ini tidak dapat diterima, dan memastikan lingkungan yang bebas dan toleran bagi pers yang sejalan dengan reputasi negara sebagai demokrasi yang dinamis,” tegas Beh Lih Yi dalam keterangan resminya yang dikutip pada Jumat (12/6/2026).

Kronologi Teror: Kepala Ayam Busuk hingga Pelemparan Telur

Berdasarkan catatan CPJ, puncak intimidasi fisik terhadap Floresa terjadi pada 5 Juni 2026. Seorang jurnalis Floresa menemukan tiga kepala ayam busuk yang sengaja diletakkan di depan kantor redaksi mereka yang berlokasi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak berhenti di situ, pada hari yang sama, kedai kopi yang dikelola oleh Floresa dan terletak tepat di samping kantor redaksi juga menjadi sasaran perusakan berupa pelemparan telur oleh orang tidak dikenal.

Baca Juga :  Malam 1 Suro 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Jadwal, Makna, dan Ragam Tradisi Sakralnya

Editor Floresa, Anno Susabun, menduga teror fisik ini merupakan buntut dari konsistensi media mereka dalam meliput film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film garapan Watchdoc tersebut mengulas secara kritis dampak proyek agribisnis terhadap kelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat adat di tanah Papua.

Ancaman Digital dan Kebocoran Data Pribadi

Sebelum teror fisik terjadi, Floresa ternyata sudah lebih dulu menerima ancaman digital. Pada 13 Mei 2026, redaksi menerima pesan teks melalui aplikasi WhatsApp dari seseorang yang mengklaim berasal dari Direktorat Tindak Pidana Siber Kepolisian Nasional.

Pesan tersebut bernada intimidatif dan melampirkan data pribadi (doxing) milik kru redaksi, termasuk:

  • Alamat rumah tinggal anggota redaksi.

  • Titik lokasi terkini (real-time location) dari para jurnalis.

Pengirim pesan misterius itu juga menuntut agar Floresa segera menghapus seluruh konten di media sosial yang memuat artikel atau pembahasan mengenai film dokumenter tersebut. Demi keselamatan dan alasan keamanan yang mendesak, sebagian tim Floresa saat ini terpaksa dipindahkan sementara dari wilayah Labuan Bajo.

Baca Juga :  Sidang Kasus Air Keras Aktivis KontraS: Dua Anggota BAIS TNI Dipecat, Hakim Perintahkan Pemusnahan Video Rekaman Kejadian

Fenomena Pembubaran Nonton Bareng Film ‘Pesta Babi’

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita sendiri telah memicu gelombang diskusi yang masif di tengah masyarakat, dengan catatan lebih dari 13 juta kali tontonan di platform YouTube.

Namun, antusiasme publik ini diwarnai oleh berbagai aksi represif. CPJ mencatat sedikitnya ada 50 dari sekitar 800 kegiatan pemutaran film dan diskusi (nonton bareng) yang digelar secara swadaya di berbagai wilayah Indonesia dibubarkan secara paksa. Sebagian besar dari aksi pembubaran tersebut dilaporkan melibatkan aparat militer.

Mengulang Pola Teror Media Nasional

CPJ menilai pola intimidasi yang dialami oleh Floresa memiliki kemiripan dengan teror yang menimpa media nasional Tempo pada Maret tahun lalu. Saat itu, kantor redaksi Tempo dikirimi paket berisi kepala babi dan bangkai tikus yang telah dipenggal, tak lama setelah mereka menerbitkan laporan investigasi kritis terkait revisi Undang-Undang TNI.

Hingga artikel ini dirilis, pihak Kepolisian Nusa Tenggara Timur maupun Kepolisian Republik Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini, meskipun CPJ menyatakan telah melayangkan permintaan komentar melalui surat elektronik. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Heri Gunawan dan Istri Kasus Korupsi CSR BI-OJK
Polda Metro Jaya Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Cengkareng Timur
Rupiah Makin Perkasa Jauhi Rp18.000 per Dolar AS pada Jumat Sore, Ini Faktor Pemicunya!
Rupiah Menguat ke Rp17.928 per Dolar AS, Harapan Damai Timur Tengah Jadi Sentimen Positif
BPB-PK Kalteng Tingkatkan Kapasitas TRC Penanggulangan Bencana melalui Bimtek Manajemen Pengungsi 2026
Gubernur Agustiar Sabran Buka Rakerda APDESI Kalteng 2026, Tegaskan Desa Kunci Kemajuan Kalimantan Tengah
Ketua Tim Pemeriksa BPK Sumsel Jadi Tersangka Kasus Suap
Raffi Ahmad Akui Hubungi Istana dan Pimpinan DPR Terkait Kasus Blueray
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:48 WIB

KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Heri Gunawan dan Istri Kasus Korupsi CSR BI-OJK

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:43 WIB

Polda Metro Jaya Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Cengkareng Timur

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:33 WIB

Buntut Liputan Film ‘Pesta Babi’, Jurnalis Floresa di Labuan Bajo Alami Teror Fisik dan Doxing

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:45 WIB

Rupiah Makin Perkasa Jauhi Rp18.000 per Dolar AS pada Jumat Sore, Ini Faktor Pemicunya!

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:54 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.928 per Dolar AS, Harapan Damai Timur Tengah Jadi Sentimen Positif

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:58 WIB

Gubernur Agustiar Sabran Buka Rakerda APDESI Kalteng 2026, Tegaskan Desa Kunci Kemajuan Kalimantan Tengah

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:30 WIB

Ketua Tim Pemeriksa BPK Sumsel Jadi Tersangka Kasus Suap

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:24 WIB

Raffi Ahmad Akui Hubungi Istana dan Pimpinan DPR Terkait Kasus Blueray

Berita Terbaru