Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Rp17.346 per Dolar AS: “Perfect Storm” Hantam Ekonomi Nasional

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS [Suara.com/Antara/Diolah menggunakan AI]

Ilustrasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS [Suara.com/Antara/Diolah menggunakan AI]

1TULAH.COM-Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menorehkan catatan kelam bagi ketahanan ekonomi nasional. Pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026), mata uang Garuda resmi menyentuh level psikologis baru yang menjadikannya titik terlemah sepanjang sejarah pergerakan nilai tukar terhadap Greenback.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs Rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,12 persen ke posisi Rp17.346 per dolar AS. Pelemahan ini secara sah melampaui rekor-rekor koreksi sebelumnya, memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar dan masyarakat luas.

Kronologi Rupiah Menembus Level Psikologis

Sepanjang jam perdagangan reguler, fluktuasi tajam sudah terasa di angka Rp17.338. Depresiasi yang terus berlanjut tanpa henti ini membawa Rupiah melompat jauh melewati ambang batas krusial Rp17.300 yang telah dipantau ketat sejak awal pekan.

Para ekonom menilai fenomena ini bukan disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan perpaduan kompleks antara masalah domestik dan dinamika global yang membentuk sebuah “badai sempurna” (perfect storm).

Faktor Eksternal: Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed

Ada dua pendorong utama dari sisi eksternal yang merontokkan ketahanan mata uang domestik:

1. Disrupsi Energi dan Harga Minyak Dunia

Eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang belum menemui titik temu berdampak langsung pada rantai pasok energi global. Per Minggu (3/5/2026), harga minyak mentah acuan dunia, Brent, melonjak liar hingga menembus US$109 per barel.

Sebagai negara pengimpor minyak murni (net oil importer), lonjakan ini melipatgandakan beban impor nasional. Korporasi domestik sektor energi terpaksa memburu dolar AS dalam jumlah besar untuk membiayai impor, yang pada akhirnya menyedot likuiditas valuta asing di dalam negeri.

Baca Juga :  DPRD Kalteng Puji Kinerja Pelayanan Publik di Gunung Mas: Pajak Kendaraan dan Perbankan Tumbuh Positif

2. Sinyal “Hawkish” dari Federal Reserve

Pasar global saat ini tengah mencermati pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Konsensus memprediksi Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama (higher for longer). Kebijakan hawkish ini memicu eksodus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang menuju Amerika Serikat, memperkasa indeks dolar dan menekan mata uang lokal.

Perbandingan Mengejutkan: Rupiah di Bawah Zimbabwe dan Nigeria

Data menunjukkan performa Rupiah selama setahun terakhir hingga April 2026 menunjukkan alarm bahaya. Kinerja mata uang Indonesia tercatat lebih buruk dibandingkan beberapa negara emerging markets lainnya:

  • Rupiah vs Zimbabwe Gold (ZiG): Terpuruk sekitar -9,6%.

  • Rupiah vs Naira Nigeria (NGN): Merosot tajam -17,7%.

Fakta ini cukup memukul sentimen pasar. Pasalnya, ZiG merupakan mata uang baru (April 2024) yang dijamin cadangan emas, sementara Naira Nigeria berhasil menguat berkat kebijakan pengetatan pasokan valas yang agresif di internal mereka.

Faktor Domestik: Sentimen Pesimis dan Cadangan Devisa yang Menguap

Dari dalam negeri, para investor mulai meragukan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menggarisbawahi beberapa poin kritis:

  • Kebijakan Bank Indonesia: Pasar merasa pesimis dengan keputusan BI yang menahan suku bunga acuan di tengah desakan pengetatan.

  • Belanja Pemerintah: Belum adanya langkah strategis untuk memangkas anggaran belanja sektor non-prioritas.

  • Penyusutan Cadangan Devisa: Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 anjlok ke US$148,2 miliar.

Baca Juga :  Megawati Kritik Keras Sidang Militer Kasus Air Keras Aktivis KontraS: "Hukum Jangan Poco-Poco!"

Terjadi evaporasi cadangan devisa sebesar US$8,3 miliar jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu (US$156,5 miliar). Penurunan ini disebabkan oleh upaya Bank Indonesia melakukan intervensi pasar guna menahan volatilitas Rupiah.

Respons Otoritas: Rupiah Dinilai “Undervalued”

Meski cadangan devisa menurun, posisi US$148,2 miliar tersebut secara makro masih setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor. Angka ini masih berada di atas standar minimal internasional (3 bulan impor), sehingga Indonesia dinilai belum masuk ke jurang krisis likuiditas akut.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa jajarannya akan terus hadir di pasar untuk melakukan intervensi terukur. Perry juga menyatakan bahwa secara fundamental, nilai tukar Rupiah saat ini sudah masuk kategori undervalued atau berada jauh di bawah nilai wajar yang semestinya.

Tantangan ekonomi Indonesia di kuartal kedua tahun 2026 ini sangat berat. Diperlukan sinergi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan investor dan menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Mencekam! Penembakan Membabi Buta di Coldharbour Lane Brixton, 4 Orang Jadi Korban
Bukan Sekadar Saran Teknis, Prof. Suparji Sebut Rekomendasi Konsultan Chromebook Fatal secara Hukum
Megawati Kritik Keras Sidang Militer Kasus Air Keras Aktivis KontraS: “Hukum Jangan Poco-Poco!”
Book of Dead Slot: Avventura di Spin Veloce per Vincite ad Alta Intensità
Video Amien Rais Soal Presiden Prabowo Dihapus Usai Dicap Hoaks, Pemerintah Ingatkan Sanksi UU ITE
Avia Masters Crash Game: Fast‑Paced Rides for Quick Wins
Wonaco Casino: Emozioni in Quick‑Play per Sessioni Brevi e ad Alta Intensità
Chicken Road: Quick‑Hit Crash Gaming for the Fast‑Paced Player
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:01 WIB

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Rp17.346 per Dolar AS: “Perfect Storm” Hantam Ekonomi Nasional

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:21 WIB

Mencekam! Penembakan Membabi Buta di Coldharbour Lane Brixton, 4 Orang Jadi Korban

Minggu, 3 Mei 2026 - 05:58 WIB

Bukan Sekadar Saran Teknis, Prof. Suparji Sebut Rekomendasi Konsultan Chromebook Fatal secara Hukum

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:09 WIB

Book of Dead Slot: Avventura di Spin Veloce per Vincite ad Alta Intensità

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:59 WIB

Video Amien Rais Soal Presiden Prabowo Dihapus Usai Dicap Hoaks, Pemerintah Ingatkan Sanksi UU ITE

Sabtu, 2 Mei 2026 - 09:41 WIB

Avia Masters Crash Game: Fast‑Paced Rides for Quick Wins

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:53 WIB

Wonaco Casino: Emozioni in Quick‑Play per Sessioni Brevi e ad Alta Intensità

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:47 WIB

Chicken Road: Quick‑Hit Crash Gaming for the Fast‑Paced Player

Berita Terbaru